Kisah Warga Batam yang Kesulitan Air Bersih

278
Pesona Indonesia
Lorensius, pemilik rumah makan Pak De di Jalan Brigjen Katamso, samping Polsek Batuaji menampung air akibat air atb tak mengalir lancar, Selasa (1/9).  Foto: Dalil Harahap/Batam Pos
Lorensius, pemilik rumah makan Pak De di Jalan Brigjen Katamso, samping Polsek Batuaji menampung air akibat air atb tak mengalir lancar, Selasa (1/9).
Foto: Dalil Harahap/Batam Pos

batampos.co.id – Meski ATB baru mengurangi produksi air bersih di Dam Seiladi, pasokan air bersih ke rumah-rumah warga sudah jauh berkurang dari biasanya. Padahal, mestinya, daerah yang terdampak dari pengurangan produksi Seiladi itu hanya wilayah Tiban dan Sekupang.

Namun nyatanya, aliran air ATB di sejumlah perumahan di Batuaji mulai tersendat. Bahkan di pagi hari, air sama sekali tidak mengalir. Banyak warga yang tidak mendapatkan air bersih. Terutama warga yang rumahnnya berada di ketinggian.

Di perumahan Aster Raya, Buliang, Kecamatan Batuaji, misalnya. Air baru mengalir sekitar pukul 01.00 WIB dini hari, air mulai mengalir. Tetapi tekanannya lemah. Sehingga kran air di dapur warga yang memiliki wastafel atau pipa keran yang lebih tinggi tidak akan mengeluarkan air.

”Tak bisa nampung air di dalam rumah. Harus di luar,” kata Lina, warga Aster Raya blok C1 no 13, kemarin.

Lina mengaku kegiatan harian yang dilakukan ibu rumah tangga sudah pasti terganggu. Mencuci baju, cuci piring, dan mandi tidak lagi dilakukan seperti biasa.

”Yang tidak bisa bangun tengah malam tidak akan bisa mandi. Hanya jam 1 sampai jam 3 saja air mengalir,” katanya.

Hal yang sama terjadi di rumah warga lainnya. Semakin lama, airnya semakin kecil. Warga pun banyak yang mengambil air ke rumah warga lainnya yang terletak di permukaan yang lebih rendah.

”Kami ini termasuk dalam perumahan yang tidak tinggi, tetapi susah kali dapat air. ” kata G Siallagan, Ketua RW 30 Kelurahan Buliang.

Siallagan berharap pihak ATB bisa memberikan bantuan berupa tangki air ke perumahan tersebut, apalagi Batuaji bukanlah perumahan yang masuk dalam daftar rationing atau penggiliran. Apalagi di pagi hari, banyak kegiatan yang bergantung kepada air.

”Anak-anak mau sekolah, memasak, cuci piring itu pada pagi hari,” katanya.

Kondisi serupa dirasakan warga Gria Permai,  RW 1 Seibinti, Sagulung. Bahkan warga mengaku aliran air ATB tersendat sejak empat hari terakhir.

”Air mulai macet sejak Sabtu 29 Agustus lalu sampai hari ini (kemarin, red),” ujar Eko Pujiantono, Warga Perumahan Gria Permai, RT 5 Blok NN, kemarin.

Eko mengatakan, air mulai mati pukul 06.00 WIB, sampai pukul 09.00 WIB. Pukul 10.00 WIB, hingga pukul 17.00 WIB, air mulai mengalir tetapi volumenya sangat kecil sehingga tidak bisa mengalir  ke dalam kamar mandi. Pukul 16.00 WIB, air kembali mati hingga pukul 00.00 WIB.

”Kalau siang ke rumah nggak ngalir, jadi kami terpaksa tampung air di luar rumah,” terang Eko.

Selain air kerap macet air yang menngalir ke perumahan warga juga cenderung keruh. ”Dibuang sayang, mau ditampung kotor,” terang Eko

Tina, warga Perumahan Gria Permai Blok KK, mengatakan air di tempatnya hanya mengalirpada malam hari. Untuk mencukupi kebutuhan rumahtangganya, Ia terpaksa menampung air pada malam hari.

”Mau nyuci baju ngak bisa siang. Tadi malam terpaksa nyuci sampai pukul 03.00 WIB,” terang  Tina.

Pantauan Batam Pos, aliran air ATB juga mati di Kampung Bintang, Batuaji. ”Pukul 07.00 WIB, matinya” ujar Lorensius, warga setempat.

Menanggapi hal ini, Coorporate Communication Manager ATB, Enriqo Moreno, memastikan tersendatnya aliran air di wilayah Batuaji tersebut tidak ada hubungannya dengan pengurangan produksi di Waduk Seiharapan.

”Mungkin air tersendat karena jam-jam puncak konsumsi air,” kata Enriqo. (cr14/bpos)

Respon Anda?

komentar