Jaksa Periksa Pejabat BP Batam terkait Dugaan Korupsi di Bandara Hang Nadim



 

ilustrasi foto: dalil harahap / batampos

ilustrasi
foto: dalil harahap / batampos

BATAM (BP) - Kejari Batam bergerak cepat melakukan penyelidikan kasus dugaan korupsi pengadaan genset dan lampu runway Bandara Hang Nadim. Bahkan sudah ada pejabat BP Kawasan Batam yang diperiksa. Bisa jadi pejabat yang sudah diperiksa ini akan jadi tersangka. Ini karena Kejari akan meningkatkan status menyelidikan kasusnya ke penyidikan. “Semua tim kemarin sudah rapat dan sudah diputuskan bahwa kasus ini akan ditingkatkan ke tahap penyidikan,” kata Yusron, Kajari Batam, Selasa (7/1) lalu.

Direktur PTSP dan Humas Badan Pengusahaan Batam Dwi Djoko Wiwoho membenarkan adanya pejabat BP Batam yang diperiksa jaksa Kejari Batam. “Setahu saya sudah pernah ada yang dimintai keterangan terkait proyek tersebut. Tetapi biarlah kejaksaan yang bicara masalah itu,” katanya.

Menurut Djoko, kasus pengadaaan genset dan lampu runway Hang Nadim itu sudah diusut Kejari sejak 2012 lalu. Meski demikian, Djoko tidak bersedia menyebutkan siapa orang atau oknum yang dimaksud. Ia menyerahkan sepenuhnya terhadap Kejaksaan Negeri Batam.

Djoko mengakui semua pihak harus menghormati proses hukum yang berlaku. Dan berharap semua pihak tidak boleh langsung menghakimi sesuatu hal sebelum terbukti di pengadilan. “Kami tetap menghormati proses hukum yang berlaku.

Saya tidak bisa bicara banyak terkait hal tersebut,” katanya. Sementara itu, salah satu staf bandara Hang Nadim yang ditemui Batam Pos, kemarin mengaku, awal mula Kejari mengusut dugaan korupsi genset dan lampu runway tersebut akibat ada salah satu oknum pegawai di bandara yang merasa iri dengan salah seorang staf di bandara yang memperoleh proyeknya. “Jadi karena merasa iri maka teman kita tadi itu ngoceh ke media dan diteruskan pihak Kejari,” terang pria yang selalu ramah kepada wartawan tersebut.

“Saya tidak ada kepentingan di sini, karena saya memang tidak terlibat sama sekali. Saya mau ungkap ini tapi saya minta jangan sebutkan nama saya,” pintanya, Rabu (8/1).

Dia mengaku, khusus dugaan korupsi genset, sedikit banyak ia mengerti. Menurutnya hal tersebut tidak benar, pasalnya mesin genset yang ada memang benar-benar produk baru dan bukan bekas.

“Memang ketika genset itu tidak hidup saat listrik PLN padam. Hal ini bukan karena gensetnya yang rusak atau seken, tetapi ini murni disebabkan faktor eksternal yaitu bersumber dari breaker induk MCCB 700 amper yang rusak. Breaker induk ini rusak karena memang sudah tua, pengadaannya saja tahun 1985 lalu. Fungsi utamanya adalah sebagai switch on/off dari dan ke genset jika listrik PLN padam,” bebernya.

Dia mengungkapkan, total genset di bandara kini ada 4 unit. Tiga genset berkapasitas di bawah 200 KVA, sementara genset yang baru itu berkapasitas 750 KVA.

“Sampai saat ini genset itu masih berfungsi normal, jadi masalahnya hanya pada breaker induk itu saja yang memang rusak. Setelah diganti sekarang sudah normal, kok,” pungkasnya.

Sebelumnya kepala Kejaksaan Negeri Batam Yusron mengatakan pihaknya sedang menyelidiki dugaan kasus korupsi pengadaan genset dan lampu landasan bandar udara internasional Hang Nadim. Saat ini tim dari kejaksaan sudah melakukan penyelidikan dan dalam waktu dekat kasusnya akan diangkat ke tahap penyidikan.

“Semua tim kemarin sudah rapat dan sudah diputuskan bahwa kasus ini akan ditingkatkan ke tahap penyidikan,” katanya di ruangannya, Selasa (7/1).

Menurut Yusron kasus ini sudah mulai disorot sejak akhir 2013 lalu. Kejaksaan menduga ada beberapa penempatan pos anggaran yang tidak sesuai. Meski demikian, kejaksaan belum bersedia mengungkapkan pos-pos anggaran yang dimaksud.

Yusron memperkirakan untuk pengadaan genset itu pos anggarannya sekitar Rp 3 miliar dan untuk anggaran lampu runway sekitar Rp 7 miliar. “Totalnya anggaran sekitar 10 miliar, tetapi kita belum tahu dugaan penyelewengannya berapa banyak. Itu anggaran pengadaan tahun 2012 lalu,” katanya.

Terkait panggilan terhadap saksi-saksi dan yang bertanggungjawab terhadap pengadaan tersebut, Yusron tidak mau berkomentar. Menurutnya, pihak terlalu jauh jika langsung mengatakan siapa yang bertanggungjawab atas dugaan kasus korupsi tersebut.

“Kita ini masih belum bisa menyimpulkan siapa yang bertanggungjawab. Ini masih tetap kita selidiki,” katanya.

Menurut Yusron, tim untuk kasus tersebut akan terus bekerja dan secepatnya dugaan kasus tersebut akan masuk ke tahap penyidikan. Meski Sprindiknya sendiri belum ditandatangani. “Sprindiknya belum saya tanda tangani tetapi jika tidak ada halangan itu akan segera ditandatangani. Tim sekarang ini masih bekerja terus,” katanya. (ian)



Komentar Pembaca

komentar