Transaksi Uang Asing Banyak di Sektor Pariwisata

179
Pesona Indonesia

BATAM (BP) – Kasubdit II Cyber Crime Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Kepri, AKBP Mudji Supriadi mengatakan, pelanggaran transaksi mata uang asing banyak dilakukan di sektor usaha pariwisata, seperti hotel, restoran, kafe, dan lainnya.

”Karena jenis usaha ini berhubungan langsung dengan orang asing. Biasanya orang asing gak mau repot,” ujar Mudji, Selasa (3/2).

Polda Kepri, lanjut Mudji, akan terus menelusuri tempat usaha yang masih melakukan transaksi dengan uang asing. ”Bila masyarakat menemukan transaksi uang asing bisa dilaporkan kepada petugas,” jelasnya.

Mudji mengatakan, sebelum Undang-Undang Nomor 7 tahun 2011 lahir, di Kepri khususnya di Batam, pembayarannya mayoritas menggunakan uang asing. ”Dulu terang-terangan dibuat label atau brosur dengan uang asing. Kini sudah jarang,” ungkapnya lagi.

Adapun yang masih melakukan transkasi uang asing, tak dilakukan secara terbuka. ”Ada juga penjualan atau pembelian dengan harga asing, tapi pembayarannya menggunakan rupiah,” sebutnya.

Menurutnya, proses hukum yang dilakukan sebelumnya merupakan syok terapi bagi pelaku usaha yang lainnya. ”Dasar hukumnya jelas, kalau bukan sekarang kapan lagi kita mencintai mata uang negara kita,” beber perwira tiga mawar di pundaknya itu.

Menurut Mudji, aturan pelarangan transaksi menggunakan mata uang asing sudah lama disosialisasikan. ”Sudah lima tahun, jadi tak ada alasan lagi meskipun di wilayah FTZ (free trade zone, red),” ucapnya.

Sebelumnya, meskipun sudah ada pelarangan transaksi menggunakan uang asing, tapi masih ada saja pengusaha yang membandel, mulai dari restoran, kafe, hingga hotel. Selama November dan Desember 2014 lalu, Ditkrimsus Polda Kepri mengungkap tiga kasus pelanggaran transaksi mata uang. Polisi membekuk pemilik restoran serta kasir kafe. (hgt)

Respon Anda?

komentar