Pemilik Restoran di Batam Jadi Tersangka sebab Transaksi dengan Dolar

324
Pesona Indonesia

Selama bulan November dan Desember 2014 lalu, Direktorat Kriminal Khusus (Ditkrimsus) Polda Kepri mengungkap tiga kasus pelanggaran transaksi mata uang. Polisi membekuk pemilik restoran serta kasir Cafe. Meskipun tak ditahan keduanya berstatus sebagai tersangka.

ilustrasi
ilustrasi

Kasus pertama, diungkap Minggu 19 Oktober 2014 di salah satu restoran di Batam. “Saat melakukan penyelidikan anggota kami melihat dua kelompok Warga Negara Asing (WNA) makan di restoran tersebut,” kata Direktur Reserse Kriminal Khusus (Dirkrimsus) Polda Kepri Kombes Pol Syahardianto, kemarin.

Setelah makan, lanjut Syahar, petugas melihat WNA membayar kepada kasir restoran menggunakan dolar Singapura. “Petugas kemudian menginterogasi kasir dan pelayan restoran,” bebernya lagi.

Sayangnya, usai menginterogasi pelayan dan kasir, WNA sudah pergi dari tempat semula. “Untuk memudahkan proses penyelidikan dan penyidikan, kasir dan pelayan restoran kami bawa ke Mapolda Kepri guna dilakukan proses lebih lanjut,” ucap perwira tiga melati di pundaknya ini.

Dalam kasus tersebut, penyidik menetapkan pemilik restoran sebagai tersangka. Pelaku dijerat Pasal 21 Ayat 1 Undang-Undang Nomor 7 tahun 2011 tentang mata uang. Dimana dalam pasal tersebut disebutkan setiap transaksi harus menggunakan rupiah.

Bagi yang melanggar, dipidana satu tahun serta denda Rp 200 juta. Kasus yang melilit pemilik hotel ini sudah P21 ke Kejati Kepri. Pengungkapan kasus ini terjadi sebelum Polda dan Bank Indonesia cabang Kepri melakukan MoU tentang koordinasi penanganan dugaan tindak pidana di bidang sistem pembayaran (SP) dan kegiatan usaha penukaran valuta asing (KUPVA).

MoU antara Polri BI itu dilakukan Kepala Perwakilan BI Kepri Gusti Eka Putra dan Kapolda Kepri Brigadir Jenderal Polisi Arman Depari disaksikan Deputi Gubernur BI Ronald Waas dan Kepala Bareskrim Mabes Polri saat itu dijabat Komisaris Jenderal Polisi Suhardi Alius.

Selang beberapa minggu kemudian, Selasa 16 Desember 2014 sekitar pukul 10.15 WIB, Ditkrimsus menangkap tangan transaksi mata uang asing di salah satu toko di Pelabuhan Internasional Bandar Bintan Telani (BBT), kawasan Wisata Lagoi, Kecamatan Teluk Sebung, Kabupaten Bintan. Wisatawan membeli sembilan kantong manisan mangga menggunakan dolar Singapura. “Anggota kami langsung mengamankan struk serta uang asing sebagai alat transaksi,” kata Syahar. Dalam kasus tersebut, Polisi menetapkan Dahlia Fitriani,24, selaku kasir toko sebagai tersangka.

Atas perbuatannya, pelaku dijerat Pasal 21 Ayat 1 Undang-Undang Nomor 7 tahun 2011 tentang mata uang. Dimana dalam pasal tersebut disebutkan setiap transaksi harus menggunakan rupiah.

Bagi yang melanggar dipidana satu tahun serta denda Rp 200 juta. Kasus yang melilit perempuan kelahiran Padang panjang ini masih dalam proses penyidikan petugas.

Tiga hari kemudian, tepatnya Jumat 19 Desember 2014 sekitar pukul 16.45 WIB. Petugas kembali menangkap tangan transaksi menggunakan uang asing di kawasan wisata Lagoi, Bintan.

Pada saat itu petugas memperhatikan resepsionis yang sedang melayani tamu untuk check in. Pihak hotel memberikan brosur, daftar harga setiap kamar yang dibandrol dengan harga dolar. “Satu kamar Delux ditawarkan 345 dolar singapura,” ucap Syahar.

Namun tamu yang datang kala itu mendapatkan harga khusus, diberikan 200 dolar Singapura untuk satu malam. Ketika tamu dan pihak hotel melakukan transaksi kamar 1205, petugas langsung menangkap keduanya.

“Kasus ini masih dalam penyidikan petugas,” katanya. Berbeda dengan kasus lainnya, dari pihak manajemen hotel belum ada yang ditetapkan sebagai tersangka.

Kapolda Kepri, Brigjen Pol Arman Depari mengatakan tindakan anggotanya itu sesuai dengan ketentuan UU.  “Sudah cukup lama diberikan imbauan,” ujar mantan Direktur Narkoba Mabes Polri Ini.

Tujuan penindakan tersebut, ungkapnya, bukan hanya sekadar menegakkan aturan, namun juga menghargai mata uang rupiah. “Kalau bukan di negara kita, siapa yang menghargai mata uang rupiah selain kita,” katanya. (hgt)

Respon Anda?

komentar