Asyik Main Game Online, Puluhan Pelajar Digulung Satpol PP

438
Pesona Indonesia

batampos.co.id – Puluhan pelajar mulai tingkat SD, SMP hingga SMA/SMK kembali terjaring razia Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), Senin (23/2) pagi. Mereka terjaring saat asyik bermain game online di warnet daerah Sagulung dan Batuaji. Lebih parahnya, pelajar yang banyak terjaring berasal dari sekolah negeri.

Petugas Satpol PP Kota Batam melakukan pendataan terhadap pelajar yang terjaring razia di Sagulung dan Batuaji, Senin (23/2).  Foto: Cecep Mulyana/Batam Pos
Petugas Satpol PP Kota Batam melakukan pendataan terhadap pelajar yang terjaring razia di Sagulung dan Batuaji, Senin (23/2).
Foto: Cecep Mulyana/Batam Pos

Razia Satpol PP yang berlangsung dari pukul 09.00 WIB hingga pukul 10.30 WIB itu, berhasil mengamankan 41 pelajar yang diduga bolos sekolah. Semuanya langsung dibawa ke Markas Satpol PP yang ada di Batamcenter. Di sana, puluhan pelajar tersebut didata dan membuat surat pernyataan. Surat pernyataan itu meminta agar pelajar yang terjaring tak melakukan hal serupa dan mengakui kesalahan karena bolos dari sekolah.

Ekspresi pelajar yang terjaring pagi itu berbeda-beda. Ada yang diam, menangis, cemas, kesal hingga tertawa karena mendapat teman baru.

Gilang, salah satu pelajar SMK Negeri 1 yang terjaring razia pagi itu terlihat kesal bukan main. Remaja kelas 3 ini beralasan ke warnet untuk memprint tugas fisika yang diberikan guru. Ia pun telah meminta izin guru untuk bisa ke luar sekolah.

”Warnet itu bersebelahan dengan sekolah. Saya minta izin ke ibu guru untuk print tugas, tapi baru sampai di warnet saya langsung ditangkap dan disuruh naik mobil. Padahal sudah saya jelaskan kalau buat tugas, tapi om-om itu tak terima,” jelas Gilang.

Ia mengaku tak mau menandatangani surat pernyataan yang diberikan Satpol PP karena merasa tak bersalah. ”Kalau saya salah, saya akan tanda tangan. Tapi ini saya tak berbuat apa-apa, masa harus tanda tangan. Kalau saya bolos, pasti tas sudah saya bawa, ini tas masih di sekolah,” bebernya.

Sementara Hikmah, pelajar sekolah dasar yang terjaring razia pagi itu mengaku sengaja tak masuk sekolah karena takut ditanyai uang LKS oleh guru. Bersama abang kandung Afif, bocah sembilan tahun ini memutuskan untuk bermain game online tak jauh dari sekolah.

“Takut masuk sekolah, karena dimintai terus uang LKS Rp 130 ribu. Belum punya uang untuk bayar, tapi tiap hari ditagih bu guru,” terang siswa kelas 3 SD ini terus menangis.
Menurut dia, ia bersama Afif tinggal di sebuah panti di daerah Batuaji. Berbekal uang pemberian uang Rp 10 ribu, dua pelajar ini masuk warnet hanya untuk menghindari guru. ”Aku ajak abang, abang pun mau. Takut ke sekolah. Biasanya dikasih uang belanja Rp 2 ribu, tapi tadi dikasih uang Rp 10 ribu. Kami main game onlie, baru tiga kali” ujar Hikmah terus menangis.

Sedangkan Agus, siswa salah satu sekolah swasta mengaku nekat bolos sekolah karena menganggap guru yang mengajar mereka kurang produktif. ”Salah sekolah, masa ngasih kami guru yang kurang produktif. Jadi kami malas masuk sekolah,” akunya.

Kabid PPUD Satpol PP Batam, M Teddy Nuh mengatakan razia pelajar kali ini adalah tangapan dari keresahan masyarakat yang melihat banyaknya pelajar yang berkeliaran pada jam sekolah. Ia mengaku, semua pelajar yang terjaring diamankan dari puluhan warnet di dua lokasi.

”Kita jaring 41 pelajar. 29 orang siswa SMK/SMA, 6 orang pelajar SMP dan 9 orang murid sekolah dasar. Mereka kita amankan di warnet dan tak bisa membuktikan kalau sedang membuat tugas diwarnet tersebut. Pelajar yang paling banyak terkena razia dari sekolah negeri,” kata Teddy.

Razia yang berlangsung hampir dua jam itu sempat menemui kendala. Dimana banyak warnet yang malah tiba-tiba menutup pintu, padahal di dalam masih banyak anak-anak yang tengah bermain. Meski begitu, pihaknya tak tinggal diam untuk warnet tersebut dan merencana memberi teguran lebih keras.

”Kita imbau warnet tak memberi ruang untuk pelajar yang bolos bermain warnet. Dan bagi warnet yang ketahu-an melanggar dan menyembunyikan siswa yang bolos kita beri teguran keras. Mereka sudah kita data,” jelas Teddy.

Lanjut Teddy, siswa yang terjaring razia itu akan dikemba-likan ke sekolah masing-masing untuk diawasi. ”Kita data dan kita kembalikan ke seko-lah. Bagi yang tak dijemput, akan kita kembalikan kepada orang tua,” bebernya.

Sementara itu, Ade Sopyan, guru bidang kesiswaan SMPN 27 mendukung kegiatan yang dilakukan Satpol PP. Akan tetapi ia menyayangkan Satpol PP yang memanggil pihak sekolah untuk menjemput anak-anak yang terjaring razia.

“Untuk efek jera memang bagus. Tapi akan lebih baiknya Satpol PP memanggil orang tua murid. Sebab, karena dua orang anak, pelajaran disekolah terlantar karena sibuk mengurus mereka yang terjaring. Harusnya orang tua yang dilibatkan untuk ini,” terangnya.

Menurut dia, meski masih dijam pelajaran, orang tua harusnya bisa memantau anak-anak mereka.

“Anak-anak itukan diluar sekolah. Kalau disekolah baru tanggung jawab kami. Kalau disekolah kami sudah melakukan pengawasan dengan baik,” dalih Ade. (she)

Respon Anda?

komentar