Helmy: Pelanggan ialah Investor Utama ATB

183
Pesona Indonesia

batampos.co.id – Sekretaris Komisi III DPRD Batam Helmy Hemilton bahkan mengklaim pelanggan menjadi investor utama untuk ATB selama ini.

air“Saya punya alasan untuk sampaikan kondisi ini. Pertama, selama ini pelanggan dikenakan biaya perawatan meter air paling sedikit untuk golongan termurah sebesar Rp 10.000 per pelanggan. Artinya tiap bulan dengan jumlah pelanggan sekitar 200.000 maka investasi dari pelanggan ini sebesar Rp 2 miliar,” ujar Helmy Hemilton, kemarin.

Selain itu, kata Helmy, pelanggan juga diwajibkan membayar uang jaminan pelanggan (UJP) jika ingin sambung baru atau sambung ulang sebesar Rp 50 ribu.

“Mau Rp 10 miliar juga disumbangkan masyarakat untuk ATB dari UJP saja. Definisi UJP ini pun tidak jelas,” ujarnya.

Masih kata Helmy, selama ini pelanggan terutama yang stop berlangganan tidak pernah dikembalikan UJP-nya. Padahal uang jaminan yang diberikan oleh pelanggan pada saat pengajuan sambungan harus dikembalikan seluruhnya kepada pelanggan bilamana telah berhenti berlangganan air bersih.

“Seyogyanya pelanggan hanya bayar satu kali UJP terhadap satu nomor langganan. Tapi yang terjadi pelanggan harus membayar kembali UJP setiap melakukan sambung ulang yang artinya bisa lebih dari satu kali,” kata politisi 34 tahun ini.

Helmy juga menuding sistem monopoli air bersih oleh ATB merugikan masyarakat selama ini. Ini dibuktikan dengan keputusan KPPU terhadap praktik monopoli ATB telah melanggar pasal 17 UU Nomor 5 Tahun 1999 tentang Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.

“Dalam amar putusan KPPU itu sudah jelas menyatakan PT ATB melanggar UU Nomor 5 Tahun 1999 bahkan ATB didenda hingga Rp 2 miliar saat itu,” katanya.

Helmy menyatakan, wajar jika masyarakat menuding ATB tidak profesional melayani kebutuhan air bersih karena akhir-akhir ini air di sejumlah wilayah ngadat bahkan mati total berhari-hari.

Kontribusi ATB sendiri kepada pemerintah menurut Helmy terus menurun. Tahun 2010 lalu ATB hanya berkontribusi Rp 48,5 miliar dan turun pada 2011 sebesar Rp 46,5 miliar.

“Padahal pelanggannya naik dan investasinya tidak begitu banyak lagi akhir-akhir ini,” ujarnya.

Corporate Communication Manager ATB, Enrico Moreno, mengatakan uang pemeliharaan Rp 10 ribu setiap bulan dari pelanggan akan digunakan untuk biaya pemeliharaan meteran.

“Setiap lima tahun kan ada kalibrasi meteran, kalaupun sudah tidak layak meterannya kami ganti, nah ganti itu kami tidak minta ke pelanggan,” beber Enrico.

Dia membantah jika pendapatan yang diterima pemerintah berkurang lantaran pembagian deviden untuk pemerintah telah ditetapkan sebesar 15 persen. Sedangkan untuk beban investasi berkelanjutan, Enrico mengklaim pihaknya yang mengeluarkan biaya sehingga pemerintah hanya menerima untung sesuai kesepakatan.

Wakil Presiden Direktur PT ATB, Benny Adrianto, mengatakan soal uang jaminan langganan (UJL) hanya dikeluarkan pertama saat penyambungan. Uang itu hanya sebagai deposit dan akan dikembalikan jika tak lagi berlangganan.

“Nanti akan kami kembalikan, tapi kami minta izin sama BP Batam (selaku pemberi konsesi pengelolaan air dengan ATB),” katanya. (spt/bpos)

Respon Anda?

komentar