Produksi Air Tersendat, Itu sebab Ada yang Tak Terima Kiriman Air

154
Pesona Indonesia
ilustrasi
ilustrasi

batampos.co.id – ATB juga menuding cuaca panas di Batam selama beberapa pekan terakhir jadi penyebab menurunnya produksi pengolahan air sehingga berakibat seretnya distribusi air ke pelanggan.

“Kondisi cuaca yang panas ini dan karena reaksi bahan kimia, kapasitas terpasang (mesin pengolahan produksi air ATB) tak bisa digas pol karena ketika digas pol gumpalan (endapan lumpur di dam) naik semua, jadi bikin mampet,” ujar Benny usai Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi III DPRD Kota Batam, Rabu (4/3).

Kondisi itu, sambung dia, menuntut penurunan kapasitas produksi. Ini terutama terjadi di dam Duriangkang yang merupakan induk produksi air ATB. Penurunan itu bahkan mencapai hampir 200 liter per detik.

“(Normalnya) 3.200 liter per detik, kini tinggal 3 ribuan,” bebernya.

Penurunan produksi itu berakibat ngadatnya aliran air di beberapa kawasan seperti Tanjungsengkuang, Batumerah, Bengkong, Baloi, dan Batamcenter di sebagian kawasan meski tak menyeluruh. Kondisi demikian juga berimbas pada standar minimal layanan terutama kelancaran aliran air.

“Dulunya kan 23 jam (sehari), sekarang ngedrop mungkin 20 jam ya orang komplain. Apalagi yang mereka sudah reguler yang biasanya dapat (air mengalir) pukul 07.00 ganti pukul 10.00 ya komplain,” kata Benny.

Pihak ATB mengklaim kini berupaya untuk mengatasi persoalan menurunnya produksi air tersebut dengan cara mengurangi paparan panas ke area produksi. Salah satunya dengan menutup bagian atas lokasi mesin prosuksi untuk meminimalisir suhu panas. “Kita gak menduga sampai separah itu (kondisi panas),” ujarnya.

Benny juga mengaku telah melakukan antisipasi dengan pemasangan filter baru sebelumnya. “Tetapi belum selesai dan keburu kena panas ini,” terang Benny.

Solusi jangka pendek yang ditawarkan ATB, Benny melanjutkan, dengan menyediakan tangki air keliling di daerah yang terdampak ngadat atau matinya aliran air. Hanya saja, kondisi itu akan berlangsung sedikit lebih lama sembari menunggu perbaikan filter selesai.

“Dalam waktu sebulan atau dua bulan ini kita layanai dengan tangki air kekurangannya, biasanya 3 tangki tapi kita tambahi lagi jadi 12 atau naiknya sekitar 300 persen tangki,” jelas Benny.
Itu belum termasuk estimasi gangguan proses peningkatan kapasitas produksi (uprating), yang akan selesai bulan Apri. “Tapi itu di luar gangguan ada panas matahari,” katanya.

Benny juga menegaskan pihaknya tak khawatir dengan pemutusan kontrak kerja sama dengan pemerintah terkait dengan putusan Mahkamah Konstitusi yang menganulir Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air. Banyak pihak yang menuding ATB berhemat lantaran kontrak hanya akan sampai 2020.

“Bahkan harus berhenti besok pun modal akan dikembalikan (pemerintah/BP Batam mengembalikan investasi ketika perjanjian berakhir), jadi tak ada kekhawatiran,” ungkapnya.

Pihaknya pun mengaku akan tetap melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya mendistribusikan air ke masyarakat selaku pelanggan. (rna/bpos)

Respon Anda?

komentar