Perpustakaan Jurnalistik Hadir di Kepri

190
Pesona Indonesia

batampos.co.id – Keinginan Ketua PersatuanWartawan Indonesia (PWI) Pusat Margiono untuk mendorong berdirinya perpustaan jurnalistik di Provinsi Kepri, telah terealisasi. Perpustaan itu diberi nama Perpustaan Jurnalistik Raja Ali Kelana yang beralamat di Ruko Mega Legenda Blok E 3 No 16, Batamcentre, Batam.

hpnPerpustaan inilah yang diresmikan dengan pemberian buku secara simbolis oleh Pengurus PWI Pusat yang juga Ketua Tim Buku Panitia Hari Pers Nasional (HPN), Widodo Asmowiyoto kepada Sekretaris PWI Kepri, Saibansah Dardani, sesaat sebelum diskusi dan acara bedah buku digelar di area Pameran Peradaban Pers HPN 2015 Kepri Mall, Batam, Jumat (6/2).

“Kami berharap dengan adanya perpustakaan jurnalistik ini, akan membuka wawasan masyarakat, khususnya kalangan mahasiswa dan pelajar bahkan para wartawan di Kepri,” ujar Widodo Asmowiyoto.

Selanjutnya, digelar acara bedah buku yang membedah 3 judul buku tentang kemaritiman dan tol laut. Tiga buku yang dibahas dalam kegiatan tersebut adalah Jokowi, Revolusi Mental Mewujudkan Indonesia Baru?, karya Usman Yatim.

Buku kedua berjudul Tol Laut dari Natuna ke Papua karya Sekretaris PWI Kepri, Saibansah Dardani.

Selanjutnya buku Di Laut Kita Jaya karya Nurcholis MA Basyari. Kegiatan dimoderatori Widodo Asmowiyoto.

Dalam paparanya berdasarkan isi buku yang dikarangnya, Usman Yatim banyak menyampaikan mengenai terobosan-terobosan dari Presiden Joko Widodo yang berawal dari Wali Kota Surakarta hingga menjadi Gubernur DKI Jakarta sebelum terpilih menjadi presiden.

Ia mengatakan, meski seharusnya saat ini Presiden Joko Widodo seharusnya belum habis masa jabatannya sebagai Wali Kota Solo, namun dengan posisinya sebagai presiden dia mampu menggaungkan revolusi mental dan Indonesia sebagai poros maritim dunia meski hal tersebut tidak akan mudah.

“Saya bukanlah follower fanatik Jokowi, tapi revolusi mental memang tepat untuk keadaan bangsa saat ini. Yang jelas, apa yang dilakukan merupakan gagasan yang di luar dugaan sebelumnya. Apalagi dia merupakan pengusaha mebel, namun dia berani menggaungkan kemaritiman sebagai sektor utama yang diusungnya,” kata dia.

Saiban dalam pemaparannya mengatakan, laut adalah kehidupan sehari-hari masyarakat Kepri. Bahkan di Kepri ada Suku Laut yang lahir besar dan meninggal di laut.

“Ketika laut tidak dimanfaatkan khususnya pada perbatasan. Bisa jadi akan terjadi disintegrasi bangsa,” kata dia.

Tol laut, kata dia, menjadi solusi bagi Kepri dan seluruh wilayah Indonesia untuk mencapai kesejahteraan.

“Di Kepri, akibat kurang tersedianya transportasi laut maka sebagian masyarakatnya lebih banyak mengonsumsi produk Malaysia dan lebih paham lagu Majulah Singapura dibanding lagu-lagu kebangsaan kita. Ini menunjukkan bahwa kurangnya pengelolaan kawasan perbatasan dari pemerintah pusat,” kata Saiban.

Jika hal tersebut tidak teratasi, kata dia, maka potensi disintegrasi bangsa sangat tinggi pada wilayah perbatasan yang tidak terurus dalah satunya dengan penyediaan transportasi laut untuk distribusi barang dan mobilitas masyarakat perbatasan.

Pengarang buku Di Laut Kita Jaya, Nurcholis, mengatakan sudah sejak lama revolusi mental dan kemaritiman sudah didengungkan namun yang perlu adalah tataran implementasi.

“Dibutuhkan orang-orang gila agar bisa mengemplementasikannya. Namun tidak bisa hanya menyandarkan pada pemerntahan saat ini. Namun harus juga didorong agar pemerintah berikutnya agar melanjtkan,” kata dia.

Direktur Konfederasi Wartawan ASEAN (CAJ/Confederation Asean Journalist) Persatuan Wartawan Indonesia, Big Solon Sihombing, yang menjadi salah satu penanggap dalam kegiatan tersebut mengatakan di Indonesia masalah mental yang harus diperbaiki.

“Revolusi mental memang harus dilakukan. Karena jika dibandingkan negara-negara lain terutama negara barat, mental bangsa Indonesia masih kalah jauh,” kata dia.

Perseteruan antara Polri dan KPK kata dia, tidak lepas juga dengan persoalan mental para penegak hukum.

“Karena mental yang tidak terasah, mereka malah berantem sendiri bukanya menegakkan hukum,” kata Sihombing.

Muhammad Nasir dari Kompas mengatakan pengenalan kepada anak-anak dan generasi muda tentang kemaritiman masih kurang.

“Harus diajarkan bagaimana mencintai air. Karena selama ini dianggap air membahayakan. Padahal manusia identik dengan air,” kata dia.

Sepanjang Jumat, kegiatan dalam rangkaian HPN di Kepri Mal Batam adalah Jurnalisme Warga Metro TV, Workshop photography Media Indonesia, Presenter Coacing Clinik MNC TV (6/2).

Selanjutnya, pada 7 Februari dilaksanakan Lomba Menggambar Pos Metro, Bedah Program Sibolang Trans TV, Seminar Mini Koran Sindo, Workshop “Vloger” Video Jurnalis Blogger ANTARA, Stand Up Comedy Show Metro TV, tari daerah, barongsai.

Launching Buku Museum Indonesia “Menyusuri Peradaban Pers Nusantara” Final Comic Challange Metro TV, Bedah Program Dr OZ, Meet The Comica TTS Kompas, Workshop Socmed Dalam Dunia Wirausaha oleh ANTARA pada 8 Februari.

Terakhir pada 9 Februari dilaksanakan Tolkshow “Kiat Menjadi Pemenang” Adinegoro, Presenter Coacing Clinic RCTI dan penutup.

Sementara itu, kemarin juga dilaksanakan Kovensi Bahasa dan Budaya di Pulau Penyengat Tanjungpinang dengan peserta sekitar 200 orang berasal dari komponen pers dari seluruh Indonesia.

Sekretaris Panitia HPN 2015 Suprapto seperti tulis oleh Info Publik mengatakan acara Konvensi Bahasa akan membahas berbagai kemungkinan sebagai upaya untuk menjadikan Pulau Penyengat sebagai warisan dunia.

“Para pakar akan mengkaji dari berbagai disiplin ilmu yang diharapkan dapat meyakinkan UNESCO untuk menjadikan Pulau Penyengat sebagai warisan dunia,” kata Suprapto.

Peserta Konvensi Bahasa dan Budaya juga ada yang berasal dari perwakilan UNESCO, masyarakat, pakar bahasa, dan tokoh-tokoh Melayu dari seluruh dunia.

Di samping mengikuti agenda konvensi, para peserta juga akan diajak untuk melihat situs-situs bersejarah di Pulau Penyengat dan sekaligus menyusuri situs bersejarah di kawasan Sungai Carang, Tanjungpinang. Pulau Penyengat adalah tempat ‘Bapak Bahasa Indonesia’ Raja Ali Haji yang memiliki karya monumental, yaitu Gurindam 12. (rhy/suc)

Respon Anda?

komentar