Harapan Besar pada Poltek Batam

220
Pesona Indonesia

batampos.co.id – “Batam itu menjadi ujung tombak masuk Indonesia. Harapannya, Politeknik Batam ini bisa menjadi motor atau penggerak industri Indonesia,” kata Mohamad Nasir, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi saat berkunjung ke Politeknik Negeri Batam, Senin (9/2).

Menristek dan Dikti Mohamad Nasir sengaja mengunjungi Politeknik Negeri Batam untuk melihat perkembangan riset, teknologi, dan pendidikan di kampus tersebut. Ia tiba pukul 09.30 WIB dan segera saja dibawa berdiskusi dengan sejumlah dosen dan tenaga administrasi kampus di Ruang Rapat 301 selama hampir dua jam.

Dalam diskusi tersebut, Menristek dan Dikti Nasir memberikan sejumlah masukan. Satu yang menjadi perhatiannya adalah masalah pengembangan Sumber Daya Manusia. Ia meminta para dosen Politeknik Negeri Batam melanjutkan sekolah hingga ke tingkat profesor atau jenjang S3.

“Pertama, dosennya harus sekolah lagi. Memang berat tapi harus dilakukan. Lakukan saja kerjasama dengan NUS, NTU, atau UTM. Atau kalau tidak dengan universitas dalam negeri seperti UI (Universitas Indonesia) atau ITB (Institut Teknologi Bandung),” ujar pria kelahiran Ngawi – Jawa Timur, 27 Juni 1960 lalu itu lagi.

Lebih lanjut Menristek dan Dikti meminta Politeknik Negeri Batam menggali teknologi-teknologi yang dapat menjadi ciri khas kampusnya. Ini seperti yang terjadi di Politeknik Nusa Utara di Tahuna, Kabupaten Sangihe.

Politeknik yang berada di wilayah perbatasan RI dan Filipina tersebut memiliki konsentrasi teknologi untuk bidang kemaritiman. Makanya, Menristek dan Dikti menamainya sebagai Kampus Bahari.

“Nah, kalau Politeknik Negeri Batam ini khasnya ada di apa? Apakah di bidang teknologi terapan? Itu bisa juga,” katanya.

Menanggapi arahan Menristek dan Dikti, Direktur Politeknik Negeri Batam Priyono Eko Sanyoto mengaku pernah mencoba memasukkan dosennya bersekolah di NTU atau NUS. Namun, batas nilai toefl di kedua kampus tersebut terlampau tinggi. Bahkan lebih tinggi daripada Amerika dan Australia.

“Menembus standar akademik itu yang sulit. Tidak mudah,” katanya.

Ia pun berpikir harus memiliki kenalan seorang alumni kedua universitas tersebut untuk, setidaknya, memberi tahu seluk beluk dan rahasia meraih nilai standar tersebut. Namun, di Batam, sulit mencari kenalan alumni kedua universitas tersebut.

“Kalau di UTM, mungkin lebih mudah. Kami sudah pernah menjajaki ke sana,” katanya.

Diskusi itu kemudian dilanjutkan dengan tour ke laboratorium kampus. Namun, Menristek dan Dikti lebih tertarik meninjau gedung Teaching Factory. Gedung itu tempat perakitan komponen-komponen dalam papan PCB.  (ceu)

Respon Anda?

komentar