Warga di Perbatasan Suriah-Lebanon Terjebak Akibat Perang



PERANG sengit antara pasukan Presiden Bashar Al Assad dan pejuang oposisi Suriah terus berlangsung di Kota Qusair, dekat perbatasan Lebanon, Minggu (2/6). Akibatnya, ribuan orang warga sipil terjebak di tengah perang yang telah berlangsung beberapa lama itu.

PBB dan Palang Merah Internasional (ICRC) telah mendesak agar akses menuju wilayah tersebut dibuka. Ini dimaksudkan agar pengiriman bantuan kemanusiaan bisa segera dilakukan. Tentara pemerintah dan pejuang oposisi terlibat pertempuran sengit untuk memperebutkan kontrol atas wilayah strategis tersebut. Situasi itu mengakibatkan persediaan obat, makanan, dan minuman menjadi sangat terbatas.

Dalam pernyataan tertulis, ICRC mengungkapkan kekhawatiran atas nasib ribuan warga sipil yang terjebak di Qusair. Lembaga itu berencana masuk ke kota tersebut secepatnya untuk mengirimkan bantuan.

“Warga sipil dan korban luka menghadapi risiko yang lebih besar jika perang berlanjut,” jelas Kepala Operasi ICRC Timur Tengah Robert Mardini.

Kantor sekretaris jenderal (Sekjen) PBB juga telah meminta pihak-pihak yang berseteru agar menahan diri dan membuka akses bagi warga sipil untuk mengungsi. Menurut PBB, kedua pihak bisa saja dianggap melanggar hukum internasional jika terbukti sengaja mengorbankan warga sipil.

Reporter BBC melaporkan bahwa kondisi di Qusair saat ini begitu mengkhawatirkan. Perang kian memanas sejak bulan lalu setelah Hizbullah, kelompok militan Lebanon yang didukung Iran, bergabung dengan tentara loyalis Assad. Pada saat bersamaan, kelompok militan Suni dari sejumlah negara juga menyeberang ke  Suriah untuk berjuang bersama oposisi.

Qusair, yang terletak sekitar 10 kilometer dari garis perbatasan dengan Lebanon, merupakan jalur utama pengiriman logistik dan rute penyelundupan senjata menuju  Suriah. Kota itu juga dekat dengan jalan utama yang menghubungkan Homs-Damaskus, dua kota utama yang menjadi pusat pergolakan dua kubu selama ini.

Sementara itu, Sabtu lalu (1/6) ulama Islam yang berpengaruh Yusuf al-Qardawi menyerukan kepada seluruh Muslim Suni di Timur Tengah untuk bergabung dengan kelompok oposisi  Suriah guna melengserkan Assad. Di depan ribuan massa di Doha, Qatar, dia menyatakan bahwa Iran dan Hizbullah, sekutu utama Assad, berupaya menghancurkan komunitas Suni.

Aktivis dari lembaga pemantau Syrian Observatory for Human Rights mengungkapkan bahwa tentara Assad telah memperkuat diri di Qusair untuk melancarkan serangan berikutnya. Sebanyak 15 tank militer pemerintah dikerahkan ke kota tersebut. “Tentara rezim Assad terus memperkuat basis yang mereka kuasai di sekitar Qusair, termasuk Bandara Dabaa dan Jawadiya,” ungkap jubir SOHR.

Dari markas PBB di New York, Rusia dilaporkan kembali menjegal pengajuan “deklarasi status darurat‚” atas Kota Qusair. Deklarasi DK PBB yang diusulkan Inggris itu berisi keprihatinan atas situasi terakhir di Qusair.

Terutama, dampaknya terhadap  warga sipil. Deklarasi status darurat seperti itu harus disetujui oleh 15 negara anggota DK PBB dengan suara bulat.

Diplomat Rusia menyatakan alasan penolakan tersebut. Sebab, PBB tidak memberlakukan hal yang sama saat Qusair baru direbut dan dikuasai oposisi  Suriah.

Sekitar 1.500 orang diperkirakan terluka di Qusair dan butuh perawatan medis. PBB dan ICRC mendesak kedua pihak untuk memberikan akses kepada para korban untuk dievakuasi.

“Kami juga telah menerima laporan bahwa warga sipil terus menjadi target serangan secara membabi buta. Itu merupakan pelanggaran HAM kategori berat sehingga hukum kemanusiaan internasional bisa diberlakukan,” tegas Komisioner Tinggi HAM PBB Navi Pillay. (CNN/BBC/jpnn)



Komentar Pembaca

komentar