Aktivis Anak: Suntik Mati Kelamin Pemerkosa

304
Pesona Indonesia

batampos.co.id – Vonis penjara 13 tahun dan denda Rp 60 juta terhadap Ac, 33, ayah yang memperkosa anak balitanya dinilai aktivis anak Batam terlalu ringan. Seharusnya, hukumannya maksimal.

“13 tahun itu tak sebanding dengan luka dan trauma yang diderita korban,” ujar Irwan Setiawan, dari Yayasan Setara Kita Batam.

Pria yang sudah puluhan tahun mendampingi korban kekerasan seksual terhadap anak ini menilai, seharusnya Ac dihukum mati karena perbuatannya melampaui batas-batas kemanusiaan. Apalagi yang ia perkosa adalah anak kandungnya yang masih balita.

Menurutnya, di beberapa negara, sudah diterapkan hukuman mematikan alat kelamin pemerkosa. Apalagi jika korbannya anak-anak di bawah umur. “Jadi dipenjara dan disuntik mati kelaminnya, supaya tak bisa lagi memperkosa,” ujarnya.

Menurutnya, jika hal itu dilakukan, maka tidak akan dinilai melanggar HAM karena pelaku masih tetap hidup. Hanya kemaluannya saja yang dimatikan, supaya ada efek jera bagi yang lainnya.

“Memang belum ada payung hukumnya, tapi perlu diupayakan karena exploitasi terhadap anak di Indonesia itu sudah masuk kategori darurat,” tegasnya.

Pemerkosaan yang pelakunya ayah kandung dan yang diperkosa anak kandung yang masih balita benar-benar tidak ada lagi celah untuk memaafkan pelakunya. Mengurangi hukumannya dua tahun dinilai Irwan tidak pantas. “Tidak ada efek jeranya kalau cuma 13 tahun,” katanya. (nur)

Respon Anda?

komentar