Emosi, Anak jadi Obyek Kemarahan Orangtua hingga Tewas



 

Tiga tahun terakhir, kepolisian Batam mencatat, ada tiga kasus penganiayaan orangtua terhadap anak kandungnya sendiri hingga berujung kematian. Penyebabnya berbeda beda. Ada yang karena masalah terdesak kondisi ekonomi, anak jadi korban pelampiasan. Kedua disebabkan kenakalan anak diluar batas hingga menyebabkan orangtuanya emosi atas sikap anak dan menganiaya hingga tewas.

Terakhir adalah anak kandung yang dicekik ibunya hingga tewas. Penyebabnya tak lain adanya gangguan kejiwaan orangtua yang menyebabkan kematian anak kandungnya.

Pertama peristiwa terjadi pada 31 Oktober 2011 di rumah kos  Jl. Gunung Kerinci No. 47, Baloi Indah Kecamatan Lubukbaja. Dewi Asmarita, 25, menganiaya anak kandungnya, Prita Isabella yang masih berusia tiga tahun hingga tewas setelah sempat dirawat di RS Budi Kemuliaan. Sekujur tubuh Prita membiru baik perut, kaki maupun punggungnya.

Tubuh membiru itu akibat terkena pukulan benda keras yang dilayangkan ibunya, Dewi ke Prita dalam waktu lama. Sementara Rizal, sang suami yang tahu istrinya menganiaya anaknya hingga berujung kematian, tak bisa berbuat apa-apa hanya menangis pasrah.

Dewi nekat menganiaya anak kandungnya yang masih balita karena kesal anak­nya (Prita) sering rewel. Dari rasa kesal itu timbul emosi yang tak terkontrol berujung pada pelampaisan emosi dengan sering memukul anaknya.

Dewi tiap kesal kepada anaknya selalu melampiaskannya dengan memukul menggunakan gagang sapu. Bahkan pernah gagang sapu itu sampai patah karena saking kencangnya dipukulkan ke Prita.

Bahkan dua hari sebelum Prita meninggal, korban dalam keadaan kurang sehat. “Ibunya mengaku suka pukul korban dengan kayu, tapi dia tidak berniat menganiaya hingga tewas atau membunuh. Selain itu memang kondisi ekonomi keluarga itu sangat minim,” ujar Kapolsek Lubukbaja, Kompol Boy Herlambang tiga tahun lalu.

Saat itu, Dewi oleh kepolisian Polsek Lubukbaja dijerat pasal 351 ayat (3) KUHP jo pasal 80 ayat (3) UU Nomor 22 Tahun 2002, Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman 10 tahun penjara.

Kasus kedua masih tentang orangtua aniaya anak kandung hingga tewas. Kejadiannya belum lama yakni Kamis (4/7) 2013. Korbannya Desmon Lotter, 19, dianiaya ayah kandungnya Johannes, 44, hingga berujung kematian.

Desmon tewas setelah sekujur tubuhnya dihujani pukulan menggunakan kayu oleh ayah kandungnya, Johannes dirumahnya Kampung Bukit Tanjungriau. Johannes saat itu mengaku kesal dan emosi dengan anak kenakalan anak sulungnya .yang menurutnya kelewat batas, seperti suka mencuri uang ibunya serta ayam milik tetangga.

Apalagi saat dijemput pulang, kepala Desmon sudah mengucur darah segar. Ditanya Johannes, Desmon tak mau mengaku siapa yang membuat kepalanya bocor.

Karena jengkel anak tak mau ngaku, Johannes emosi dan melampiaskannya dengan mengikat anak di tiang dan dihujani pukulan kayu hingga pingsan dan tewas.

Kebetulan kondisi ekonomi orangtua Desmon memang sangat minim. Belum lagi antara Johannes dengan istrinya tiap hari suka berantem, semakin memicu Johannes, melampiaskan emosi tak terkontorlnya kepada anak kandungnya Desmon.

Johannes dijerat polisi dengan pasal 338 KUH-Pidana tentang pembunuhan juncto pasal 351 ayat 2 tentang penganiayaan yang menyebabkan kematian yang ancaman hukuman penjara maksimalnya 15 tahun. Kini Johannes meringkuk di sel tahanan Mapolsek Sekupang.

Dan kejadian terakhir dan baru saja terjadi di tahun dan bulan ini adalah tewasnya Damianus Alparis Miru, bocah yang baru berusia enam tahun dicekik ibu kandungnya sendiri, Tiner Lina Silaban hingga tewas ditempat yakni dirumahnya Bengkong Palapa Swadaya Blok Z1 Nomor 15 Kelurahan Bukit Beruntung Bengkong, Minggu (18/8) sekitar pukul 01.30 WIB.

Damianus anak keduanya tewas setelah dicekik, mulut disumpal menggunakan tapak tangan kanan ibu kandungnya . Belum puas, setelah tewas, Tiner Lina kemudian mencakar wajah Damianus.

Sang ibu kandung, Tiner Lina ternyata diketahui menderita kelainan kejiawaan. Menurut beberapa saudaranya, tiap tengah malam Tiner Lina Silaban selalu berteriak teriak, melamun serta ngomel sendiri tak tahu entah apa yang diomelkannya.

Bahkan sering Tiner Lina seperti orang yang berilusi dan berhalusinasi. Menurut salah satu Psikolog yang ada di Batam, Mariana, banyaknya kejadian orangtua bunuh dan aniaya anak kandungnya sendiri hingga tewas, pasti dipengaruhi beberapa faktor.

“Kemampuan orangtua untuk mengontrol emosi sangatlah minim. Itu bisa disebabkan karena sudah banyak masalah percekcokan dengan suami atau istri, atau masalah minimnya tingkat ekonomi sehingga tak bisa mencukupi kebutuhan hidupnya,” ujar Mariana kepada batampos.co.id.

Kalau orangtua sudah tak bisa mengontrol emosi, bila terbentur suatu permasalahan baik keluarga maupun masalah diluar keluarga seperti pekerjaan, Mariana mengatakan, untuk melampiaskan emosi  yang memuncak, dicarilah sasaran yang memang lemah posisinya yaitu anak kandung yang paling dekat jangkauannya.

“Makanya, kalau terbentur atau dihadapkan dengan masalah sebesar apapun, jangan langsung ditanggapi dengan emosi. Buatlah lebih tenang dulu sejekan, setelah itu baru cari solusi. Kalau masalah dihadapi dengan cara emosi, pasti hasilnya akan negatif. Percayalah dengan itu. Sebaliknya kalau masalah sebesar apapun dihadapi dengan kepala dingin, pasti jalan keluar itu akan terbuka dengan sendirinya,” terang Mariana.

Fenomena orangtua bunuh anak kandung atau aniaya hingga tewas, menurut Mariana merupakan bentuk luapan emosi tak terkontrol dan berlebihan saat mendapatkan masalah.

“Pasti dasarnya adalah permasalahan tingkat ekonomi yang minim. Kalau nggak masalah hubungan suami istri, ujung-ujungnya anak jadi sansak hidup,” ujar Mariana.

Untuk menghindari ledakan emosi yang tak bisa terkontrol saat berhadapan dengan masalah, Mariana mewajibkan minimal seminggu sekali, lingkup keluarga harus refreshing atau meliburkan diri berekreasi sehari untuk menghilangkan stress, dan menyegarkan kembali fikiran.

“Itu harus wajib dilakukan yakni rekreasi keluarga kalau ingin bisa mengontrol emosi. Pilih suasana yang nyaman dan damai, sejuk, buat acara permainan keluarga, kerukunan dan kerjasama. Dijamin yang namanya stress atau masalah sebesar apapun bisa ditanggulangi dengan kepala dingin, bukan dengan emosi yang meledak-ledak diluar batas,” tutup Mariana. (gas)



Komentar Pembaca

komentar