Aku Dulunya Seorang Pelacur

1453
Pesona Indonesia

Gesture__woman_lying_downbatampos.co.id – Kini aku tergagap dalam pergaulan wanita baik-baik. Sejak usia 13 belas tahun diriku diajari oleh para germo bagaimana melayani nafsu lelaki. Setiap gerak lekuk tubuh harus menarik perhatian dan menimbulkan birahi mereka. Jangan tanya iman, agama atau hal religius lainnya, semua itu hanya tinggal kenangan masa lalu ketika masih di kampung.

***

Terlahir yatim piatu seolah hidup tak memberikanku pilihan. Janji bekerja di pulau seberang ternyata tipu muslihat. Sudah 6 tahun aku resmi menjadi penghuni di daerah lokalisasi yang konon katanya kedua terbesar setelah Doli ini.

Tak ada sanak saudara tempat mengadu, hanya lelaki kelaparan pengarung samudra yang menatap tubuhku dengan bengis setiap diajak bercinta. Meski sering disebut penjaja cinta tak pernah sekalipun aku merasakan cinta.

Jika kemarin FA, seorang pria paruh baya itu, tidak menebusku dan membawaku pulang ke rumahnya, mungkin aku bisa-bisanya menjadi penghuni abadi di lokalisasi tersebut.

Namun bagiku yang masih jalang ini, belum kenal yang namanya kehidupan berumah tangga. Bagiku keberuntungan ini hanya bonus besar, aku tak perlu lagi melayani puluhan lelaki dalam sepekan mengejar setoran.

Menjadi wanita baik-baik tak semudah yang dibayangkan. Aku sering memagut diri di depan cermin , apa yang salah dengan diriku. Mengapa ibu-ibu komplek selalu mencibirku, takut suami mereka tergoda. Bukankah mereka lebih cantik dan terhormat? Anjing peranakan tak akan mengorek-ngorek sampah seperti anjing liar, jadi apa yang harus ditakutkan?

FA, dulunya adalah pelanggan setiaku. Meski tak gahar diranjang lelaki ini memberi pilihan hidup lebih baik. Ada dua masa depan pasti seorang pelacur, tetap melacur hingga mati atau sedikit naik kasta menjadi germo. Bisa dibilang jalan hidupku sedikit melenceng dari perkiraan orang-orang.

Meski lokalisasi mirip komplek perumahan, ternyata banyak perbedaan diantara keduanya. Kalau dulu bebas menyapa dan membawa masuk laki-laki siapa saja ke dalam rumah. Sekarang jika aku membawa masuk laki-laki asing bisa berujung dampratan dan makian tetangga.

“Repot menjadi wanita baik-baik,” ujarku pada Tina. Satu-satunya wanita dikomplek yang mau bicara dengan diriku.

“Lah kamu baiknya dengan lelaki saja,” tukasnya.

“Ibu-ibu itu mau disenyumin merengut duluan, hanya bapak-bapak yang ramah di sini,” bisikku sambil bersung-sungut.

“Ramah, rajin menjamah? La iyalah baju kamu kaya gini. Katanya FA sudah memborong semuanya.” Tina menunjuk belahan dadaku yang menyembul dari balik kaos ketat yang kupakai.

“Jadi kalau sudah diborong nggak boleh dilihat juga?” selidikku.

Tina mengangguk tanda setuju, matanya membulat penuh arti.

“Termasuk ini, ini, dan ini?” ujarku sambil menunjuk paha, bokong dan bagian intim yang terbalut rok dalam tipis.

“Senyum dan manjammu juga hanya untuk suamimu,” tandasnya. Aku pun manggut-manggut.

Komplek perumahanku selalu ramai oleh gosip. Apalagi sejak kedatanganku disini, gosip semakin tumbuh subur. Kini rumor yang beredar adalah bahwa FA akan menceraikanku.

“Ooo pantas sekarang nggak gatel lagi. Mau dicerai sama suaminya,” nyinyir seorang wanita muda berbicara, diiringi derai tawa wanita lain di ujung komplek.

“Bukannya kalau dicerai lebih berbahaya. Nanti malah minta pelihara suami kita,” ditimpali oleh yang lain.

“Hush diam sundalnya lewat,” ujar ibu yang paling gemuk. Kompak segerombolan wanita itu menutup mulut, memasang wajah tanpa dosa.

Aku berjalan melewati kerumunan ibu-ibu komplek. Menahan diri atas semua gosip bukan hal sulit, bukankah dulu semua orang memangilku lonte?

Sesungguhnya FA tidak pernah mempermasalahkan penampilan seksi atau keramahan berlebihan. Mantan duda paruh baya itu hanya butuh teman. Semenjak istrinya didiagnosa kanker paru-paru tiga tahun lalu, kelima anaknya dtitipkan kepada sanak di Jawa. Hingga istrinya berpulang dua lalu FA makin jauh dengan anak-anaknya. Kehilangan membuatnya merasa bersalah, anak-anak tak akan lebih baik dengannya. Pria ini memilih hidup selibat, namun akhirnya bertemu denganku di warung kopi dekat lokalisasi.

“Bu saya mau cerita boleh nggak?” curhatku kepada Tina. Sekarang hanya wanita ini yang bisa dipercaya selain suamiku.

“Pak FA mau saya punya anak.”

“Hah baguslah. Apa masalahnya?”

Aku terdiam. Tak pernah terpikirkan diriku menjadi seorang Ibu. Apalagi dulu sempat berniat mengeringkan rahimku dengan ramuan. Agar germo tak resah jika tamu bulanan tak datang.

“Apa yang kamu takutkan?”

“Dosa…”, lirih jawabku. Rahim kotor yang pernah disinggahi banyak lelaki ini akan menjadi peraduan bayiku sebelum mengenal dunia?

“Menjadi ibu memang tidak mudah, tapi itu anugerah besar. Terimalah dengan suka cita. Pantang bagimu untuk menolak jika diberikan. Bayi selalu lahir dalam keadaan suci dan tidak pernah membawa dosa orang tuanya walau dilahirkan dari perzinahan,” terang Tina dengan bijak.

Gosip mereda bagai angin lalu. Tak ada lagi wanita murah senyum seksi penggoda lelaki suami orang. Yang ada hanya ibu-ibu komplek sibuk dengan urusan rumah tangga. Beberapa masih sibuk mengurusi orang lain.

“Hei mbak mau kemana, buru-buru amat. Anak siapa yang kamu gendong?” tanya seorang wanita.

“Kesana…” jawabku sekenanya. Langkahky besar-besar dan cepat menuju rumah Tina. Ada berita besar yang ingin kukabarkan.

“Siapa dia?” Tina terkejut melihatku menggendong anak lelaki berusia lima tahun.

“Ini anak saya,” jawabku.

“Hah anak darimana? Jangan bilang dapat menculik. Gagal menggoda suami orang sekarang menculik anak orang?” kejarnya.

“Ini Anto bu anak bungsu Pak FA yang di Jawa. Kemarin sore diantar dengan budenya. Kakak-kakaknya akan menyusul ke sini abis raporan bulan depan,” terangku.

“Wah Anto sudah besar. Sini salim dengan tante,” ajak Tina.

“Bu saya telat sudah nggak mens dua bulan,” ujarku lagi.

“Kamu hamil?”

“Nggak tahu. Tapi saya senang, begini ya rasanya punya anak,” ujarku membelai Anto anak tiriku. Bagai anak perempuan yang baru saja diberi hadiah boneka. Senyumku selalu mengembang.(Diceritakan kembali oleh Danan Wahyudi)

Respon Anda?

komentar