Besok, Teater Selembayung Riau Hadirkan Perseteruan Puak Bugis-Melayu

231
Pesona Indonesia

BATAM (BP) – Minngu (8/2) besok malam, Teater Selembayung Riau akan mementaskan sebuah karya seni berjudul Bulang Cahaya di Gedung Sumatera Promotion Centre. Pementasan yang ditaja dalam bentuk semi opera ini masih serangkaian acara Hari Pers Nasional (HPN) tahun 2015.

”Pementasan ini berangkat dari novel karya Rida K Liamsi dengan judul yang sama. Kami mengambil intisari dari kejadian-kejadian dalam novel tersebut dan memadukannya menjadi sebuah naskah opera,” kata Fedli Azis, Ketua Teater Selembayung Riau.

Fedly menjadi penulis naskah sekaligus sutradara dalam opera ini. Ia mengatakan, Opera Bulang Cahaya ini akan menjadi sebuah opera tentang sejarah Kerajaan Melayu Riau-Lingga-Johor-Pahang. Tepatnya, tentang perseteruan antara Puak Bugis dan Puak Melayu.

Cerita tentang kekuasaan, dendam, sakit hati, dan perebutan kekuasaan mewarnai opera berdurasi 1,5 jam tersebut. Di sela-selanya, terselip kisah percintaan antara Raja Jaafar dan Tengku Buntat.

Kisah percintaan kedua keturunan bangsawan itu laksana drama Romeo-Juliet. Raja Jaafar merupakan anak Raja Haji Fisabilillah.
Garis keturunan menunjukkannya sebagai seorang Bugis-Melayu. Sementara Tengku Buntat adalah putri berdarah Melayu anak dari Tengku Muda Muhammad.

”Mereka itu berjanji untuk menikah, tetapi ditentang karena perbedaan puak tersebut,” jelas Fedly.

Fedly mengatakan, opera ini dapat membangkitkan kembali ingatan sejarah masa lampau. Kisah percintaan Jaafar dan Buntat nyatanya berbuntut pada sebuah pembagian kekuasaan yang termaktub dalam Perjanjian Traktat London antara Inggris dan Belanda.

Perjanjian itu menyebutkan, wilayah Hindia Belanda resmi berpisah dari wilayah Semenanjung. Wilayah Hindia Belanda itu, termasuk Riau, merupakan jajahan Belanda. Sementara wilayah Semenanjung, yang meliputi Malaysia, Pahang, Johor, hingga Temasek (sekarang Singapura) masuk dalam wilayah Inggris. ”Ini adalah legenda orang-orang tua dulu,” tuturnya.

Fedly mengatakan, opera ini sudah disiapkan sejak tiga bulan lalu. Rencana awal, opera ini akan dipentaskan di Tanjungpinang. Namun batal dan dialihkan ke Batam.

Seluruh pelakon dan tim kreatif diterjunkan langsung dari Pekanbaru, Riau. Totalnya ada 50 orang. Terdiri dari tujuh belas pemain, lima penari, tujuh pemusik, dan dua penyanyi. Serta, penata panggung, penata lampu, penata kostum, dan penata rias.

”Jadi di dalamnya nanti akan ada tarian kontemporer dan nyanyian-nyanyian. Seluruh percakapan dan nyanyian sudah kami rekam. Makanya, saya bilang ini semi opera,” tuturnya lagi.

Fedly berharap, pertunjukan ini tidak hanya ditonton oleh masyarakat Melayu. Melainkan juga seluruh masyarakat Batam dan seluruh insan pers yang merayakan HPN 2015.

”Ini supaya mereka juga tahu tentang sejarah Melayu. Termasuk di dalamnya Temasek (sekarang Singapura), dan Malaysia,” tutur pria yang membuat naskah ini dalam bahasa Indonesia tatanan Melayu itu. (ceu)

Respon Anda?

komentar