BAGIKAN

batampos.co.id – Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Batam memperkirakan sekitar 18.351 siswa mulai tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) sederajat, tidak tertampung atau tidak mendapatkan kursi untuk tahun ajaran 2015/2016 ini.

Prediksi itu, berdasarkan jumlah tamatan di jenjang sekolah lebih rendah dikurangi lulusan sekolah di jenjang yang lebih tinggi. Misalnya, jumlah tamatan TK dikurangi jumlah lulusan SD, dan seterusnya.

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Batam, Muslim Bidin menjelaskan, untuk tingkat SD/MI sederajat diperkirakan ada 9.461 siswa yang yang tak tertampung, SMP/MTs sederajat 5.099 siswa, sedangkan tingkat SMA/MA/SMK berjumlah 3.791 siswa.

”Kita sudah gambarkan dan kita lihat tidak berimbang lagi antara yang keluar dengan yang masuk,” kata Muslim.

Namun, untuk mengatasimasalah tersebut, Disdik masih akan menggunakan cara lama, yakni dengan menambah jumlah murid di setiap kelasnya dan pemberlakuan sekolah double shift  atau dua tahap dalam sehari, serta menambah ruangan kelas baru.

”Kami akan nambah rasio perkelas dari 40 maksimal jadi 45 siswa perkelas. Itu salah satu langkah yang kami lakukan,” ujarnya.Muslim mengakui, hal tersebut tidak ideal.

”Memang yang ideal lokal akademik 25 siswa saja, sedangkan SMA atau SMK 36 siswa sudah maksimal sekali,” jelasnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, pemberlakuan double shift juga masih dilakukan, walau sebenarnya tidak layak lagi.

”Kalau kita mengacu pada kurikulum 2013 sudah tidak layak lagi, salah satunya karena suasananya pasti sudah beda. Pagi kan lebih fresh,” imbuhnya.

Dia mengungkapkan, sekitar 85 persen sekolah di Batam menggunakan double shift. Menurutnya tidak ada pilihan lain lagi, hal itu dilakukan untuk memastikan anak-anak tetap sekolah.

“Pilhannya anak tidak sekolah atau anak sekolah tapi dengan kondisi seperti itu,” bebernya.

Muslim menambahkan, persoalannya terletak pada cara pandang masyarakat yang menjadikan sekolah negeri sebagai pilihan utama.

”Kita harapkan kepada orangtua siswa yang mampu secara finansial, arahkan anaknya ke sekolah swasta. Biar sekolah negeri sebagian dapat di sekolah negeri,” harapnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, dua puluh persen kuota Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SD, SMP, maupun SMA harus diberikan kepada masyarakat miskin, warga sekitar sekolah, serta siswa berprestasi non akademis.

Kuota tersebut harus dijalankan secara transparan, diumumkan seperti halnya PPDB Online.

”Sekitar 20 persen diambil dari jalur khusus. Sepuluh persen pelajar miskin (kurang mampu), lima persen pelajar yang berasal dari warga sekitar sekolahan, lima persen lagi pelajar yang berprestasi non akademik,” kata Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kota Batam, Muhamad Yunus, beberapa waktu lalu. (bpos)

Komentar Pembaca

komentar