Deteksi Dini Kanker Payudara



mammo

ilustrasi

Kanker payudara jadi salah satu penyakit menakutkan bagi wanita. Mammografi, deteksi dini kanker payudara membantu tindakan pengobatan lanjutan yang tepat.

Berdasar data dari organisasi kesehatan dunia WHO (World Health Organization), merujuk pada hasil penelitian kanker, bawha  kanker payudara adalah jenis kanker yang paling sering didiagnosis di kalangan perempuan. Kanker ini juga dilaporkan merupakan penyebab kematian paling sering  pada wanita di negara maju dan berkembang.

Di negara berkembang, sebagian besar perempuan didiagnosa menderita kanker payudara tidak bertahan karena kanker mereka terlambat terdeteksi. Tingkat kelangsungan hidup yang rendah di negara-negara berkembang terutama karena keterlambatan diagnosis dari sebagian besar kasus kanker yang terjadi. Maka itu, diperlukan suatu bentuk kesadaran diri pada wanita sekaligus tindakan preventif yang sekiranya dapat meminimalisir ancaman menakutkan bagi kaum hawa tersebut. Salah satunya, melalui pemeriksaan mammografi atau USG (Ultrasonografi) Mammae untuk mendeteksi dini kanker payudara.

Menurut dr Siswinarti SpRad, Spesialis Radiologi RS Awal Bros Batam, Mammografi adalah metode pemeriksaan payudara dengan menggunakan sinar X untuk mendeteksi ada atau tidaknya massa atau tumor atau pembesaran kelenjar getah bening di ketiak. Sedangkan USG Mammae adalah metode untuk mendeteksi dengan menggunakan gelombang suara.

”Kedua metode ini sebenarnya bisa saling melengkapi,” ujar dr Siswinarti ketika dijumpai Tim Womaniesta Batam Pos di ruang kerjanya di lantai dasar RS Awal Bros Batam, kemarin.

Pada wanita usia 40 tahun ke atas, dimana kelenjar payudaranya tergantikan dengan kelenjar lemak, maka jika ada lesi (sesuatu yang tidak normal) akan tampak pada mammografi. Namun pada wanita dengan usia di bawah 40 tahun, dimana kelenjar payudaranya masih padat, maka keberadaan lesi sering tidak tampak jika hanya lewat mammografi. Karenanya, diperlukan pemeriksaan USG Mammae untuk melengkapinya.

Jika hasil pemeriksaan terdeteksi adanya benjolan, kata dr Siswinarti, harus dibedakan apakah benjolan tersebut padat atau kista. Lagi-lagi, pemeriksaan ini dapat dibuktikan dengan USG Mammae. Jika padat, kemudian dibedakan lagi berdasar kriteria, dicurigai ganas atau jinak. Seumpama sudah terbukti adanya sel benign (jinak), biasanya tidak dibutuhkan biopsi atau pemeriksaan jarum halus dari patologi anatomi. Selain itu, jika secara kriteria jinak maka tidak perlu lagi pemeriksaan lebih lanjut. Kecuali, jika menimbulkan keluhan penekanan atau rasa sakit ke organ lain di sekitarnya.

”Atau ada yang merasa secara estetik (kecantikan) itu mengganggu, biasanya nanti dokter bedah yang memutuskan apakah akan dioperasi atau bagaimana,” ujarnya.

Tapi jika secara kriteria ganas, maka pemeriksaan lanjutan untuk menunjang keabsahan hasil tersebut diperlukan. Salah satunya dengan jarum halus untuk mengambil sel yang dicurigai ganas itu lewat pemeriksaan patologi anatomi. Kalau kemudian dinyatakan ganas, akan ada penentuan stadium (tingkat penyebaran kanker) dan pasien akan dirujuk ke dokter bedah.

Sebenarnya, Mammografi dan USG Mammae bukan satu-satunya cara mendeteksi tumor atau kanker payudara. Ada juga cara manual dan sederhana yang bisa dilakukan sendiri untuk mendeteksi adanya kelainan di payudara. Salah satunya lewat Sarari atau Sadari, kependekan dari pemeriksaan payudara sendiri. Tujuan dari pemeriksaan ini adalah untuk membantu wanita melakukan deteksi dini adanya kelainan pada payudara. Jika mengikuti prosedur dan mendapati ada benjolan atau kelainan di payudara, bisa jadi ada gangguan terjadi di payudara.

Merujuk pada buku panduan melakukan Sarari yang ditulis oleh Suddarth & Brunner, pilihan waktu yang tepat untuk melakukan Sarari adalah antara hari ke 5–10 dari siklus menstruasi dengan menghitung hari pertama haid sebagai hari pertama. Wanita pascamenopause dianjurkan untuk memeriksa payudaranya pada hari pertama setiap bulan untuk meningkatkan rutinitas pemeriksaan payudara sendiri. Namun, efektivitas pemeriksaan ini belum tentu hasilnya akurat. ”Tidak mesti benjolan yang dapat diraba itu kanker. Dan sebaliknya, adanya kanker belum tentu bisa diraba,” katanya.

Karenanya, pemeriksaan lebih lanjut yang akan menentukan hasil yang sebenarnya. Jika sadar lebih awal, maka peluang dilakukan pengobatan hingga tuntas masih terbuka. Sebaliknya, jika lambat disadari dan telah sampai pada stadium lanjut, pengobatan jadi makin sulit dilakukan.

”Banyak pasien yang datang sudah terlambat, maka penanganannya juga susah,” katanya. (ratna irtartik)



Komentar Pembaca

komentar