Pak Presiden, Harga Kebutuhan di Batam mulai Naik

561
Pesona Indonesia
ilustrasi
ilustrasi

batampos.co.id – Pelambatan ekonomi dalam negeri akibat melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mulai mengganggu sektor riil atau konsumsi di Batam. Hal ini ditandai dengan melambungnya harga kebutuhan pokok di pasaran.

Pantauan di sejumlah pasar tradisional di Batam, harga sejumlah komoditas sembako terus merangkak naik. Misalnya harga daging ayam segar yang naik dari Rp 27 ribu menjadi Rp 38 ribu per kilogram (Kg) di Pasar Seiharapan. Sementara di Pasar Mega Legenda Batamcenter, harganya Rp 35 ribu per Kg.

“Apalagi ini mau Lebaran Haji (Idul Adha). Pasti naik lagi,” keluh Rum, warga yang ditemui di Pasar Seiharapan, Jumat (28/8).

Rum merupakan pengusaha kedai atau warung makan yang hampir setiap hari belanja bahan baku ke pasar. Sehingga dia tahu persis pergerakan harga-harga dari hari ke hari.

Selain daging ayam, harga telur kini juga naik di kisaran Rp 35 ribu hingga Rp 36 ribu per Kg.  Yang muncul tak biasa adalah tempe. Meski hargnya tetap, namun ukuran tempe yang dijual di pasaran saat ini diperkecil.

“Kalau ngeliat kondisi sekarang, ya memang harga-harga pada naik semua. Susah juga buat kami ini,” keluhnya.

Kenaikan harga daging ayam segar juga terjadi di Pasar Fanindo, Batuaji. Jika sebelumnya harga per Kg hanya Rp 30 ribu, kini naik menjadi Rp 36 ribu per Kg.

“Baru satu minggu ini naiknya,” ujar Rika, pedagang daging ayam di Pasar Fanindo, Batuaji.

Sementara itu harga daging ayam beku juga naik dari Rp 28 ribu menjadi Rp 30 ribu per Kg.

Harga daging sapi segar juga ikut naik. Jika sebelumnya Rp 110 ribu per Kg kini menjadi Rp 140 ribu. Sementara untuk harga daging sapi beku naik dari Rp 80 ribu menjadi Rp 85 ribu per Kg. Menurut Rika, lonjakan harga daging ini karena terbatasnya pasokan.

“Mungkin karena pengaruh dolar juga,” ucapnya mengira-ngira.

Harga aneka bumbu dapur, khususnya yang diimpor dari Malaysia, juga naik. Seperti bawang merah naik harga dari Rp 10 ribu menjadi Rp 14 ribu per Kg. Harga bawang putih juga mengalami kenaikan Rp 2 ribu, dari Rp 20 ribu menjari Rp 22 ribu per Kg.

“Dulu bisa beli 10 karung bawang putih seharga Rp 130 ribu, sekarang naik menjadi Rp 145 ribu, jadi sekarang belinya hanya tiga karung,” kata Yuli, pedagang kelontong di Pasar Mega Legenda, Batam, kemarin.

Akibat kenaikan harga ini, pelanggannya mulai mengurangi kuantitas belanjaannya.

“Ada pelanggan saya pedagang bakso. Biasanya belanja bumbu Rp 300 ribu perhari, sekarang cuma Rp 75 ribu. Mungkin karena dagangannya sepi,” ungkapnya.

Yuli mengaku merasakan dampak langsung dari perlambatan ekonomi saat ini. Yang paling dia rasakan adalah menurunnya daya beli konsumen. Dia menghitung, jika sebelumnya dia mampu balik modal dalam waktu sehari (untuk modal Rp 4 juta), namun sekarang omsetnya hanya sekitar Rp 2,5 juta per hari.

“Untuk modal berikutnya pun tak cukup,” ujarnya.

Sekarang, kata Yuli, banyak pedagang yang harus membeli barang kebutuhan pokok lebih sedikit atau dipaskan dengan modal. Alasannya, mereka takut modal tertanam terlalu lama dikarenakan banyak barang kebutuhan pokok, seperti sayuran, banjir di pasaran, dan jika tidak laku maka bisa busuk sehingga pedagang rugi.

Sedangkan harga beras berada dalam kondisi stabil, dengan harga paling murah Rp 7 ribu dan paling tinggi Rp 11 ribu.

“Pembeli tetap normal biasa, mungkin karena beras bahan pokok utama ya,” kata salah seorang pedagang beras, Anwar, di Pasar Mega Legenda.

Kenaikan harga juga dikeluhkan oleh salah seorang warga, Nora. Wanita 30 tahun ini mengaku mulai kesuiltan mengatur keuangan karena naiknya sejumlah kebutuhan pokok. Mulai dari daging, telur, dan bahan pokok lainnya.

“Jadi harus irit mengatur pengeluaran,” katanya.

Kenaikan harga kebutuhan pokok ini sangat dirasakan para pedagang nasi ayam penyet. Edi Santoso salah satunya. Sebab Edi mengaku belum berani mengambil risiko dengan menaikkan harga nasi ayam penyetnya. Sebab dia takut pelanggannya akan kabur.

“Masih tetap Rp 15 ribu per porsi,” kata Edi saat ditemui di Perumahan PJB, Sagulung, kemarin.

Imbasnya, Edi harus kehilangan omset. Sebab, pada harga normal Edi mampu membeli sekitar sembilan Kg daging ayam. Namun karena kini harganya melonjak, dia terpaksa harus mengurangi belanja bahan baku.

“Beli daging ayam modalnya sudah Rp 324 ribu, belum beras dan sayur dan lain-lainnya,” ujar Edi

“Biasanya satu hari jualan bisa nyimpan uang Rp 3 juta, sekarang hanya Rp 1 juta.”

Selain itu, menurut Edi saat ini jumlah pembeli di kedainya juga turun. Sehingga dia terpaksa memberhentikan tiga orang karyawannya.

“Sekarang tidak pakai karyawan lagi,” pungkas Edi.

Hal senada di sampaikan penjual ayam penyet lainnya, Dewi. Dia mengaku bingung menyiasati kondisi saat ini.

“Mau naikin harga, nanti lari pelanggan. Tapi kalau ukuran ayamnya dikurangi nanti diprotes,” ungkap penjual ayam penyet di depan Perumahan Puri Agung 2 ini.

Kondisi ini, membuat dia harus memutar otak agar dagangannya stabil.

“Kami gak tahu kenapa naik, pemerintah datang cek lah,” ujarnya.

Beruntung tidak semua kebutuhan pokok mengalami kenaikan harga. Misalnya cabai dan sayur mayur. Harga cabai bervariasi pada rentang Rp 30 ribu hingga Rp 40 ribu per Kg.

Harga Sawi hijau yang pada bulan puasa lalu mencapai Rp 18 ribu kini malah turun menjadi Rp 14 ribu per Kg. Sayangnya, penjualan sayuran di pasaran juga tidak lancar. Diduga ini karena menurunnya daya beli masyarakan sehingga mereka mulai mengurangi porsi belanjanya meski harga sayur turun.

Menurunnya daya beli masyarakat tersebut dibenarkan oleh salah satu pedagang di Pasar Seipancur, Ani. Menurut Ani, saat ini masyarakat cenderung mengurangi porsi belanjaannya untuk penghematan.

“Ada yang beli tapi sedikit,” imbuh Ani.

Pantauan Batam Pos di toko distributor makanan dan minuman impor di Komplek Bumi Indah, aktivitas bongkar muat barang masih berjalan seperti biasa. Demikian juga dengan proses pengiriman. “Masih standarlah. Memang selain dari Singapura, kami juga stok barang dari Malaysia. Kalau dibilang nilainya turun, kurang berasa juga. Harga pasokan di sana masih sama, cuma memang sekarang ambil barang lebih banyak dari sana,” tutur Acun, salah satu pengusaha impor makanan.

Ia mengatakan, belum ada kenaikan harga produk impor tersebut.

“Meski ringgit turun, tak bakal turun juga di sinilah. Kan, kami juga itung ongkos kirimnya,” ujarnya.

Demikian juga dengan Ifah. Penjual sayur mayur di Pasar Penuin ini mengatakan kenaikan nilai tukar dolar dan menurunnya nilai ringgit tidak terlalu signifikan pengaruhnya. Hanya saja, beberapa sayur impor miliknya mengalami kenaikan seperti aneka jenis jamur yang sudah dipaketkan, lobak putih, sawi putih Tiongkok, batang bunga bawang hingga tomat cherry, baby kailan, hingga jenis lainnya.

“Jamur kami impor dari China, cuma pengirimannya melalui Singapura. Kalau sekarang, kadang dari Malaysia,” kata Ifah.

Tapi harganya bahkan cenderung naik. Misalnya jamur shitake, per 200 gram yang awalnya dijual Rp 16 ribu, kini dijual Rp 18 ribu.

“Katanya pengemasan di Malaysia harganya naik juga.” katanya.

Ifah juga tak menampik, selain mendatangkan aneka jenis sayuran lokal dari Berastagi dan Bandung, mereka juga banyak memasok jenis sayuran yang diimpor dari Malaysia. “Umumnya jenis sayur kemasan,” ungkapnya.

Selain sembako, pelemahan rupiah juga berimbas pada naikknya harga barang elektronik. Seperti disampaikan pemilik Bigge Electronic di Lucky Plaza, Koko Isman, kemarin (28/8).

Barang elektronik tokonya rata-rata merupakan barang impor yang didistribusikan dari Jakarta, sehingga terpengaruh kenaikan kurs dolar AS. “Harga elektronik naik sekitar 10 persen,” ungkap Isman, kemarin.

Isman kemudian mengatakan perusahaan yang memegang hak penjualan barang elektronik di Indonesia banyak menerapkan kebijakan subsidi untuk produknya. Artinya mereka memberikan potongan harga agar kenaikan harga barang elektronik tidak terlalu signifikan

“Aturan harga menjadi sekian, namun karena dikasih subsidi, harganya tidak terlalu naik, karena takutnya kalau tak dapat subsidi, tak ada yang beli nantinya,”katanya.

Perusahaan juga mengambil kebijakan menjual kembali barang stok lama, tentu saja dengan harga lama yang kemudian digabung dengan barang baru untuk mengatasi permasalahan dalam penjualan. Barang baru diambil lebih sedikit karena harga mahal akibat kurs dolar.

“Sehingga barang stok lama diambil lagi untuk mencukupi kebutuhan penjualan,”  kata Isman.

Untuk penjualan, Isman mengakui terjadi penurunan daya beli tapi tidak banyak, hanya sekitar 10 persen. “Orang Batam lebih suka menanamkan modalnya untuk suatu yang bisa diputar balik, bukan hanya sekadar kebutuhan pribadi,” ujarnya.

Kondisi serupa dirasakan para penjual elektronik di Mall Top 100. Menurut sejumlah pedagang, saat ini rata-rata barang eletronik naik harga.

“Kami mengikuti perkembangan dolar. Kalau dolar naik barang (elektronik) naik juga,” kata seorang pedagang, kemarin.

Namun di Surga Elektronik, hingga kemarin belum ada perubahan harga yangberarti.

“Belum ada informasi kenaikan harga dari rekanan. Jadi kami menjual televisi, kulkas, dan mesin cuci serta yang lainnya dengan harga yang sama sesuai branding. Bahkan cenderung ada promo,” ujar Manajer Surga Elektronik Penuin, Asiong.

Asiong mengatakan, kenaikan harga elektronik tersebut tergantung informasi dari rekanan mereka, pemilik masing-masing brand dari pusat.

“Kalau mereka bilang naik, ya kita naikkan. Tapi tak tahu kalau untuk barang baru yang akan masuk, bisa jadi naik,” ujarnya. (bpos)

Respon Anda?

komentar