Pembaca, Mulai Sekarang Mari Kita Hemat Air, Krisis Air Bisa sampai Februari

406
Pesona Indonesia
ilustrasi
ilustrasi

batampos.co.id – Masa sekarang masa sulit bagi kita, volume air baku menyusut, aliran air ke rumah pun mulai digilir. Saat ini ialah saatnya kita prihatin.

”Saya meminta warga punya komitmen yang kuat untuk menghemat air. Gunakan air sehemat mungkin dan seperlunya saja,” ajak Coorporate Communication Manager ATB, Enriqo Moreno.

Warga diminta mengurangi penggunaan air bersih untuk kegiatan yang tidak terlalu penting, seperti menyiram tanaman dan mencuci kendaraan setiap hari. Air lebih diutamakan untuk memenuhi kebutuhan pokok manusia.

”Ketersediaan air baku adalah segalanya, setiap tetes air sangat berarti bagi kelangsungan hidup kita,” katanya.

Hal senada juga diserukan Direktur Pengelolaan Air dan Limbah Badan Pengusahaan (BP) Batam, Tato Wahyu. Ia menyebut warga Batam tergolong boros dalam menggunakan air bersih. Sehingga tak heran, debit air baku di beberapa dam yang merupakan sumber air bersih di Batam berkurang lebih cepat.

”Standar hidup kita lebih tinggi, khususnya dalam penggunaan air,” ujar Tato, Selasa (1/9).

Ia menjelaskan, dengan pola hidup yang lebih modern, rata-rata warga Batam menggunakan mesin cuci ketimbang mencuci menggunakan tangan yang membuat penggunaan air kian boros. Pihaknya mencatat, rata-rata satu orang warga di Batam mengonsumsi sekitar 170 liter air bersih per hari. Jumlah itu jauh lebih tinggi dibanding standar nasional orang Indonesia menggunakan air bersih sekitar 60 liter per hari.

”Jadi ya harus lebih hemat,” pintanya.

Sejauh ini, Tato mengatakan pihaknya sudah melakukan perencanaan matang untuk memastikan kecukupan air di Batam. Termasuk, mempersiapkan dam baru seperti di Tembesi. Namun, penggunaan air yang berlebihan membuat penurunan debit air lebih cepat dari yang diperkirakan. Belum lagi, kemarau panjang yang menjadikan hujan jarang turun dalam beberapa waktu terakhir makin memperparah penurunan debit air di dam.

Berdasarkan data BP Batam, debit air di waduk atau dam paling besar di Batam, Waduk Duriangkang sudah berkurang dari 3.000 liter per detik setiap hari menjadi 2.000 liter per detik setiap hari.

”Kami sudah persiapkan semuanya dengan baik, tapi memang pengelolaannya tidak gampang,” kata dia.(rna/bpos)

Respon Anda?

komentar