Kisah Para Survivor Kanker dari Fuda Cancer Hospital, Guangzhou Kehilangan Payudara, Marliah Masih Punya Busa



Kanker-Payudara

Marliah Sukran, Sri Suriani, dan Lim Sjak Fa diundang menghadiri acara International Forum on Cancer Treatment di Guangzhou, Tiongkok, 25-26 Mei lalu. FOTO: MAYA APRILIANI/JAWA POS

Beberapa orang yang divonis menderita kanker berhasil sembuh setelah menjalani pengobatan di Fuda Cancer Hospital, Guangzhou, Tiongkok. Kini mereka memotivasi pasien lain agar kuat menghadapi penyakit mematikan itu. Berikut laporan MAYA APRILIANI yang ikut ke Guangzhou.

Sekilas tidak ada yang “aneh” pada diri Marliah Sukran. Seperti perempuan kebanyakan, penampilannya feminin. Tutur katanya lembut. Dia juga lincah dan punya rasa percaya diri tinggi. Namun, siapa sangka Marliah ternyata menyimpan rahasia besar. Dia kehilangan salah satu bagian tubuh yang berharga: payudara.

Delapan tahun sudah Marliah kehilangan payudara kirinya karena kanker. Meski begitu, penampilannya tetap menawan.

Tidak terlihat bahwa salah satu payudaranya telah hilang. “Disulap supaya seimbang. Kalau nggak, nanti jalannya jadi miring,” ujar perempuan yang tinggal di Samarinda, Kalimantan Timur, tersebut, lantas tertawa.

Trik yang dilakukan Marliah sederhana. Dia tidak menjalani operasi rekonstruksi payudara dengan silikon seperti artis Angelina Jolie. Caranya, Marliah mengganjal bagian tubuhnya yang hilang dengan busa.

Dia didiagnosis menderita kanker payudara pada akhir 2004. Ibu dua anak itu memutuskan untuk berobat ke alternatif. “Kankernya masih ada, tambah besar stadiumnya,” ungkap perempuan 45 tahun itu.

Marliah kemudian pergi ke dokter. Kondisi payudara kirinya mengeras, mengecil, dan putingnya masuk. Dokter menyatakan, kanker Marliah sudah stadium 3B. Pilihannya adalah operasi. “Sebelum operasi, saya minta berangkat haji dulu. Jika memang saya harus “diambil” saat operasi itu, saya sudah siap,” kenangnya.

Sepulang dari ibadah haji bareng suami, Marliah mencari referensi rumah sakit untuk operasi. Pilihan jatuh ke Fuda Cancer Hospital, Guangzhou, Tiongkok. Rumah sakit itu memiliki metode cryo atau teknik pembekuan sel kanker. Marliah pun menjalani operasi di sana.

Bersama sang suami, Marliah melakoni perawatan pascaoperasi selama tiga bulan di Fuda. Dia pindah kamar perawatan empat kali. Mulai ruang VIP sampai kelas II. Kelas kamar diturunkan tidak hanya karena kondisi Marliah yang makin sehat, tapi juga menyesuaikan kemampuan finansial.

“Saya sempat kehabisan uang. Saya telepon bos minta dikirimin uang. Kebetulan bos saya baik sekali,” tutur Musianto, suami Marliah. Selama tiga bulan perawatan sang istri, Musianto mengaku menghabiskan dana lebih dari Rp 200 juta.

Marliah harus menjalani kemoterapi tujuh kali. Treatment itu membuat rambutnya rontok. Kali pertama kemoterapi jadwalnya sebulan sekali, kemudian menjadi dua bulan sekali, hingga enam bulan sekali. Terakhir setahun sekali. Dia juga harus menjalani penyinaran selama 24 seri. Pada 2007 Marliah dinyatakan bersih dari kanker. “Untuk menjaga agar sel tidak kambuh lagi, saya tingkatkan imun melalui immunotherapy,” katanya.

Semangat yang sama ditunjukkan Sri Suriani, survivor kanker rahim yang kini berusia 78 tahun. Meski usianya sudah kepala tujuh, nenek delapan cucu itu masih kuat berjalan jauh. Sri tidak pernah mengeluh kelelahan meski melakoni banyak kegiatan seharian.

Perempuan kelahiran Palembang, Sumatera Selatan, tersebut divonis menderita kanker pada 2006. Dia merasa dirinya tidak beres ketika tiba-tiba mendapat datang bulan. “Itu hal mustahil. Usia saya 71 tahun, sudah menopause, mana mungkin haid,” katanya.

Ketidakberesan tersebut menuntun Sri menemui dokter di Amerika Serikat (AS). Kebetulan waktu itu Sri tinggal di Negeri Paman Sam. Dokter menyatakan Sri menderita kanker rahim stadium tiga! Tidak ada pilihan lain selain harus operasi.

Sri tidak langsung memenuhi advice tersebut. Dia pergi ke dokter lain. Total tiga dokter dia kunjungi. Hasilnya sama. “Empat dokter angkat tangan. Mereka mengatakan saya harus operasi,” ujarnya.

Sri memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Dia ingin mati di negeri sendiri. Setiba di Jakarta, Sri berubah pikiran. Dia ingin berobat lagi. Pilihannya adalah Tiongkok. Awalnya dia menjajal pengobatan tradisional.

Suatu ketika Sri mendapat informasi tentang pengobatan kanker tanpa operasi di Fuda Cancer Hospital. “Saya datang ke Fuda sendirian. Hanya bawa pakaian tiga setel. Pakai sandal harga Rp 10 ribuan yang sudah dijahit,” kenangnya.

Meski datang seperti orang “hilang”, Sri mendapat pelayanan maksimal. Hal yang diinginkannya terkabul. Dia tidak dioperasi. Kankernya hilang dengan teknik pembekuan. “Sekarang saya benar-benar sembuh. Hasil USG menunjukkan tidak ada kanker lagi di badan,” katanya. Kini Sri menikmati hidup dengan bahagia. Dia bisa menjalani hobi dance dan senam taiji.

Lain lagi cerita Judi Willianto. Pria 67 tahun itu menjalani operasi pada 2008. Dia harus merelakan organ vitalnya tersebut dipotong sepertiga atau sekitar 20 sentimeter!

Yudi termasuk pasien yang kuat. Dia sudah tahu kena kanker pada 2002. Tapi, dia tenang-tenang saja. Yudi tidak bingung karena saudara dan orang tuanya juga kena kanker. Hingga akhirnya, dia batuk dan muntah darah. “Jika pembuluh darah tdak pecah dan muntah darah, saya tidak ke rumah sakit,” katanya.

Karena terlambat dalam penanganan, Yudi harus menjalani operasi besar. Kini, setelah lima tahun berlalu, tubuhnya kembali fit. Paru-parunya kembali berfungsi normal.

Kisah sukses Marliah, Sri, dan Yudi membuat mereka diundang Fuda Cancer Hospital ke Guangzhou untuk berbagi pengalaman kepada pasien lain. Mereka siap membantu orang-orang yang terkena kanker supaya mendapat pengobatan tepat. (*/c10/ca)



Komentar Pembaca

komentar