Air Baku Menyusut, ATB Kurangi Produksi Air Bersih

332
Pesona Indonesia
Salah satu kondisi dam di Batam yang menyusut. foto: cecep mulyana / batampos
Salah satu kondisi dam di Batam yang menyusut.
foto: cecep mulyana / batampos

batampos.co.id – Ancaman krisis air bersih di Batam mulai menjadi kenyataan. Senin (31/8), pasokan air bersih dari PT Adya Tirta Batam (ATB) tersendat hampir di semua wilayah di Batam.

Bahkan kawasan Batam Kota yang selama ini nyaris tak pernah bermasalah dengan pasokan air bersih, juga merasakan dampak krisis tersebut. Mulai dari kawasan Seipanas, Batamcentre, Simpangkabil, hingga ke perbatasan Nongsa.

”Di rumah saya, air baru ngalir pukul 07.00 WIB tadi. Matinya (air) sejak Sabtu (29/8) pukul 24.00 WIB,” kata Awi, Warga Perumahan Cipta Regency, Batamcenter, Senin (31/8).

Awi heran. Pasalnya, ia tak mendengar pemberitahuan tentang adanya gangguan aliran air. Dan selama tinggal di sana, ia jarang mengalami gangguan air.

”Air lancar terus,” tuturnya.

Selama satu hari penuh, Minggu (30/8), aliran air di rumahnya terhenti. Ia pun memutuskan untuk mengungsi di rumah saudara. Sebab, di rumah tak ada persediaan air.

”Saya buka-buka media sosial, ternyata bukan tempat saya saja yang mati air. Padahal di website ATB, pemberitahuan gangguan itu untuk wilayah Pelita saja,” katanya.

Sementara itu, pada waktu yang hampir bersamaan, sekitarpukul 07.30 WIB, aliran air di Perumahan Tiban Bukit Asri juga terhenti. Ditemui pada pukul 10.00 WIB, Nisa, warga perumahan itu mengatakan, air belum mengalir kembali.

”Untung kami sudah ada persiapan,” tutur gadis 23 tahun itu.

Ia dan keluarga sudah menampung air dengan dua buah ember besar berukuran masing-masing 30 liter. Selain juga memenuhi bak kamar mandi.

Antisipasi itu dilakukan sebab tiga hari sebelumnya (Jumat (28/8)), air berhenti mengalir mulai pukul 07.00 WIB. Air baru mengalir lagi pada pukul 21.00 WIB. Alhasil, ia tak mandi.

”Waktu itu saya tak tahu kalau air akan mati. Makanya, saya menampung air. Takut air mati mendadak lagi,” ujarnya.

Pada pukul 09.00 WIB, aliran air di wilayah Seipanas mulai terhenti. Hingga pukul 13.00 WIB, aliran air masih tetap terhenti. ”Tidak tahu ini kapan mau ngalir,” kata Rita, warga setempat.

Penderitaan warga Batam Kota ini belum seberapa jika dibandingkan dengan warga Sagulung dan Tanjungriau, Sekupang. Di sana, aliran air ATB ngadat sejak Minggu (30/8). Hingga kemarin (31/8), air tak kunjung mengalir, setetes pun.

Beruntung, warga setempat kebanyakan sudah melakukan antisipasi dengan menampung air di dalam drum-drum.

”Kalau yang tak punya drum bagaimana, bisa-bisa nggak mandi,” kata Yos, warga Perumahan Sagulung Baru, Blok A Nomor 5, kemarin.

Namun bukan berarti Yos terhindar dari rasa cemas. Sebab, stok airnya juga akan segera habis jika air ATB tak kunjung mengalir. Karena stok air yang dia miliki digunakan untuk semua kebutuhan sehari-hari. Mulai dari mandi, memasak, dan mencuci pakaian.

”Kalau nggak hidup-hidup terpaksa beli air galon untuk mandi,” imbuhnya.

Di Perumahan Putra Moro Indah II, Sagulung, kondisinya masih agak lumayan. Dimana air ATB hanya sesekali ngadat. Hal ini sudah dirasakan oleh warga sejak beberapa hari yang lalu.

”Kalau pagi air macet, tidak bisa mengalir sampai ke dalam rumah,” ujar Ses, 42, warga Perumahan Putra Moro Indah II, Sagulung sambil mencuci piring di luar rumahnya.

Kata Ses, air mulai macet pukul 05.00 WIB hingga pukul 11.00 WIB. Air mulai lancar kembali pada pukul 17.00 WIB sampai pagi pukul 04.00 WIB.

”Air masuk juga kecil, mandi harus cepat-cepat,” ungkapnya.

Untuk mencukupi kebutuhan keseharianya, dia terpaksa berjaga pada malam hari untuk menunggu air bak mandinya penuh.

”Air hanya masuk di ketinggian satu meter saja,” katanya.

Air yang ditampung malam harinya itu tidak cukup untuk kebutuhan sehari. ”Habis buat mandi anak yang akan sekolah.”

Krisis air bersih juga dirasakan warga Perumahan Marina View, Tanjungriau, Sekupang. Di sana, air sudah berhenti mengalir sejak tiga hari yang lalu. Hingga kemarin (31/8) air tak kunjung mengalir.

”Semalam pukul 00.00 WIB hidup sebentar, trus mati nggak tahu lagi. Pagi mau buka kran sudah mati,” terang Amin, warga Blok B-1 Marina View, kemarin (31/8).

Untuk mencukupi kebutuhan air bersih kesehariannya, warga mengaku terpaksa membeli air galon isi ulang. ”Satu hari bisa empat galon untuk kebutuhan mencuci, mandi, dan keperluan lainya,” tukas Neneng, warga lainnya.

Warga mengaku kecewa dengan kondisi ini. Sebab mereka merasa sudah memenuhi kewajiban membayar tagihan bulanan. ”Sampai Rp 130 ribu per bulan, kalau terlambat disegel,” keluhnya.

Warga Botania, Batamcenter dan sekitarnya juga mulai merasakan gangguan pasokan air bersih ATB. Namun mereka beruntung, karena pada malam hari air menngalir, meskipun volumenya lebih kecil dari biasanya.

Akibatnya, warga berbondong-bondong membeli drum untuk menampung air. Ada juga yang memborong air galon untuk kebutuhan memasak dan mandi.

”Pada malam hari airnya hidup lagi, jadi kami tampung dengan drum-drum plastik ini,” kata Roni, salah satu warga perumahan Nadim Raya, Batamcenter, kemarin.

Kondisi ini memaksa Roni harus begadang di malam hari untuk menampung air. Sebab, pagi-pagi dia harus menyediakan air untuk mandi anak-anaknya sebelum berangkat ke sekolah.

Melda, ibu rumah tangga di perumahan Botania Garden mengeluhkan hal yang sama. ”Kami terpaksa menghemat persediaan air yang ada,” ucapnya.

Tak mengalirnya air ini tak hanya dirasakan oleh warga di perumahan saja. Namun para pengusaha jasa cucian (laundry) di sekitaran Botania juga mengeluh. Sebab banyak warga yang mengantarkan baju untuk dicuci. Namun karena air tak mengalir, terpaksa baju-baju tersebut tak bisa dicuci. Akibatnya, omset pengusaha turun drastis.

”Banyak pelanggan yang kecewa, sebab cucian tak bisa selesai tepat waktu,” tutur Ana, salah satu pengusaha laundry di daerah Botania.

Menjawab keluhan ini, Wakil Presiden Direktur PT ATB, Benny Andrianto, mengatakan gangguan pasokan air bersih ini akibat berkurangnya debit air di Dam Seiharapan. Sehingga ATB juga mengurangi produksi air bersih sebesar 30 persen. Mestinya, kata Benny, yang terdampak hanya wilayah Kecamatan Sekupang dan Tanjunguma.

”Ini semua dampak dari el nino. Ini terpaksa kami lakukan dan ini yang pertama dalam 20 tahun ini,” kata Benny dalam konferensi pers, kemarin (31/8).

Kata Benny, kondisi Dam Seiharapan saat ini sudah sangat memprihatinkan. Dam itu sudah menyusut sekitar 3,82 meter. Dan akan mencapai titik kritis saat sudah menyusut lima meter. Water Supply Rationing atau penggiliran menjadi alternatifnya. Rationing adalah suatu upaya untuk memperpanjang usia pemakaian air baku di dalam dam dengan mengurangi kapsitas produksi pada suatu WTP.

”Kalau kapasitas produksi ini tidak turun, maka dam itu hanya akan bertahan sampai 8 Oktober. Kalau rationing ini dilakukan, bisa bertahan sampai 29 Oktober,” katanya.

Dalam keadaan normal, produksi air bersih di Dam Seiharapan adalah 210 liter per detik. Namun mulai hari ini, Selasa (1/9) akan diturunkan menjadi 140 liter per detik atau diturunkan sekitar 70 liter per detik.

Saat ini, kata Benny, ada sekitar 32 ribu pelanggan yang menggantungkan hidup dari dam Seiharapan. Semuanya tinggal di Kecamatan Sekupang. Tetapi jika kemarau masih berlanjut, hal yang sama akan dilakukan untuk semua dam yang ada di Batam. Imbasnya pasokan air bersih di Batam akan berkurang.

Untuk dam Duriangkang, Benny memperkirakan rationing ini akan dilakukan dalam dua tahap yakni sekitar November pada aliran di daerah Bukit Senyum, Bengkong dan sekitarnya. Kemudian pada awal Desember akan dilakukan rationing atau penurunan produksi untuk Batamcenter dan sekitarnya.

”Ya, kita harus akui bahwa kita ini memang lagi krisis air bersih. Pada akhirnya semua dam juga akan dilakukan rationing. Hanya untuk awalnya dilakukan di Dam Seiharapan ini,” katanya.

Benny mengatakan tindakan ini dilakukan untuk menyelamatkan kebutuhan air bersih Batam sampai Februari 2016 mendatang. Sambil berharap akan turunnya hujan.

”Ingat, perkiraan el nino ini tidak tentu. Ada yang bilang sampai akhir Desember bahkan ada yang bilang lebih lama lagi,” katanya.

Dam Duriangkang merupakan yang terbesar di Batam dan mampu memproduksi air bersih 1.998 liter per detik. Sedangkan Dam Nongsa sudah berkurang produksinya sekitar 50 persen. Saat ini kebutuhan air untuk warga sekitar sudah disuplai dari dam Duriangkang. Dam Muka Kuning juga sudah mulai mengering dan berdampak pada produksi air.

Dalam hitungan ATB Batam, umur lima dam yang dikelola tinggal sebentar. Dam Seiharapan ketersediaan air bakunya 225 cm dengan umur produksinya tinggal 50 hari. Dam Seiladi ketersediaan airnya 315 cm dengan umur produksi 126 hari. Dam Muka Kuning, ketersediaan airnya 297 cm dengan umur produksi 119 hari. Dam Nongsa ketersediaan airnya 88 cm, dengan umur produksinya 49 hari. Dam Duriangkang ketersediaan airnya hanya 403 cm dengan umur produksi 268 hari.

Sementara Coorporate Communication Manager ATB, Enriqo Moreno, menambahkan bahwa dam di Batam yang hanya berharap pada hujan akan mengering jika musim kemarau berlanjut. Jika kondisi seperti saat ini masih berlanjut, maka ATB kemungkinan akan terus menurunkan produksinya hingga 30 persen.

”Dam Seiladi juga sudah mengkhawatirkan. Kalau tetap seperti sekarang ini maka dam tersebut hanya akan bertahan sampai 19 Desember,” katanya.

Enriqo menjelaskan, bahwa saat ini dam tersebut sudah menyusut 2,79 meter. Belum lagi dam tersebut juga menopang air bersih untuk pelanggan yang biasa dapat air dari sei Harapan.

Untuk mengatasi hal tersebut, ia mengimbau agar semua pelanggan bisa mengubah pola pemakaian air sehingga dapat menghemat air bersih. Di mana diharapkan komitmen dari semua pelanggan untuk berhemat. Ia juga mengharapkan agar warga menyiapkan tampungan secukupnya.

”Dalam menumpang air pun harus secukup dan seperlunya saja. Mari kita berhemat air bersih dan berharap el nino ini segera berakhir,” harapnya.

Lalu bagaimana dengan tangki air bersih dari ATB? tidak akan dilayani. Di mana menurut Enriqo, tangki air bersih gratis tersebut hanya akan diberikan kepada daerah yang mengalami gangguan aliran air.

”Ini kan bukan karena gangguan operasional kami. Tetapi karena memang airnya yang sudah sangat terbatas,” katanya. (ceu/rna/ian/ska/cr14)

Respon Anda?

komentar