Stanly, Penggagas Paket Wisata Seks Siap Dihukum Mati

395
Pesona Indonesia

batampos.co.id – Meskipun ancaman hukuman maksimal Stanly, 36, hanya 20 tahun kurungan penjara, pria yang dihebohkan dengan kasus paket wisata seks dan narkoba di Batam ini, mengaku siap dihukum mati untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.

”Saya siap dihukum mati,” kata pria asal Tanjungpinang ini dalam acara pemusnahan narkoba di Direktorat Narkoba (Dit Narkoba) Polda Kepri, Rabu (11/2).

Sayangnya, Stanly ketika ditanya lebih jauh mengenai bisnis haramnya itu, memilih bungkam. Dia hanya menggelengkan kepala sambil menyaksikan barang bukti miliknya dimusnahkan.

Sebanyak 340 butir ekstasi berwarna coklat dengan logo monyet, 300 butir ekstasi berwarna pink berlogo layang-layang, dan 500 butir happy five milik Stanly sebagian besar dimusnahkan dengan cara diblender dan dilarutkan dengan air panas. ”Hanya sebagian kecil disimpan untuk dijadikan barang pembuktian perkara di pengadilan nanti,” ujar Kanit I Subdit III Direktorat Narkoba Polda Kepri, Kompol Aris Rusdianto.

Menurut Aris, narkoba milik Stanley diperkirakan mencapai Rp 242 juta, dengan asumsi harga satu butir ekstasi Rp 300 ribu dan happy five Rp100 ribu. ”Jika satu orang memakai satu butir, jumlah jiwa yang dapat diselamatkan mencapai 1.140 orang,” ungkap mantan Kasat Reskrim Polres Bintan ini.

Menurut Aris, Stanly diamankan Direktorat Narkoba Polda Kepri, pada 20 Januari lalu di bundaran Bandara Hang Nadim Batam. Dari hasil pengembangan kemudian ditemukan ratusan pil ekstasi dan happy five di kamarnya di apartemen di Nagoya.

Stanly mengaku barang haramnya dipasok AP dari Malaysia melalui kurirnya berinisial WS. Kini kurir serta bandar narkoba asal Batam ini menghilang. ”Kemungkinan ke luar negeri. Tetapi mereka berdua sudah DPO,” kata Dir Ditnarkoba Polda Kepri, Kombes Pol Wiyarso melalui Kasubdit III Diresnarkoba Polda Kepri, AKBP Andri.

Bukan hanya narkoba milik Stanly yang dimusnahkan, narkoba milik tersangka Shamsuri alias Sham bin Satar, warga Malaysia jenis sabu-sabu seberat 632 gram juga dimusnahkan. Disaksikan petugas BC, BPOM, Kejaksaan, serta organisasi penggiat anti narkoba, sabu sabu tersebut dilarutkan ke dalam air panas.

Kasubdit I Ditres Narkoba Polda Kepri, AKBP Moch Soleh mengatakan, pelaku ditangkap di Pelabuhan Ferry Internasional Batamcentre 11 Januari lalu. Dari tangan Shamsuri, diamankan sabu-sabu seberat 632 gram, yang dikemas dalam plastik. Untuk mengelabui petrugas barang haramnya disembunyikan di dalam sol sepatu.

Narkoba milik Shamsuri bernilai Rp 884,8 juta, dengan asumsi harga per gramnya Rp 1,4 juta. Bila satu gram sabu digunakan empat orang pengguna, jumlah jiwa yang dapat diselamatkan sekitar 2.528 jiwa. Sama dengan Stanly, Shamsuri juga dijerat Pasal 114 ayat 2, Pasal 113 ayat 2, dan Pasal 112 ayat 2, UU RI, Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika. Ancaman hukuman minimal 5 tahun penjara, maksimal 20 tahun penjara, denda Rp 1 miliar hingga Rp 10 miliar.

Kepada petugas Shamsuri mengaku sudah empat kali ke Batam. Namun, baru satu kali membawa narkoba. Tersangka mengaku disuruh oleh seseorang membawa barang tersebut. Namun, dia tak mengetahui orang yang akan menerima barang tersebut. (hgt)

Respon Anda?

komentar