Warga Kampung Jabi Menolak Digusur

312
Pesona Indonesia
 Ratusan warga Kampung Jabi, Nongsa menggelar unjuk rasa di depan kantor BP Batam, Batamcenter, Kamis (3/9). Mereka menolak digusur. F.Cecep Mulyana/Batam Pos

Ratusan warga Kampung Jabi, Nongsa menggelar unjuk rasa di depan kantor BP Batam, Batamcenter, Kamis (3/9). Mereka menolak digusur.
F.Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos.co.id – Ratusan warga Kampung Jabi, Batubesar, Nongsa menggelar unjuk rasa di depan gedung Badan Pengusahaan (BP) Batam, Batam Center, Kamis (3/9). Mereka menuntut supaya rumah mereka tidak digusur serta minta surat Pengalokasian Lahan (PL) yang telah diberikan untuk pembangunan perumahan dan industri yang luasnya puluhan hektare persis di Kampung Jabi itu, dicabut.

”PL-nya itu untuk industri dan perumahan. Itu persis di Kampung Jabi,” kata Muhammad Yunus, tokoh Kampung Jabi sekaligus anggota Komisi IV DPRD Kota Batam.

Yunus mengatakan, dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), daerah tersebut adalah wilayah dengan pengembangan terbatas.

”Jadi tidak boleh untuk kawasan industri. Kalau rumah saja, dua lantai maksimal,” katanya.

Dia menuturkan, dari lima PL itu, ada yang empat hektare dan ada sampai 13 hektare. Di dalamnya sudah ada rumah warga dan ladang atau perkebunan warga.

”Saya sudah lihat PL itu, dikeluarkan tahun 2015. Bahkan pemiliknya ada yang saya kenal,” ujarnya.

Yunus mengatakan, surat PL tersebut ditandatangani Istono selaku Deputi BP Batam, bukan Mustofa Widjaja sebagai Kepala BP Batam.

Masih menurut Yunus, Kampung Jabi sudah ada sejak lama, bahkan sebelum ada bandara.

”Saya sebagai warga minta PL itu dicabut. Kami sudah lama bermukim di Kampung Jabi. Kenapa malah itu dialokasikan,” terangnya.

Amiluddin, warga lainnya juga meminta agar tidak ada penggusuaran. Bahkan, ia meminta agar BP Batam memfasilitasi pemasangan jaringan distribusi air bersih. Sebab, sudah dua tahun warga berjuang untuk mendapatkan air bersih.

”Sudah dua tahun kami memperjuangkan ini (mendapatkan air bersih), tapi sampai sekarang belum ada,” jelasnya.

H Makmur, Ketua RKWB Kota Batam meminta agar semua kampung tua diperlakukan adil. Di mana, jika satu orang diperlakukan tidak adil, maka yang lain akan merasakan.

”Kalau satu dicubit, maka warga dari kampung tua yang lain akan ikut merasakan,” tuturnya.

Sementara itu, Deputi Pengusahaan Sarana Lainnya BP Batam, Nur Syafriadi, menegaskan tidak akan menggusur rumah warga, apalagi kampung tua. Tetapi, sambungnya, dia akan menggusur rumah liar atau kios yang ada di daerah buffer zone atau ROW (right of way) jalan.

”Saya pelaku sejarah di sana. Tidak mungkin saya menggusur rumah di sana. Bahkan saya memasukkan Kampung Jabi menjadi kampung tua,” ucapnya.

Terkait keselamatan bandara, rumah-rumah warga yang ada di sekitar bandara akan dibicarakan dan mendapatkan penanganan khusus. ”Ini akan kita bicarakan khusus,” sebutnya.

Sedangkan terkait lima PL, Nur Syafriadi tidak berkomentar. ”Ini akan kita bicarakan lagi dengan orang yang bersangkutan,” imbuhnya.

Direktur Promosi dan Humas BP Batam, Purnomo Andiantono, mengatakan untuk menindaklanjuti permasalahan tersebut, maka akan dilakukan pertemuan lanjutan. Terutama untuk membicarakan tentang konsep bandara ke depannnya. ”Mungkin akan dilakukan pertemuan tertutup dan terbatas,” katanya.

Sudah Ditempati Sejak 1937

Masyarakat Kampung Jabi mengklaim telah tinggal di perkampungan tersebut sejak tahun 1937 silam. Mereka pun tak terima disebut tinggal di perumahan liar (ruli).

”Sejak nenek moyang kami, sudah tiga keturunan kami disini. Sebelum ada BP Batam, kami sudah menempati tanah ini,” kata seorang tokoh masyarakat Kampung Jabi, Amiluddin, kemarin.

Menurut Ami, begitulah pria paruh baya itu disapa, Kampung Jabi sudah ditempati semenjak 1937. ”Saya tak terima, bila Kampung Jabi dikira sebagai ruli atau apapun. Kami ini penduduk asli sini,” ucapnya.

Dijelaskannya, sebenarnya Kampung Jabi tak terpisah oleh jalan. Namun dulunya, karena pihak BP Batam meminta jalan. ”Dan para tetua disini dulu, ingin ramai. Makanya diperbolehkan mereka membangun jalan,” ujarnya.

”Kampung Jabi itu mulai dari Pantai Sekilak hingga depan Rumah Sakit Budi Kemuliaan RSBK 2,” tuturnya.

”Tak bisa seenaknya saja mereka mengambil alih. Ini adalah tumpah darah saya, nenek moyang saya dilahirkan di sini. Ini bukan tanah mereka,” ujar Burhan, warga lainnya dengan nada tegas. (ian/ska/bpos)

Respon Anda?

komentar