Klinik Khusus Ginjal Ny RA Habibie Tambah 10 Mesin Dialisis

1366
Pesona Indonesia
Pemilik Klinik Ginjal Ny RA Habibie memotong tumpeng di peringatan dua windu klinik ginjal tersebut. Foto: Fitri Hardiyanti
Pemilik Klinik Ginjal Ny RA Habibie, Sri Soedarsono memotong tumpeng di peringatan dua windu klinik ginjal tersebut. Foto: Fitri Hardiyanti

batampos – Klinik Khusus Ginjal Ny RA Habibie tidak lama lagi akan mendapat tambahan sepuluh unit mesin dialisis baru. Penambahan 10 mesin itu merespon bertambahnya pasien hemodialisis yang ditangani klinik tersebut.

“Mulai tahun depan, pasien kami bisa jadi 200 orang,” ujar Sri Soedarsono, Pemilik Klinik Khusus Ginjal Ny RA Habibie.

Klinik itu kini melayani hingga 132 pasien hemodialisis. Delapan pasien di antaranya merupakan pasien hemodialisis dengan penyakit HIV atau Hepatitis. Jumlah itu terbilang besar. Namun, klinik yang masih satu lokasi dengan RS Budi Kemuliaan itu masih memiliki pasien daftar tunggu.

“Daftar tunggunya sampai 20 pasien,” ujar dr Bertha Toha, Kepala Klinik Khusus Ginjal Ny RA Habibie.

Ia menyebut, ke-20 pasien yang masuk dalam daftar tunggu itu umumnya limpahan dari rumah sakit lain yang jumlah pasiennya sudah penuh sehingga tak terlayani lagi.

Klinik yang dibangun pada tahun 1999 itu memang sudah penuh. Perbandingan jumlah pasien dan mesin sudah mencapai puncaknya. Mesin yang mereka miliki hingga saat ini berjumlah 22 unit. Itupun tidak semuanya digunakan setiap hari. Klinik menyisihkan dua mesin sebagai cadangan jika ada mesin yang rusak.

“Namanya juga mesin sudah tua. Pasti ada error-errornya,” kata dr Bertha Toha lagi.

Nama Klinik Khusus Ginjal Ny RA Habibie memang sudah terkenal. Ia klinik pertama di Batam yang memberikan fasilitas khusus cuci darah (hemodialisis), sebuah tindakan medis bagi pasien yang telah divonis gagal ginjal.

Hampir setiap pasien gagal ginjal selalu datang ke klinik itu untuk melakukan cuci darah. Meskipun sudah banyak rumah sakit di Batam yang menyediakan fasilitas cuci darah, sebagian pasien tetap memilih ke klinik tersebut. Alasannya satu: pelayanan yang ramah.

Nur Syafriadi, contohnya. Pria yang kini menjabat sebagai Deputi IV Badan Pengusahaan (BP) Batam itu pernah merasakan pelayanan ramah milik klinik tersebut. Ia memang pernah divonis gagal ginjal.

Ia sudah melakukan cuci darah di banyak tempat. Mulai yang murah hingga yang termahal. Di Singapura, Batam, Bandung, Medan, dan Jakarta.

“Dan saya bilang ke Bu Dar (Sri Soedarsono) kalau saya ingin balik ke sini. Karena saya terkesan dengan perawatnya: sangat bersahabat dan sangat memiliki,” katanya.

Sri Soedarsono, sang pemilik, mengatakan, ia memang selalu menekankan pada pelayanan. Perawat dan petugas klinik harus dapat melayani dengan sepenuh hati. Pasien, bagi mereka, bukanlah pasien melainkan teman.

“Setiap petugas kami, kami sarankan untuk menjadi teman mereka,” katanya.

Dengan menjadi teman, para petugas kemudian tidak hanya melakukan tugasnya untuk membantu proses cuci darah. Tetapi juga memberikan motivasi dan mau mendengarkan cerita serta keluh kesah para pasien.

“Akhirnya, mereka mau ke sini itu karena mau cerita dengan suster ini. Bukan karena mau mati besok,” ujar adik BJ Habibie itu lagi.

Klinik Khusus Ginjal Ny RA Habibie memiliki 26 petugas. Enam belas di antaranya adalah perawat. Sebelum menjadi petugas klinik, mereka terlebih dahulu menjalani pelatihan di RS Khusus Ginjal Ny RA Habibie di Bandung.

“Dokter khusus ginjalnya dari Bandung. Dia datang ke sini setiap enam bulan sekali. Saya rasa itu cukup,” tuturnya. (ceu/bpos)

Respon Anda?

komentar