Jaksa: Abob Rugikan Negara Rp 1,3 T

226
Pesona Indonesia

PEKANBARU (BP) – Sidang perdana dugaan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dari penyelundupan bahan bakar minyak (BBM) digelar, Rabu (4/2), di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Pekanbaru dengan agenda pembacaan dakwaan.

Abob (kemeja putih)  menjalani sidang perdana di Pengadilan Negeri Pekanbaru, kemarin.
Abob (kemeja putih) menjalani sidang perdana di Pengadilan Negeri Pekanbaru, kemarin.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) menyebut para terdakwa merugikan negara Rp 1,3 triliun dan dijerat pasal berlapis dengan ancaman hukuman hingga 20 tahun penjara.

Sidang dipimpin Ketua PN Pekanbaru, Pujoharsoyo SH.

Lima orang yang menjadi terdakwa dalam kasus ini adalah dua otak pelaku Ahmad Mahbub alias Abob dan adiknya Niwen Khairiyah, PNS di Pemko Batam, serta Dunun alias Aguan, Arifin Ahmad dan Yusri.

”Kasus ini terungkap dari transaksi mencurigakan yang ditemukan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) dari rekening Niwen. Temuan ini kemudian dilaporkan ke Bareskrim Mabes Polri,’’ ujar JPU dari Kejaksaan Tinggi (Kejati) Riau, Adhyaksa, kemarin.

Ia mengatakan. transaksi yang mencurigakan ini adalah rekening Rp 1,3 triliun milik Niwen Khariyah.

”Dari penelusuran Bareskim, terungkaplah bahwa uang itu adalah hasil transaksi bisnis penyelundupan BBM milik abangnya, Abob. Terdakwa Ahmad Mahbub ditangkap Bareskrim Mabes Polri di sebuah lobi hotel di Jakarta Pusat,’’ katanya.

Lima terdakwa dalam kasus ini dijerat pasal berbeda dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun. Abob didakwa dengan Pasal 2 juncto Pasal 15 Undang-Undang (UU) Nomor 31/1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20/2001 tentang pencegahan dan pemberantasan tipikor dan Pasal 3, Pasal 6 UU Nomor 16 tahun 2002 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 25/2003 tentang TPPU dan Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5, juncto Pasal 10 UU Nomor 8/2010 tentang pencegahan dan pemberantasan TPPU juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP juncto Pasal 56 KUHP juncto Pasal 64 KUHP.

Sementara untuk Niwen Khairiyah didakwa Pasal 2 juncto Pasal 15 UU Nomor 31/1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20/2001 tentang pencegahan dan pemberantasan tipikor, Pasal 3 dan Pasal 6 UU Nomor 15/2002 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 25/2003 tentang TPPU, dan Pasal 3, Pasal 5 juncto Pasal 10 UU Nomor 8/2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan TPPU juncto Pasal 55 ayat (1) ke- 1 KUHP juncto Pasal 56 KUHP juncto Pasal 64 ayat (1) KUHP.

Untuk Arifin Ahmad, ia didakwa melanggar Pasal 1 ayat (1) dan atau Pasal 3 dan atau Pasal 5 ayat (2) dan atau Pasal 22 dan atau Pasal 12 Huruf A dan huruf B UU Nomor 31/1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20/2001 Juncto Pasal 55 KUHP atau Pasal 56 KUHP dan Pasal 3 dan atau Pasal 6 UU Nomor 25/2003 tentang perubahan atas UU Nomor 15/2002 tentang TPPU dan Pasal 3 dan atau Pasal 5 UU Nomor 8/2010 TPPU.

Terakhir, Dunun dan Yusri didakwa Pasal 2 juncto Pasal 3 juncto Pasal 5 juncto Pasal 15 UU Nomor 20/2001 tentang perubahan atas UU Nomor 31/1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP dan Pasal 3 juncto Pasal 6 UU Nomor 15/2002 tentang TPPU sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 25/2003 dan Pasal 3 juncto Pasal 5 juncto Pasal 10 UU Nomor 8/2010 tentang pencegahan dan pemberantasan TPPU.

Sebelumnya diberitakan dalam kasus ini, Abob memanfaatkan kelonggaran Pertamina yang memberikan toleransi penyusutan 0,3 persen saat menuangkan BBM dari kilang ke kapal dan dari kapal ke tempat tujuan. Abob juga melebihkan muatan kapalnya yang disewa Pertamina untuk mendapatkan untung lebih besar. Penyelewengan dilakukan dengan melakukan ”kencing” BBM dari kapalnya yang disewa Pertamina dengan kapal miliknya yang lain di tengah laut perbatasan antara Indonesia dengan Malaysia dan Singapura. BBM tersebut kemudian dijual ke pasar gelap kedua negara tersebut di bawah harga normal.

Yusri dalam kelompok ini sebagai Senior Supervisor Pertamina mengawasi BBM dibawa dari Dumai ke Siak, Batam dan Pekanbaru. Ia lalu mengabarkan pada Dunun terkait jadwal pengiriman. Saat kapal di tengah perjalanan, Dunun mengontak kapal milik Abob dan diaturlah “kencing” BBM di tengah laut.

Uang dari penjualan “kencing” BBM itu dari Singapura oleh Abob dibawa melalui kurir dalam pecahan 1.000 dolar Singapura ke Batam. Di sini, uang diterima Niwen yang selanjutnya diberikan pada Arifin Ahmad yang mendistribusikan pada orang-orang yang berperan dalam kejahatan ini.

Penyidik dalam penanganan kasus sudah menyita barang bukti tiga unit mobil, tiga unit truk colt diesel, dua excavator, satu buldozer, dan berbagai dokumen bank dan 65 titik lokasi tambang milik Abob serta sertifikat tanah di Bengkalis dan Pekanbaru. (ali/rpg)

Respon Anda?

komentar