Sekali Transaksi Puluhan Juta

242
Pesona Indonesia

batampos.co.id – Setiap harinya ribuan liter solar subsidi diterima PT Bintang Abadi Sukses (BAS) dari puluhan pencoleng BBM bersubsidi di Kota Batam.

Setiap kali transaksi, perusahaan inipun mengeluarkan uang hingga puluhan juta.

Hal itu terungkap dari keterangan saksi yang dihadirkan jaksa penuntut umum (JPU) dalam sidang lanjutan penyelewengan solar subsidi di Pengadilan Negeri (PN) Batam.

Dimana tiga orang pekerja PT BAS yang telah divonis bersalah (dalam kasus yang sama), menjadi saksi Komisaris PT BAS Noldi.

”Hari ini (kemarin, red) kita menghadirkan tiga orang saksi. Mereka pekerja di gudang PT BAS,” kata JPU Aji kepada majelis hakim yang diketuai Khairul Fuad didampingi Alfian dan Yuli.

Harun, saksi yang memiliki tugas mengelola gudang milik Noldi mengakui pihaknya menerima solar bersubsidi dari pencoleng.

Dimana terakhir kalinya, satu liter solar subsidi dihargai Rp 7.900 perliternya.

”Tugas saya membeli minyak dan uang minyak itu ditransfer ke rekening saya. Semua atas perintah Pak Noldi. Saya hanya mengelola di gudang yang memiliki empat pekerja itu,” kata Harun.

Menurut dia, setiap harinya ada sekitar tiga hingga empat ton solar yang masuk ke gudang PT BAS. Dengan rata-rata transaksi hingga puluhan juta setiap kalinya.

”Setiap pencoleng membawa 200 hingga 250 liter solar ke gudang. Minimal transaksi Rp 20 juta dan ditransfer ke rekening saya.

Rata-rata solar yang kami beli tiga sampai empat ton perhari,” jelasnya.

Dilanjutkannya, selama ini pihaknya bisa aman dari sergapan petugas karena ada informan. Karena setiap kali adanya razia, pihaknya langsung menutup gudang hingga tak ada yang berani masuk.

”Tak pernah tertangkap karena selalu dapat informasi. Informasi dari pencoleng, karena merekalah yang di lapangan. Kalau ada razia kami langsung tutup,” terangnya.

Keterangan yang hampir sama juga dikatakan Bambang dan Adrian yang hanya bertugas menjaga gudang dan menerima solar dari pelangsir.

Setiap bulannya mereka mendapat upah Rp 2 juta ditambah uang makan Rp 300 ribu perminggunya.

”Kami juga bertugas memindahkan solar dari pelangsir ke dalam boks khusus yang telah disediakan. Boks itu bisa menampung satu ton solar,” terang mereka.

Keterangan ketiga saksi dibenarkan oleh Noldi. Namun sidang terpaksa ditunda hingga minggu depan karena masih banyak saksi yang akan dihadirkan.
Noldi dianggap melakukan tindak pidana penyelewengan bbm bersubsidi.

Jaksa juga menyebutkan usaha yang sudah dirintis Noldi sejak bulan Februari hingga September itu sudah melakukan ratusan kali transaksi.

Setiap bulanpun uang yang masuk kerekening Noldi berkisar diatas Rp 400 juta hingga Rp 1 miliar.

Untuk bisa memperoleh BBM bersubsidi, Noldi membeli solar dari pelangsir yang datang ke gudangnya.

Harga solar yang dibeli Noldi kepada pelangsir lebih tinggi dibandingkan harga solar subsidi yang dijual di SPBU.

Polda Kepri berhasil mengungkap kasus penimbunan solar subsidi di Tembesi yang dikelola Noldi pada Minggu, 21 September 2014 lalu. (bpos)

Respon Anda?

komentar