Mulai hari Hari Ini National Basketball League Digelar di Batam

789
Pesona Indonesia

 

Mulai hari ini hingga 8 Februari pencinta basket Kota Batam bisa menyaksikan game-game seru pada Seri V IndiHome National Basketball League (NBL) Indonesia 2014-2015. Inilah kali pertama kompetisi basket kasta teratas di Indonesia itu berkunjung ke Batam.

 

Commissioner NBL Indonesia Azrul Ananda (3 dari kiri) saat press conference di De'Patros Cafe, Harbour Bay, Batam, kemarin.
Commissioner NBL Indonesia Azrul Ananda (3 dari kiri) saat press conference di De’Patros Cafe, Harbour Bay, Batam, kemarin.

Kota terbesar di Kepulauan Riau tersebut menjadi kota pertama di luar Jawa dan Bali yang menjadi tuan rumah bagi NBL. Mereka terpilih karena diyakini sebagai kota dengan penggila basket yang lebih gila ketimbang penggemar basket di Pulau Jawa.

Sebelum menuju Batam, kompetisi NBL mengunjungi lima kota berbeda di Bali dan Pulau Jawa. Itu dimulai dari Preseason Tournament Mangupura Cup 2014 pada Oktober lalu. Kota-kota yang telah dikunjungi adalah Badung, Jakarta, Bandung, Malang, dan Surabaya. Musim ini ada sembilan kota yang dikunjungi NBL, mulai preseason, regular season selama 10 seri, hingga championship series. “Tentu kami punya keinginan untuk menggelar pertandingan di sebanyak mungkin kota di Indonesia. Untuk mendekatkan diri dengan para penggemar basket tanah air,” tutur Commissioner NBL Indonesia Azrul Ananda.

Dalam konferensi pers itu, Azrul juga menerangkan bahwa sebuah kota yang ingin menjadi penyelenggara NBL Indonesia harus memenuhi beberapa syarat khusus. Misalnya, memiliki fasilitas pertandingan yang memadai. Dan, yang tidak kalah penting adalah antusiasme penonton di kota itu menyambut kompetisi NBL Indonesia saat tiba di kotanya.

Kenyataannya, Batam memenuhi semua syarat tersebut. Di dalam kota yang hanya seluas 715 km2 atau sekitar 1/465 Kota Surabaya itu, ada para penggemar basket yang kadar kegilaannya terhadap olahraga yang berasal dari Amerika Serikat tersebut melebihi para penggemar di Pulau Jawa. “Untuk Batam, itu hal satu lagi yang membuat kota ini tidak boleh dilewatkan untuk menggelar NBL Indonesia,” tambah Azrul lantas disambut tepuk tangan hadirin.

Salah satu penggila basket yang dimaksud Azrul itu adalah Suhadi. Dia merupakan pengusaha asal Batam yang juga pemilik Hi-Test Arena. Dalam beberapa tahun terakhir, Suhadi sangat gencar ingin menjadikan Batam sebagai salah satu pusat kegiatan basket di tanah air.  “Saya bisa gila basket gini ya gara-gara Mas Azrul. Beberapa tahun lalu saya berkunjung ke Surabaya dan menyempatkan diri ke DBL Arena. Dalam pikiran saya waktu itu, kalau di Surabaya ada DBL Arena, Batam juga harus bisa. Maka, berdirilah Hi-Test Arena ini,” jelasnya.

Hi-Test Arena sampai saat ini telah menggelar beberapa kejuaraan basket tingkat nasional maupun internasional. Beberapa di antaranya adalah Kejurnas Basket KU-18 2013 dan ajang SEABA 2014. “Lapangan yang kami miliki adalah lapangan dengan standar FIBA level 1 pertama di Indonesia,” jelasnya bangga.

Dalam konferensi pers tersebut, hadir pula dua pemain NBL Indonesia yang merupakan putra daerah Batam. Mereka adalah Andy “Batam” Poedjakesuma dari Pelita Jaya Energi Mega Persada Jakarta dan Suhandy dari Hangtuah Sumsel IM.

Dua pemain tersebut juga bakal langsung bentrok pada hari pertama sore ini saat Pelita Jaya ditantang Hangtuah. “Bermain di kota sendiri tentu sangat spesial dan emosional bagi saya pribadi. Bangga rasanya Batam bisa menjadi salah satu kota penyelenggara event seperti NBL,” tuturnya.

Hal senada diucapkan Suhandy. Rookie paling moncer musim ini itu bahkan mengaku tak pernah menyangka kota kelahirannya bisa menjadi tuan rumah event basket terbesar tanah air. “Dulu rasanya tidak mungkin ada event besar mau singgah di Batam. Tetapi, ternyata sekarang benar-benar terwujud,” tuturnya.

Pada seri V ini, PT Telkom Indonesia juga tetap menjadi official partner setia dan mendukung penuh ajang NBL. Dengan brand baru mereka IndiHome, Telkom bakal memanjakan para pencinta basket tanah air dengan infrastruktur IT terbaik. “Semua pertandingan juga bisa diakses melalui useetv selama seminggu ke depan. Ini dilakukan untuk memanjakan para pencinta basket di seluruh Indonesia, bukan hanya yang di Batam,” tutur Eka Setiawan, general manager Witel Riau Kepulauan.

Buah Kegilaan Suhadi

Sementara itu, Suhadi mengaku bangga bisa mendirikan sebuah lapangan basket bertaraf internasional. Tetapi lebih bangga lagi saat melihat pemain-pemain favoritnya bisa bertanding di sana. Katanya, seperti mimpi.

Pria kelahiran Dabo Singkep itu tak henti-hentinya tersenyum. Dalam hitungan detik, ia mengangkat kedua tangannya, mendaratkannya ke belakang kepala, menahannya di tengkuk, lalu melipatnya di depan dada.

Badannya sudah menyandar ke kursi. Lalu sedetik kemudian ia membenahi duduk. Dan menyilangkan sebelah kakinya menumpang ke kaki yang lain.

“Tidak percaya rasanya. Setiap bangun tidur saya masih nggak nyangka, tim-tim yang sebelumnya harus saya kejar ke luar kota sekarang ada di Batam. Bahkan main di lapangan saya,” katanya lalu tertawa.

Suhadi adalah pemilik Lapangan Hi-Test Arena, Perumahan Eden Park, Batam Centre. Mulai hari ini, Rabu (4/2), hingga empat hari ke depan, lapangan basketnya akan menjadi saksi pertandingan Liga Bola basket Nasional perdana di Batam.

Di sana akan digelar Seri V Kompetisi IndiHome National Basketball League (NBL) Indonesia. Dua belas klub basket nasional akan ikut ambil bagian. Ia tak perlu lagi jauh-jauh ke luar kota untuk menonton liga tersebut. “Saya memang selalu hadir ke kota manapun pertandingan NBL itu digelar,” katanya sambil terkekeh.

Kebiasaan itulah yang Azrul Ananda, Komisioner NBL Indonesia, artikan sebagai sebuah kegilaan. Kegilaan yang akhirnya berbuah manis: komisioner dan dua belas klub nasional setuju menggelar pertandingan di Batam.

Suhadi tertawa saja disebut gila oleh Azrul. Nyatanya ia memang menggilai olahraga tersebut. Kegilaan itu berawal dari kampus Universitas Merdeka Malang tahun 1990 silam.

Suhadi yang berstatus sebagai mahasiswa jurusan Teknik Sipil itu bergabung dengan tim basket Fakultas Teknik. Bersama tim-nya ia sering bertanding melawan fakultas lain.

Ia menyukai basket karena olahraga tersebut sangat dinamis. Badannya bisa dibawa berlari ke sana kemari. Selain itu, basket memungkinkan para pemainnya tetap bergaya. Mulai dari kepala hingga kaki, fesyen pemain basket boleh diadu. “Selain itu, pemain-pemain basket juga tinggi-tinggi,” katanya.

Lulus sebagai Sarjana Teknik, tahun 1995, Suhadi pulang ke Batam. Ia mengabdi di sebuah perusahaan swasta.

Mengisi hari-hari sibuknya, Suhadi lalu membentuk sebuah tim basket bersama orang-orang yang juga menyukai olahraga tersebut. Klub itu bernama Flame.

Tidak hanya untuk menyalurkan hobi, para anggota klub pun rajin mengikuti pertandingan dan kompetisi. Suhadi masih ingat rasa gembira saat timnya memenangi kompetisi antar-klub se-Batam di tahun 2000.

“Waktu itu, kami jadi juara II dari klub-klub se-Batam. Ada sekitar delapan belas klub-lah saat itu,” katanya.

Tahun demi tahun berlalu. Suhadi masih menggeluti dan menekuni hobinya itu. Meski kemudian sedikit demi sedikit kebiasaan bermain bersama tim itu terganggu oleh kesibukan bekerja.

Suhadi mendirikan perusahaan pengujian material-material bangunan di tahun 2005. Perusahaan itulah PT Hi-Test, yang namanya sekarang dipakai sebagai nama lapangan basketnya.

Kesibukan itu akhirnya benar-benar menghentikan kegiatan berbasket Suhadi, empat tahun kemudian. Ia tak lagi bisa bermain dalam tim. Jadwalnya sangat padat.

“Kalau untuk olahraga-olahraga kecil ya masih bisalah,” kata ayah dari tiga anak itu.

Sebagai gantinya, ia memilih berada di balik layar. Suhadi bergabung dengan Persatuan Bola Basket Indonesia (Perbasi) Batam. Di tahun 2007, ia dipilih menduduki jabatan sebagai wakil ketua.

Mengisi jabatan nomor dua di organisasi tersebut, Suhadi dituntut aktif di dalam manajemen. Ia rajin mengikuti kegiatan-kegiatan Perbasi di tingkat nasional. Biasanya musyawarah dan rapat-rapat.

Biasanya, selama kunjungan ke luar kota itu, ia juga dijamu dengan pertandingan-pertandingan basket. Kecintaan pada olahraga itu semakin mengakar kuat.

Ia bahkan memutuskan pergi ke luar negeri demi melihat pertandingan basket. Ia terbang ke Los Angeles California untuk menonton pertandingan National Basketball Association tahun 2010 lalu.

Lalu meloncat ke Istanbul Turki untuk mengikuti Piala Dunia Bola Basket. Dua puluh hari penuh ia habiskan di sana menonton pertandingan basket. Anak-istrinya diboyong juga.

Tahun lalu, ia pun menyisihkan waktu untuk pergi ke Madrid, Spanyol. Apalagi kalau bukan menonton perhelatan Piala Dunia Bola Basket?!

“Sekarang ini, saya bilang ke perusahaan, saya mau cuti selama pertandingan itu berlangsung. Ya, saya masih ke kantor sih, tapi hanya beberapa saat saja. Lalu balik lagi ke lapangan,” kata pria yang pernah menjadi Manajer Tim Kepri untuk PON 2014 itu lagi.

Suhadi memang tak main-main dengan niatnya memajukan olahraga basket di pulau industri ini. Pada akhir tahun 2013 lalu, ia memutuskan mendirikan sebuah lapangan.

Satu tahun berkutat dengan segala macam desain dan bahan-bahan bangunan, lapangan itu pun jadi juga. Ia mencari inspirasi bangunan dari internet. Ia mencari-cari yang pas dengan koceknya.

Maka akhirnya jadilah lapangan Hi-Test Arena itu. Secara bangunan, lapangan itu masih sangat sederhana. Tetapi fasilitasnya boleh diadu.

Lantai lapangan, misalnya, sudah mengikuti standar internasional. Tidak main-main, lantainya bahkan berada di standar teratas untuk lapangan bola basket.

Kemarin, lapangannya pernah dipakai untuk ajang Asean Basketball League (ABL). Tim dari Vietnam, Taiwan, juga Bangkok ikut bertanding. Sebelumnya, lapangan berkapasitas 1.200 orang itu juga menjadi lokasi untuk kompetisi FIBA Asia Cup ke-5. “Yang saya khawatirkan sekarang adalah, apakah lapangan saya bisa muat penonton apa tidak? Bagaimana kalau yang datang itu lebih dari 1.200 penonton?” ujarnya sambil tertawa-tawa. (jpnn/ceu)

Respon Anda?

komentar