Sosialisasi Bahaya Geng Motor Ricuh

481
Pesona Indonesia

BATAM  (BP) – SMPN 4 Batam mengadakan sosialisasi pencegahan penyebaran dan bahaya geng motor, Rabu (4/2). Mengundang sejumlah orang tua/wali murid, sosialisasi ini sempat diwarnai kericuhan. Para orang tua tidak terima anaknya dianggap masuk geng motor.

foto: dalil harahap / batampos
foto: dalil harahap / batampos

 

“Padahal dari awal juga sudah kami sampaikan bahwa ini penyuluhan, sosialisasi, bukan untuk menghakimi,” kata Leo Tambunan, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, kemarin.

Sosialisasi itu berlangsung pada pukul 09.30 WIB. Sekolah mengundang pihak kepolisian untuk memberikan informasi-informasi dan arahan tentang bahayanya bergabung dengan geng motor. Belum sampai setengah jam polisi memberikan pemaparan, orang tua murid menginterupsi.

Mereka merasa anaknya tidak masuk dalam geng motor. Mereka meminta sekolah memaparkan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa anak-anak itu terlibat. Pernyataan itu segera saja disambut sorak sorai dan tepuk tangan dari para siswa yang ikut hadir dalam sosialisasi tersebut.

Orang tua yang lain segera saja menimpali. Suasana menjadi tidak terkendali. “Jujur saya benar-benar kaget saat mendapat undangan sosialisasi ini. Katanya anak saya sudah masuk dalam geng motor.

Makanya, tadi saya tanya apa buktinya,” kata Sandi, salah satu orang tua murid.

Sandi datang dengan kepala yang penuh tanda tanya. Ia dipanggil ke sekolah lantaran anak pertamanya, disebut sekolah, terlibat geng motor. Padahal, bisa dibilang, anaknya tak pernah neko-neko.

Undangan sosialisasi itu sampai ke tangannya, Selasa (3/2) lalu. Begitu membaca isi undangan tersebut, Sandi segera menginterogasi anaknya. Anaknya mengaku tak bergabung dengan geng motor. Ia hanya bergabung dengan sebuah perkumpulan di media sosial Facebook.

Dua kawan lama anaknya pun ikut serta dalam kelompok tersebut. Keduanya berada satu kelas dengan anaknya. Sandi mengenal kedua kawan lama anaknya itu. “Mereka itu sudah berkawan dari SD. Jadi saya kenal siapa mereka,” tuturnya.

Tapi sayang, Sandi dan istri sudah terlanjur ikut membaca undangan itu. Mereka histeris bahkan ikut menitikkan air mata. Keduanya tak menyangka anak tertua dari keluarga itu terlibat geng motor.

“Saya ini kan orang timur. Saya akui saya keras. Saya bilang pada anak saya, kalau kamu membuat malu orang tua dan suku, lebih baik kamu mati saja,” kata Sandi.

Sandi mengaku tak main-main dengan perkataannya. Ia memang mengancam anaknya demikian. Sebab, ia tahu, dampak dan efek buruk ikut geng motor.

Namun demikian, Sandi tidak bisa melarang anaknya naik motor. Pasalnya, ia telah menugasi anaknya itu untuk menjemput adik-adiknya. Motor itu juga untuk mengantarnya pergi ke tempat les. “Motor itu juga digunakan hanya untuk menjemput adik-adiknya dan pergi les. Kalau di luar itu, dia tak pakai motor,” katanya.

Kepala SMPN 4 Batam Vadilifa menyayangkan kejadian ini. Pihaknya, sebenarnya, tidak hendak mempermalukan para orang tua siswa. Niat sekolah adalah untuk mengantisipasi penyebaran geng motor di kalangan anak-anak sekolah. Khususnya, di kalangan siswa-siswi SMPN 4 Batam. “Sekarang ini geng motor sudah mengerikan. Ya, kami ingin mengantisipasi supaya anak kami tidak terlibat dalam hal itu,” katanya usai menutup sosialisasi tersebut.

Sosialisasi yang berlangsung selama satu jam itu dihadiri oleh 21 siswa beserta orang tua/wali-nya dari total undangan 32 siswa dan orang tua/wali-nya. Sekolah sengaja tidak mengundang semua orang tua siswa. Mereka yang diundang adalah orang tua yang anaknya terindikasi bergabung dengan kelompok atau geng-geng motor.

Sosialisasi itu berpangkal pada sebuah kejadian di Sabtu (31/1) lalu. Sekolah mendapati seorang anak yang melakukan aksi standing di jalanan dekat sekolah. Anak itu masih mengenakan seragam sekolah. Sementara sekolah telah jelas-jelas melarang siswanya membawa kendaraan bermotor ke sekolah.

Anak itu pun dipanggil. Lantaran khawatir anak itu bergabung dengan geng motor, sekolah menanyai tentang kelompok yang ia ikuti. Anak itu pun mengaku bergabung dengan suatu kelompok.

Dari satu anak itu, sekolah mengembangkan penelusuran ke siswanya. Hingga akhirnya terkumpul 32 siswa yang bergabung dengan kelompok-kelompok yang memiliki nama aneh. Seperti misalnya, komunitas Anti Bau, kelompok Cimeng Pau, juga Gapster.

Seorang anak yang mengaku bergabung dengan kelompok Cimeng Pau mengaku tahu, arti kata cimeng dan pau. Namun, ia bersikeras, kelompok itu tak berbuat yang aneh-aneh. Kelompok Cimeng Pau adalah sebuah kelompok musik bergenre hip hop. “Kalau memang tidak seperti itu, kenapa harus memilih nama yang aneh-aneh? Kan masih ada nama lain yang bagus,” kata Leo, Waka SMPN 4 Bidang Kesiswaan.

Leo mengatakan, sekolah masih dibayang-bayangi trauma semester lalu. Yakni, saat sekolah menemukan adanya peredaran formulir pendaftaran geng motor ke para siswa. Kejadian itu seperti diputar ulang saat pihak kepolisian menanyakan keberadaan anggota suatu geng motor di SMPN 4.

“Polisi sebelumnya pernah bilang, ada indikasi anak SMPN 4 terlibat geng motor. Sepertinya ini hasil pemeriksaan anggota-anggota geng motor yang tertangkap kemarin,” katanya.

Leo mengatakan, perekrutan itu bersumber dari seorang siswi kelas VII. Setiap siswa dipaksa mengisi formulir tersebut. Bahkan, ditunggui saat melakukan pengisian. Mereka yang tidak mengisi diancam akan dihabisi di luar sekolah. “Tapi masalah itu sudah selesai. Saya sudah memanggil anak dan orang tuanya,” katanya.

Anak itu, kata Leo, memang mengakui dirinya yang menyebarkan formulir tersebut. Ia memang bergabung dengan geng motor. Sepupunyalah yang mengenalkan geng motor itu padanya.

Namun, sejak dipanggil, anak itu mulai berubah. Sekolah memantau perubahannya. Dan tak lagi menemukan tanda-tanda ia masih bergabung dengan geng motor. “Dia pun sekarang tidak ikut sosialisasi. Kemarin, sempat saya panggil sih, tapi dia bilang sudah tidak lagi ikut seperti itu,” katanya lagi.

Leo menambahkan, sekolah sebenarnya ingin mengantisipasi kejadian yang sama terulang kembali. Karena saat ini, anggota geng motor sudah semakin meresahkan masyarakat. Pihaknya meminta kepolisian untuk mengusut tuntas dan memberantas geng motor di Batam.

Namun, menurut Leo, cara sosialisasi itu sepertinya kurang tepat. Sebab, orang tua justru merasa terhakimi dan membela anak-anak mereka. Padahal, seharusnya, para orang tua mendukung sekolah yang tengah berusaha mengantisipasi penyebaran geng motor.

“Saya sempat geram tadi. Sosialisasi ini tujuannya adalah menggalang perhatian dari orang tua untuk ikut bersama-sama memberantas geng motor. Tapi kok yang terjadi malah sebaliknya,” tutur Leo.

Leo mengatakan, sekolah tidak bisa berjalan sendiri untuk mencegah penyebaran geng motor di kalangan anak-anak sekolah. Pasalnya, sekolah hanya bisa mengawasi selama jam sekolah dan selama siswa mengenakan seragam sekolah.

Di luar itu, tanggung jawab kembali ada di tangan orang tua. “Kami sangat berharap orang tua bisa bekerjasama dengan sekolah untuk mengantisipasi masuknya geng motor itu,” katanya. (ceu)

Respon Anda?

komentar