Erma Yudiawati, Wanita Produser Pertama di Batam



Sosok Erma Yudiawati sebelumnya dikenal sebagai konsultan pajak di Batam. Bersama sang suami, Sunadi, mereka bukanlah orang baru di dunia manajemen dan konsultan pajak. Namun, beberapa waktu terakhir ini nama Erma kembali disebut-sebut. Kali ini, bukan lagi sebagai konsultan pajak, melainkan produser sebuah film nasional yang diproduksi dan digarap di Batam berjudul True Heart.

Erma Yudiawati

Erma Yudiawati

Mengisahkan tentang perjuangan remaja yang ingin terbebas dari belenggu narkoba, film ini sempat ditayangkan di beberapa bioskop di Batam dan juga serentak di bioskop lain di tanah air. Di Batam, setelah diluncurkan pada awal Februari lalu, antusiasme penonton terlihat cukup tinggi. Namun, gempuran film Hollywood yang begitu banyak membombardir pada periode yang sama akhirnya membuat jadwal tayang film ini hanya bertahan sekitar satu hingga dua minggu.

Meski kurang memuaskan dari segi rating, namun usaha Erma untuk berkiprah di industri film nasional patut diacungi jempol. Betapa tidak, sebagai wanita Batam pertama yang menjadi produser sebuah film, Erma tak hanya melulu berbicara soal pendapatan yang bisa didulang dari film yang dia buat, melainkan juga aspek lain dari karya itu sendiri.

”Saya ingin membuat sesuatu yang bernilai,” kata Erma ketika dijumpai Tim Womaniesta Batam Pos di kantornya, Komplek Ruko Permata Niaga Sukajadi, Batam.

Dari film True Heart, ibu tiga orang anak ini berharap agar para penontonnya lebih sadar dan peka terhadap bahaya narkoba yang mengancam. Selain itu, dengan adanya cinta dan kasih sayang maka sejatinya itu akan berguna bagi keluarga, sahabat, atau teman dekat untuk dapat menjauhi atau melepaskan diri dari jeratan barang haram tersebut. ”Saya berpikir untuk menyajikan suatu tontonan yang punya misi, yakni film yang bernilai. Itu berarti kita sudah ikut berkontribusi. Prinsip saya, jangan bertanya apa yang sudah kita dapatkan, tapi tanyakan apa yang sudah kita berikan,” kata dia.

Dari filosofi itulah dia kemudian nekat nyemplung ke industri film tanah air yang tantangannya juga tak mudah. Dikatakan Erma, kendala yang dihadapi cukup berat. Sebagai produser baru, dia harus cepat belajar secara otodidak bagaimana memproduseri sebuah film. Terlebih, untuk kategori film yang digarap dengan kualitas sekaliber film layar lebar membutuhkan perangkat serta profesionalisme kerja yang memadai.

Namun, membuat film dari daerah dengan kualitas memadai ternyata tak gampang. Pasalnya, Batam bukan tempat yang biasa dijadikan lokasi syuting layaknya Jakarta, Bandung, Bali atau kota besar lainnya di tanah air. Sehingga, kesulitan yang dihadapi kru film mulai dari penyewaan peralatan atau properti yang digunakan hingga urusan perizinan harus juga ditangani langsung oleh produser.

”Meski ibaratnya saya sudah membayar mereka (kru pembuat film) tapi nyatanya saya juga yang harus turun tangan. Mereka rata-rata dari Jakarta, terus ketika mau memakai properti atau mengurus ini-itu banyak yang belum tahu harus cari kemana. Dan di Batam itu pinjam properti susah, mau tidak mau saya juga yang harus berpikir dan ikut pontang-panting, pinjam sana-sini,” kenang Erma.

Belum lagi, ketika harus mempromosikan film. Selain aspek finansial yang harus memadai, Erma juga dituntut harus belajar teknik memasarkan sebuah film.

”Ternyata, untuk membuat film ditonton sekian banyak orang itu perlu trik dan pendanaan yang tidak sedikit. Dan saya baru tahu ketika terlibat di sini,” kata Erma.

Sederet tantangan telah dia hadapi namun Erma mengaku tak pernah surut ke belakang. Tekad dan semangatnya untuk mewujudkan film berkualitas mendorongnya untuk tetap menyelesaikannya. ”Tapi saya pantang menyerah, apapun hasilnya saya tetap berinisiatif dan berusaha. Saya berprinsip enggak akan mundur, sesulit apapun akan dijalani,” tekad Erma.

Kini, dia tetap menawarkan ke beberapa instansi, lembaga dan sekolah untuk nonton bareng. “Itulah keuntungan film yang ada nilai edukasinya. Jika tak lagi di bioskop, masih bisa  dijadikan tontonan kalangan lain seperti dari sekolah-sekolah,” katanya. (rna)



Komentar Pembaca

komentar