Wafatnya Uje, Renungan untuk Kita



WAFATNYA ustaz gaul, Jefry Al Buchori pada Jumat (26/4) yang disukai oleh beragam kalangan telah membuat Indonesia kehilangan sosok muda yang peka dengan perbaikan umat melalui jalan dakwah. Banyak pelajaran yang dapat dipetik sepeninggalan beliau, hidupnya yang sederhana, dai yang ikhlas menghibur dan pelajaran komitmennya untuk terus menyampaikan kebenaran dan perbaikan umat. Seyogyanya ini merupakan renungan bagi kita semua dan bagaimana kita mempersiapkan diri dengan mengecek kelengkapan bekal untuk menghadapi kematian.

Bukankah Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa secerdas-cerdas manusia adalah manusia yang selalu mengingat akan mati. Demikian ungkap baginda nabi dan rasul termulia Nabi Muhammad SAW ketika menjawab pertanyaan sahabat tentang orang yang cerdas atau pintar. Kalau ditilik lebih jauh hadis ini, tak perlulah kita meragukannya bahwa hakikat kehidupan adalah untuk ibadah kepada Allah SWT dan sebagai manusia yang beriman sudah semestinya kita meyakini kematian yang datang tidak mengenal waktu, usia dan dimanapun kita berada.

Ketika Allah SWT berkehendak untuk mencabut nyawa ketika itulah usai sudah amal-amal yang kita kerjakan kecuali tiga hal yaitu amal jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang saleh yang mendoakan kedua orangtuanya ketika berada di alam akhirat sana.

Subhanallah, kita berharap kitalah orang-orang yang cerdas itu. Orang-orang yang senantiasa mengingat kematian. Lantas, pernahkan kita bertanya tentang persiapan apa yang telah kita lakukan untuk menghadapi kematian? Renungi dan resapilah pertanyaan ini. Mestinya, bukan hanya asuransi atau harta warisan yang kita persiapkan tetapi bekal bagaimana kita dapat hidup damai dan terteram di akhirat kelak.

Bukankah Allah SWT telah berfirman dalam QS. Qaaf ayat 19, ”Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya,”. Kematian adalah suatu kepastian. Masihkah kita larut dengan fatamorgana dan kesenangan-kesenangan yang memabukkan kita dunia. Dalam firman-Nya yang lain Allah SWT juga menegaskan, Katakanlah: ”Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. 62: 8). Lalu, sebenarnya apa yang membuat kita larut dan melupakan kematian?

Yang jelas, orang-orang yang melupakan kematian adalah orang-orang yang sudah mulai memudar kepercayaannya kepada Allah SWT sehingga dia lebih mencintai dunia daripada kehidupan atau alam setelah dunia ini akan berakhir dan orang-orang itu juga lupa bahwa hakikat hidup ini sebenarnya adalah sebuah ibadah. Sehingga Muadz Ibnu Jabal seorang sahabat Nabi mengingatkan kepada kita semua bahwa ia bahagia hidup di dunia dengan tiga hal. Pertama, berpuasa pada hari puasa. Kedua, melakukan qiyamulail. Ketiga, ikut serta bersama majelis ilmu.

Luar biasa dan menakjubkan. Kendati demikian, bukan berarti kita meninggalkan kehidupan dunia sama sekali karena Rasullullah SAW telah mengajarkan konsep tawazun (keseimbangan / hidup secara profesional) dalam menjalan aktivitas antara dunia dan akhirat antara aktivitas penyehatan rohani dan jasmani.

Kemudian bagaimana kita agar selalu mengingat kematian itu, setidaknya ada tiga hal yang membuat kita akan selalu mengingat kematian. Pertama, sering berziarah kubur. Kedua, membaca Alquran dan mentaburinya (memaknai secara mendalam setiap ayat yang dibaca). Ketiga, bergaul dengan orang-orang yang saleh yang selalu ingat akan kematian. Selayaknya orang yang ingin pergi berkemah atau berpergian ke luar kota maka orang tersebut harus mempersiapkan bekal dan begitu juga dengan keberangkatan kita menuju alam kematian. Apa saja bekal yang perlu dipersiapkan oleh seorang muslim dalam rangka menghadapi kematian yang datangnya tidak disangka-sangka.

Ada enam bekal minimal yang harus kita lengkapi dalam setiap gerak-gerik kita. Pertama, ikhlas dalam beramal. Kedua, memperbanyak sujud. Ketiga, memperbanyak zikir. Keempat, memendekkan angan-angan dalam dunia. Kelima, memperbarui taubat setiap waktu. Keenam, mengembalikan hak kepada yang dimilikinya. Tidak rindukah kita dengan surga yang dijanjikan Allah SWT yang digambarkan Allah SWT dalam setiap firman-Nya bahwa surga itu indah dan mengalir air di dalamnya?

Itulah sebabnya, dengan mengedepankan konsep tawazun (keseimbangan) dalam kehidupan ini. Sudah saatnya kita berpikir terus beramal seolah-olah kita akan hidup 1000 tahun lagi dan berhenti berbuat maksiat karena kematian akan datang  setiap detik hentakan nafas kita atau esok hari bisa saja dicabut oleh Allah SWT. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan yang terbaik untuk kita semua dan almarhum Ustaz Uje yang telah meninggalkan kita. Amin. ***

 

 

 

 

Raja Dachroni
Dosen  dan Pembina Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Ar-Ruhul Jadid STISIPOL Raja Haji Tanjungpinang



Komentar Pembaca

komentar