Potensi Tanjungsauh Tersandung Status FTZ

301
Pesona Indonesia
ilustrasi
ilustrasi

batampos.co.id – Potensi Kemaritiman Batam sangat besar, tetapi belum tergali maksimal. Termasuk untuk pelabuhan kontainer Tanjungsauh yang hingga saat ini belum jelas. Statusnya yang belum masuk wilayah free trade zone (FTZ) membuat pelabuhan tersebut tidak bisa dikelola.

”Kami masih menunggu status FTZ-nya. Belum keluar sampai hari ini,” kata Purnomo Andiantono, Direktur Humas dan Promosi BP Batam di kantornya, Kamis (3/9).

Menurut Andi, potensi Tanjungsauh sangat luar biasa. Pelabuhan tersebut disiapkan untuk menampung sekitar 8 juta TEUs, dengan anggaran perkiraan sekitar Rp 7 triliun.

”Setelah ada FTZ-nya, maka akan langsung dilakukan lelang,” ujarnya.

Pelabuhan kontainer ini, kata Andi, nantinya berpotensi besar mengingat posisinya yang sangat  strategis. Pasalnya, Selat Malaka merupakan jalur laut terpadat di dunia. Meski diakuinya harus mendapatkan dukungan dari semua pihak.

”Kalau pendapatakan kita dari labuh jangkar saat ini setiap tahunnya miliaran rupiah. Saya tidak tahu persis nilainya, tetapi termasuk besar. Bayangkan kalau Tanjungsauh ini terealisasi,” ucapnya.

Beberapa hari sebelumnya, Kepala BP Batam, Mustofa Widjaja mengatakan perluasan daerah FTZ di Batam penting untuk memenuhi kebutuhan investasi. Status FTZ di Tanjungsauh, diakui merupakan kebutuhan pelabuhan di Indonesia bagian barat. ”Sekarang sudah ada beberapa investor yang menunggu kejelasan rencana pembangunan pelabuhan kontainer,” beber dia.

Mustofa optimis, Tanjungsauh akan menjadi kawasan FTZ, siapapun presidennya. Terlebih, desainnya sudah disampaikan ke pusat.

”Kita sudah sampaikan desain dan persetujuan perubahan status Tanjungsauh untuk kawasan FTZ, dari DPRD, Wali Kota Batam, dan Gubernur Kepri. Tinggal di pusat,” imbuhnya.

Mustofa juga mengatakan status Tanjungsauh juga sudah diajukan ke Kementerian untuk memperjelas statusnya, sehingga investor tertarik untuk mengelolanya.

”Kami berharap dalam waktu dekat statusnya akan jelas. Kita terus mengawal ini agar segera terealisasi. Potensinya sangat besar,” katanya.

Mustofa mengatakan, kawasan ini akan sangat potensial untuk Indonesia. Dimana setelah beroperasi nantinya, sebagian besar kapal yang melintas dari Selat Malaka akan singgah di pelabuhan tersebut.

Selain pelabuhan kontainer juga untuk kawasan industri menengah. Lahan yang tersedia mencapai 1.000 hektare. Dimana, hanya sekitar 300 hektare untuk Pelabuhan Tanjungsauh.

Sebelumnya, Wali Kota Batam, Ahmad Dahlan juga mengatakan investasi besar yang sudah sangat mendesak di Batam adalah pembangunan pelabuhan kontainer di Tanjungsauh. Menurutnya, sudah banyak negara yang tertarik untuk berinvestasi di daerah tersebut. Jika itu terwujud maka Batam bisa menyamai Singapura.

Dahlan mengaku sudah menyampaikan hal tersebut kepada sejumlah pihak atau investor. Saat ini, Pelabuhan Batuampar belum memadai untuk menangkap peluang, mengingat perairan Batam sangat padat dilalui kapal asing. ”Kalau hanya yang di Batuampar tidak cukup, makanya harus ada container port yang besar.

Tetapi saat ini ada sedikit kendala untuk pengembangan pulau ini, yakni status,” tegasnya. (ian/bpos)

Respon Anda?

komentar