25 Persen Kepsek di Batam Tak Penuhi Syarat

262
Pesona Indonesia
Riki Indrakari. Foto: Yusuf Hidayat/Batam Pos
Riki Indrakari.
Foto: Yusuf Hidayat/Batam Pos

BATAM (BP) – Pengangkatan kepala sekolah (kepsek) di Batam dinilai tidak sesuai mekanisme Undang-Undang Aparatur Sipil Negara (ASN). Dimana banyak pegawai negeri sipil (PNS) yang tidak memenuhi syarat dan ketentuan, tetapi sudah menjadi kepsek.

”Sekitar 25 persen kepala sekolah di Batam tidak memenuhi syarat dan ketentuan. Padahal ini jabatan stuktural,” ujar Ketua Komisi IV DPRD Kota Batam, Riki Indrakari, di Kantor DPRD Batam, Kamis (5/2).

Berdasarkan data yang ia terima, di tahun 2013 ada sekitar 25 persen kepala sekolah mulai tingkat sekolah dasar hingga menengah atas yang asal comot. Dimana pangkat dan golongan mereka belum memenuhi standar untuk menjadi kepala sekolah.

”Jumlah yang sama juga terlihat di tahun 2014. Hal itu sangat kita sayangkan, karena pendidikan dipegang oleh orang yang belum memenuhi syarat,” terang Riki.

Banyaknya pengangkatan kepala sekolah yang tidak memenuhi standar adalah bentuk ketidakpedualian Wali Kota Ahmad Dahlan di bidang pendidikan. Karena yang berhak menjabat kepala sekolah adalah figur yang memang sudah berprestasi dan sesuai dengan golongan.

”Ini bentuk pelanggaran. Kami punya bukti dan data untuk hal ini. Seharusnya Wali Kota bisa cermat, bukan membiarkan begitu saja,” jelas Riki.

Menurut dia, untuk menjabat sebagai kepala sekolah, seseorang harus lolos dari tahapan administrasi sesuai mekanisme Dinas Pendidikan (Disdik) dan Badan Kepegawaian Daerah (BKD). Setelah itu, calon kepala sekolah harus mengikuti pelatihan leadership dan akademisi selama tiga bulan.
Tak hanya itu, setelah luluspun mereka harus mengajukan persetujuan dari Dirjen Pendidikan untuk pembentukan SK. ”Ada tahapannya, tak asal jadi saja.

“Seorang kepala sekolah juga mempunyai wajib mengajar selama 12 jam perminggu,” imbuh Riki.

Anggota Komisi IV DPRD Batam, Uba Ingan Singalinging juga menilai penempatan kepala sekolah di Batam berdasarkan koneksi dengan petinggi-petinggi yang ada di ruang lingkup Pemerintahan Kota (Pemko) Batam. ”Mereka jadi kepala sekolah berdasarkan kedekatan, bukannya prestasi yang diraih selama menjadi guru. Dan ini sangat miris,” kata Uba.

Bahkan, kata Uba, jabatan itu diduduki oleh mereka yang dekat bertahun-tahun, hingga tak memperhatikan kualitas pendidikan di sekolah tersebut. Hal itu didapat Uba dari guru-guru yang memberi informasi tentang kualitas pemimpin mereka yang kurang tepat.
”Yang bekingannya kuat, maka akan bertahan lama. Kita sudah punya data, siapa-siapa saja kepala sekolah yang cukup lama bertahan, padahal tak punya kemampuan apa-apa,” jelas Uba. (she)

Respon Anda?

komentar