Beginilah Potret Hukum di Indonesia

326
Pesona Indonesia

Kerja keras Marto Bin Landaso mengangkut satu ton kayu dari atas bukit di dalam hutan Nongsa, Kabil berakhir dibalik jeruji. Ia harus menjalani satu tahun penjara dan denda Rp 500 juta meski belum menikmati upah kerjanya Rp 200 ribu.

Kemarin, pria tak tamat sekolah dasar ini menjalani sidang putusan di Pengadilan Negeri Batam. Ia divonis satu tahun penjara dan wajib membayar denda Rp 500 juta karena melanggar pasal 83 UU RI no 18 tahun 2013 tentang pencegahan dan pemberantasan pengrusak hutan. Dengan ekspresi kaget dan pasrah, Marto yang sehari-hari bekerja sebagai buruh kasar menerima putusan bersalah majelis hakim Merrywati.

“Saya terima buk hakim,” ujar Marto yang saat itu didampingi penasehat hukumnya Jeremia O Sitorus dengan suara pelan.

Beberapa saat sebelum putusan, Jaksa Penuntut umum (JPU) Aji Sastrio menuntutnya satu tahun penjara dan denda Rp 500 juta. Mendengar tuntutan itu, Marto melalui penasehat hukumnya Jeremia O Sitorus mengajukan pembelaan. “Terdakwa mengakui kesalahan dan meminta keringanan hukuman,” kata Jeremia.

Menurut dia, saat kejadian klienya itu tak tahu sama sekali tentang larangan  mengangkut kayu. Apalagi saat itu Marto hanya mengakut kayu bukan sebagai penebang kayu di hutan. Karena mengharapkan upah Rp 200 ribu, Marto pun rela mengangkut 1 ton kayu dari atas bukit di dalam hutan Nongsa. Dimana mengangkut satu ton kayu seorang diri selama dua hari bukanlah pekerjaan mudah.

“Klien kami hanya masyarakat miskin yang tak tahu apa-apa. Apalagi terdakwa belum menikmati upah dari yang dijanjikan Amir (DPO) sebesar Rp 200. Padahal rencananya uang itu akan digunakan untuk tambahan biaya persalinan istrinya,” terang Jeremia.

Meski telah meminta keringanan hukuman, hakim Merry mengaku tak bisa mengurangi hukuman. Sebab hukuman yang dituntut jaksa penuntut umum merupakan hukuman minimal dari pasal yang dibuktikan. Apalagi, terdakwa mengakui perbuatanya mengakut kayu dan merasa bersalah.

“Menjatuhi hukuman satu tahun. Ini hukuman paling ringan dan tak bisa kami kurangi karena kamu terbukti bersalah,” terang Merry.

Diketahui Marto ditangkap anggota polisi di daerah Hutan Dam Nongsa Kelurahan Sambau 9 September lalu. Saat itu, Marto sedang memikul satu batang kayu jenis kruing dari dalam hutan menuju jalan besar. Kepada polisi, Marto mengaku hanya sebagai buruh angkut yang disuruh Amir (DPO) untuk membawa satu ton kayu keluar hutan dengan upah Rp 200 ribu. Namun hingga tertangkap Marto belum mendapatkan upah yang rencana akan digunakan untuk biaya persalinan istrinya. (she)

Respon Anda?

komentar