Minuman Kaleng Kedaluarsa Beredar di Batam



BATAM (BP) – PT S, distributor minuman ringan merek S diduga telah mengedarkan 20.000 case (kotak berisi 24 kaleng) minuman kedaluwarsa. Pihak distributor diduga mengganti tanggal masa habis berlaku dengan cara dicetak ulang. 20.000 case minuman asal Malaysia itu, kini beredar luas di Batam, Karimun, dan Bintan. ”Paling banyak beredar di Pulau Bintan,” ungkap salah satu sumber perusahaan yang enggan disebutkan namanya.

Minuman-Kaleng

Ilustrasi

Menurutnya, perusahan yang berada di Jalan Kerapu, Komplek MCP Industrial Park, Batuampar itu kelebihan 20.000 case minuman yang telah kedaluwarsa. ”Expirenya (kedaluwarsa) bulan Mei 2012, sehingga tidak bisa diedarkan lagi,” ungkapnya.

Untuk mengantisipasi kerugian, perusahaan menghapus label kedaluwarsa yang ada di belakang minuman kaleng menggunakan tinner. ”Setelah label lama terhapus kemudian diganti dengan tanggal baru menjadi bulan Desember 2013,” ujarnya.

Bulan dan tahun kedaluwarsa minuman yang telah diubah tersebut tidak jauh berbeda dengan cetakan lama. “Karena pencetakannya menggunakan mesin,” bebernya.

Kasus tersebut telah dilaporkan ke Polresta Barelang, namun hingga kini belum ada penindakan. “Satu hari sempat tutup, namun buka kembali,” ujarnya.

Manajer PT S, Amat Lim saat dikonfirmasi lewat ponselnya, mengaku akan menjelaskan permasalahan. ”Nanti akan saya jelaskan,” janji Amat Lim, kemarin.

Setelah ditunggu beberapa lama, Amat Lim malah menghindar dan enggan memberikan komentar. Telepon serta pesan singkat yang dikirim ke ponselnya tidak dibalasnya lagi.

Ketika didatangi ke kantornya, salah satu stafnya bernama Wati mengatakan, Amat Lim sedang berada di luar kantor. ”Bapak di luar, kalau mau bertemu nanti saya jadwalkan,” ungkapnya.

Kasat Reskrim Polresta Barelang, Kompol Ponco pun tidak bisa dihubungi ketika dikonfirmasi melalui telpon selularnya.

Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makan (BPOM) di Batam I Gusti Ayu Adhi Aryapatni saat dimintai keterangannya, mengatakan, mengganti bulan dan tahun kedaluwarsa pada makanan atau minuman merupakan tindak pidana. Untuk kasus temuan di PT S, I Gusti mengaku akan melakukan penyelidikan lebih lanjut.

“Kita akan telusuri kebenarannya di lapangan,” janji I Gusti Ayu Adhi Aryapatni, kemarin.
I Gusti mengatakan, bulan dan tahun kedaluwarsa pada makanan maupun minuman adalah jaminan produsen terhadap konsumen.

”Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan produsen terhadap barang yang akan diedarkannya,” ungkapnya lagi.
Katanya, pencetakan kedaluwarsa suatu barang bisa dilakukan oleh produsen, bukan distributor.

”Distributor hanya dapat mengedarkan barang yang akan dijualnya saja,” ungkapnya lagi.(hgt)



Komentar Pembaca

komentar