Data Kekerasan Anak di Unit PPA Polresta Barelang

294
Pesona Indonesia

batampos.co.id – Unit Perlindungan Perempuan dan anak (PPA) Polresta Barelang, juga mencatat kasus pelecehan seksual terhadap anak dibawah umur di Kota Batam masih tinggi. Lima bulan pertama di tahun 2015 ini, Polresta Barelang menangani 16 kasus.

Kepala Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polresta Barelang Iptu M Said menuturkan, dari 16 kasus itu, satu kasus di antaranya pelakunya sesama anak di bawah umur. Untuk kasus pencabulan anak di bawah umur dengan pelaku anak di bawah umur sudah masuk tahap P21 atau berkas penyelidikannya sudah lengkap. Begitu juga 15 kasus dengan pelaku orang dewasa sudah masuk tahap P21.

“Pelakunya orang dewasa ini termasuk ayah kandung dari korban sendiri. Lainnya masih dilidik, beberapa lagi sudah mencabut laporan oleh keluarga korban karena alasan aib,” ujar Said, Sabtu (27/6/2015) lalu.

Menurut Said, dari 16 kasus tersebut kasus pencabulan oleh ayah kandung paling membuat miris. Korbannya baru berusia 1,6 tahun. “Orang yang seharusnya menjaga anak malah merusak anak. Yang lainnya kebanyakan pelaku dari orang luar, mulai dari pacaran dengan anak di bawah umur hingga pencabulan paksa,” kata Said.

Selain menangani kasus pencabulan anak di bawah umur sepanjang tahun 2015 ini, unit PPA Polresta Barelang juga menangani tiga kasus kekerasan terhadap anak. Tiga kasus itu berupa penganiayaan terhadap anak, anak hilang, dan perdagangan anak di bawah umur.

“Kasus trafficking ini ada empat korban gadis di bawah umur yang diamankan dari tempat pijat beberapa waktu lalu yang menjalankan transaksi prostitusi online,” kata Said.

Satu Kasus Sehari

Irwan Setiawan dari Yayasan Setara Kita dan Yayasan Embun Pelangi yang bergerak di bidang pendampingan anak-anak korban kekerasan dan perdagangan manusia membenarkan tingginya angka kekerasan terhadap anak di Kepri, khususnya Batam. Bahkan dari kajian Irwan dan rekan-rekannya di dua Yayasan itu, sedikitnya ada satu kasus kekerasan terhadap anak dalam sehari di Batam.

Hanya saja, banyak korban yang enggan melapor. Alasannya beragam, mulai dari ketidaktahuan prosedur melapor hingga takut aib keluarga terbongkar, apalagi jika pelakunya orang dekat, baik itu ayah kandung, ibu kandung, ayah tiri, ibu tiri, paman, saudara, dan orang dekat lainnya.

“Ada yang sudah melapor dicabut lagi dengan alasan aib bagi keluarga,” katanya.

Saat ini saja, untuk kasus anak bermasalah dengan hukum (ABH) saja, Yayasan tersebut masih melakukan pendampingan dan pembinaan 30 anak-anak yang terlibat berbagai kasus. Mulai dari terlibat kekerasan karena bergabung dengan anggota geng motor, hingga perompakan kapal tugboat.

Mirisnya, para pelaku ini rata-rata berumur 15 tahun. Bahkan, salah satu yang ikut terlibat dalam perompakan kapal anak yang masih ingusan. “Mereka terlibat karena diajak oleh orang dewasa yang dekat dengan dia, pamannya,” kata Irwan.

Sementara untuk kasus korban kekerasan seksual dengan pelaku orang dewasa dari keluarga terdekat, ada beberapa kasus yang sudah sampai ke meja hijau, bahkan sudah vonis. “Ada kasus inses, ini miris kita,” ungkapnya. (ahmadi/nur/majalah batampos)

Respon Anda?

komentar