TNI AU Cegah Pesawat Asing Masuk Udara Indonesia secara Ilegal

427
Pesona Indonesia
 PASUKAN TNI Angkatan Udara Skuadron 12 RSN menggelar simulasi pengamanan udara di Bandara Hang Nadim Batam, Kamis (27/8). Latihan ini untuk mengantisipasi masuknya pesawat asing secara ilegal di wilayah udara Indonesia. foto: Cecep Mulyana/Batam Pos

PASUKAN TNI Angkatan Udara Skuadron 12 RSN menggelar simulasi pengamanan udara di Bandara Hang Nadim Batam, Kamis (27/8). Latihan ini untuk mengantisipasi masuknya pesawat asing secara ilegal di wilayah udara Indonesia.
foto: Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos.co.id – Radar Pangkalan TNI AU yang berada di Bintan dan Ranai, Natuna tiba-tiba mendeteksi pesawat angkut milik asing memasuki wilayah udara Indonesia. Skuadron 12 Roesmin Nurjadin (RSN) yang saat itu berada di Bandara Internasional Hang Nadim Batam langsung mendapat perintah untuk memburu pesawat asing tersebut.

Dari lima pesawat yang ada, dua di antaranya melakukan pengejaran dan menyergap (intercept) pesawat asing tersebut. Sementara tiga pesawat bersiaga di Hang Nadim. Tak butuh waktu lama pesawat Hawk 100/200 milik TNI AU berhasil memaksa turun pesawat asing tersebut di Hang Nadim.

“Ini merupakan latihan patroli udara, simulasi dan juga intercept,” kata Danlanud Tanjungpinang, Letkol Pnb I Ketut Wijaya, saat ditemui di Bandara Internasional Hang Nadim Batam, Kamis (27/8).

Ketut mengatakan, teknik penyergapan merupakan bagian latihan pertahanan udara nasional (Hanudnas) yang digelar oleh TNI AU. Ini merupakan antisipasi menghadapi masuknya peswat asing secara ilegal di wilayah udara Indonesia.

Kepri, kata Ketut, sengaja dipilih sebagai lokasi latihan karena kawasan ini berbatasan dengan Malaysia dan Singapura sehingga potensi pesawat asing melintas secara ilegal sangat tinggi. Apalagi, hingga saat ini flight information region (FIR) di wilayah udara Kepri masih dikuasai Singapura.

Pantauan Batam Pos, simulasi yang digelar kemarin sangat dramatis dan seolah seperti bukan latihan. Apalagi saat dua pesawat Hawk 100/200 milik TNI AU menggiring pesawat hercules (yang diumpamakan pesawat asing) dan memaksanya mendarat di Hang Nadim Batam.

Saat masih di udara, satu pesawat hawk mengawal pesawat hercules itu. Sementara satunya lagi mengunci dari belakang. Pesawat hercules tersebut akhirnya menyerah dan mendarat di Hang Nadim. Namun dua pesawat hawk tersebut tetap berada di udara untuk memastikan hercules asing itu tak melarikan diri.

Begitu pesawat mendarat, sejumlah prajurit TNI AU bersenjatakan SS I dan SS II yang sudah bersiaga di bandara langsung merangsek ke pesawat hercules.  Sementara empat prajurit lainnya dalam posisi siap tembak mengepung pesawat. Beberapa di antaranya langsung masuk ke dalam pesawat hercules.

Tak ada perlawan yang berarti dari kru pesawat hercules. Tak berapa lama kemudian, anggota TNI AU berhasil membawa keluar tiga awak hercules. Namun saat di pintu keluar, salah satu diantara mereka mencoba kabur.  Melihat hal ini, dua orang personel TNI AU, segera melepaskan dua anjing pemburu. Begitu dilepas, anjing ini langsung mengejar satu orang awak pesawat asing yang melarikan diri itu.

Tanpa ampun, anjing ini berusaha merobek tangan (sudah diberikan pengaman) awak asing itu. Tiga orang personel TNI AU langsung berlari juga, dan melumpuhkannya. Setelah itu, ketiga orang itu diamankan ke dalam bus TNI AU.

Saat mobil bus itu beranjak pergi berakhirlah simulasi latihan tersebut. Seluruh personel TNI AU, terlihat begitu puas dengan latihan yang menegangkan tersebut.

Komandan Skuadron Udara 12 RSN, Letkol Jajang Setiawan, mengatakan  pesawat hawk sangat ideal dalam pelaksanaan misi ini. “Sangat unggul sekali,” ucapnya.

Jajang menjelaskan ada beberapa tindakan, yang dilakukan TNI AU Bila ada pesawat asing memasuki wilayah kedaulatan Indonesia. Yang pertama dilakukan penyergapan, setelah itu diusir keluar dari wilayah Indonesia. Lalu juga ada tindakan memaksa pesawat asing itu turun. Namun bila pesawat itu masih tetap juga melawan, TNI AU akan menembak jatuh pesawat itu. Namun tindakan ini, adalah opsi terakhir bila pesawat asing tak mau juga mematuhi perintah TNI AU.

“Setiap tindakan kami di atas (udara, red), selalu berkoordinasi. Untuk tindakan penghancuran koordinasinya langsung kepada Presiden RI,” pungkasnya. (ska/bpos)

Respon Anda?

komentar