Bawa Sabu 1,55 Kg, WN Malaysia Terancam Hukuman Mati

227
Pesona Indonesia
Chiew Han Lu, WNI Malaysia saat menjalani sidang din PN Batam kasus sabu-sabu seberat 1,55 kg. Foto: Anggie/batampos
Chiew Han Lu, WNI Malaysia saat menjalani sidang din PN Batam kasus sabu-sabu seberat 1,55 kg. Foto: Anggie/batampos

batampos – Terdakwa Chiew Han Lu alias Alun alias Alex kembali disidangkan kemarin, Rabu (9/9). Ia terjerat perkara Narkotika jenis sabu seberat 1.550 gram atau 1,55 kg.

Agenda sidang adalah pemeriksaan saksi yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Wawan Setyawan serta pemeriksaan terdakwa. Ada dua orang saksi yakni petugas Bea dan Cukai serta penyidik polisi yang keduanya enggan disebutkan namanya.

Saksi dari petugas Bea dan Cukai mengatakan terdakwa tiba dari Singapura di pelabuhan ferry Batamcenter seorang diri dengan mebawa tas sandang, travel bag, serta satu kotak kardus. “Ketika kardus melewati mesin X-Ray, terdeteksi bungkusan-bungkusan yang mencurigakan di dalamnya, oleh karena itu kami bongkar kardus tersebut,” ujarnya.

Saat dibuka kardus, lanjut saksi, ada bungkusan makanan ringan yang dikemas persis dengan kemasan dari pabrik makanan, dan ketika disobek ternyata isinya sabu. “Kemasannya makanan, tapi isinya sabu,” sebutnya.

Terdakwa yang langsung digiring ke Polda, saat memberikan keterangan mengaku bahwa ia mengetahui barang tersebut adalah sabu. “Waktu kami mintai keterangan, ia mengetahui kardus tersebut berisikan sabu yang diberikan Andi (DPO) untuk dibawa ke Jakarta lagi,” terang saksi penyidik.

Persidangan yang dipimpin Sarah Louis, dengan hakim anggota Tiwik dan Arief Hakim Nugroho usai mendengarkan keterangan saksi kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan terdakwa. Ia mengaku mendapatkan upah senilai Rp 50 juta yang dijanjikan Andi kepadanya usai paket sabu tersebut diterima pembeli di Jakarta.

Upah itu ingin ia dapatkan demi mengobati ibunya yang sedang sakit. Dari penjelasan penerjemah karena terdakwa tidak sepenuhnya bisa berbahasa Indonesia ini, menyampaikan kalau ibunya saat ini sedang terbujur di Rumah Sakit dan butuh biaya yang cukup banyak. “Mau upah, untuk berobat ibu,” katanya.

Namun kini, warga negara Malaysia asal Johor ini bukan malah mendapatkan upah melainkan terjerat kasus hukum yang dituntut pasal 114 ayat (2), subsider pasal 113 ayat (2), lebih subsider pasal 112 ayat (2) UU RI nomor 35 Tahun 2009, tentang Narkotika yang terancam hukuman maksimal atau hukuman mati.

Dalam kesaksiannya, ia diperintahkan oleh Andi pada pagi hari dan langsung berangkat ke Batam lewat Singapura pada siang harinya. Paket dan tiket sudah disediakan oleh Andi, sementara untuk tiket ke Jakarta memakai dana pribadi miliki terdakwa yang dijanjikan akan diganti oleh Andi.

Terdakwa juga mengaku tidak tahu kepada siapa paket tersebut akan diberikan jika tiba di Jakarta. Perencanaannya, setelah tiba di Batam kemudian berangkat ke Jakarta, dan jika sudah di Bandara Soekarno Hatta terdakwa langsung menghubungi Andi agar diarahkan kembali menemui si pembeli (DPO).

Dirasa cukup atas pemeriksaan saksi dan terdakwa, Majelis Hakim menjadwalkan kembali sidang lanjutan terdakwa Chiew Han Lu pada Selasa (22/9) dengan agenda sidang tuntutan. (cr15/bpos)

Respon Anda?

komentar