Hidupku Ditelantarkan Suamiku dan Keluarganya

908
Pesona Indonesia

i_just_cant_hate_my_clients_ex_wife-460x307
batampos – Awalnya dijanjikan kehidupan yang layak, akan dibelikan rumah dan ini itu. Sehingga aku dulu yang masih hijau percaya begitu saja saat dinikahkan dengan putra mereka. Namun setelah menikah, semua itu cuma omong kosong. Ibarat habis manis sepah dibuang, aku didiamkan, ditelantarkan, dan diasingkan begitu saja.

Pembaca setia Batam oh Batam, perkenankan saya memperkenalkan diri. Nama saya Erna, wanita berusia 30 tahun. Saya dulunya berasal dari luar pulau. Nasiblah yang akhirnya membawa saya sehingga sampai di kota yang penuh kekejaman ini.

Saya katakan kejam, karena dari sejak saya diboyong oleh keluarga suami kesini, saya tidak pernah mendapatkan kehidupan yang layak.

Entahlah, mungkin hanya aku saja yang lugu. Rasanya masih segar diingatanku saat YD, calon suamiku itu beserta keluarganya datang ke gubuk sederhana kami di kampung untuk meminangku.

Mereka terlihat seperti keluarga berada. Ayah YD bahkan berjanji akan membelikanku rumah setelah menikah nanti. Intinya, setelah resmi menjadi istri YD, aku akan dijamin tidak akan kekurangan satu apapun. Ayah YD merupakan pejabat kesohor di kota Batam.

Singkat cerita, beberapa hari setelah pernikahan kami. Aku pun resmi diboyong dari kampung halamanku. Ibuku melepasku dengan berat sekali, kami pun menangis sambil berpelukan seakan tidak akan pernah bertemu lagi.

Setibanya di Batam aku diajak oleh mertua dan iparku tinggal di rumah mereka. Waktu itu sekitar tahun 2008. Yang namanya tinggal bersama mertua, tentunya tidak nyaman. Aku sering merasa risih karena setiap gerak-gerikku diawasi.

Status suamiku yang saat itu juga masih pengangguran, makin menambah beban pikiranku. Bagaimana tidak, masa kalau mau beli ini itu harus menadahkan tangan ke mertua? Walaupun untuk keperluan-keperluan wanita seperti bedak, pembalut, dan tetek bengek, setidaknya aku harus pegang sedikit uang.

Rumah yang dijanjikan tidak kunjung diberikan. Aku pun tidak berani untuk mengungkit-ungkit janji mereka saat meminangku dulu. Padahal, aku sudah berbulan-bulan lamanya tinggal di rumah mertua, dan rasanya makin tidak betah. Apalagi suamiku jadi orang yang suka bermalas-malasan. Mungkin dia pikir, hidup di ketiak orang tua sudah sangat aman, sehingga sudah tidak perlu memikirkan apa-apa lagi.

YD lupa bahwa ia memiliki tanggungan, yakni nafkah istrinya. Nafkah pangan, sandang, panganku ia abaikan. Jika aku ingatkan kewajibannya, suamiku berbalik marah dan menyalahkan ayahnya yang belum memberikan posisi kerja untuknya. Singkatnya, hidupku nyaris seperti pembantu di rumah mertuaku.

Akhirnya, aku melamar-lamar pekerjaan. Aku pun mendapat pekerjaan sebagai guru di sebuah instansi bimbingan belajar untuk anak-anak sekolah. Yah, penghasilannya memang tidak seberapa. Daripada hanya diam dan bengong di rumah melihat tindak-tanduk suami dan keluarganya.

Dari situ aku mulai mengumpulkan sedikit uang tabungan. Semua murni dari jerih payahku sebagai guru bimbel. Uang itu aku gunakan untuk membayar DP rumah. Aku memang sudah tak ingin serumah lagi dengan mertuaku yang kian cerewet. Dan juga, aku berpikiran mungkin suamiku akan lebih mandiri jika tidak serumah lagi dengan ibunya.

Alhamdulillah, akhirnya kami bisa menempati rumah baru walau dengan cara dicicil. Kebahagiaan kami makin bertambah dengan kehadiran si kecil di rahimku. Mertua pun akhirnya memberikan modal untuk usaha suami. YD membuka sebuah warung rental internet di dekat komplek.

Namun karena sifatnya yang malas-malasan. Warnet itu pun bangkrut. Suamiku kembali menjadi pengagguran. Jadi dari hamil sampai lahiran, aku tetap menjadi tulang punggung keluarga. Mengajar hingga pulang malam.

Aku merasa sangat tertekan karena semua kebutuhan harus aku penuhi sendiri. Sedangkan suami dan keluarganya mulai acuh tak acuh melihat kondisiku. Belum lagi jika aku teringat ibuku di kampung, bisa menetes air mataku. Sudah lama ingin pulang, 10 tahun tidak bersua. Namun apa daya selalu tak ada ongkos.

Setelah melahirkan, sikap suami juga tidak banyak berubah. Bahkan ia sering tidak pulang ke rumah. Aku makin geram dan menceritakannya ke ibu mertua, berharap ia akan membantu untuk menasihati anak laki-lakinya itu.

Namun respon yang kudapat justru mengejutkanku. Mertua dan iparku malah menawarkanku untuk menikah lagi. Dan siapa calonnya? Tak lain adalah mantan suami iparku. Gila!

Aku merasa sangat sedih dan kecewa dengan mereka. Sementara suamiku hanya diam saja. Sedikitpun tidak ada rasa cemburu atau marah. Aku jelas menolak perjodohan itu dan suamiku tetap diam saja mengetahui hal itu.

Aku merasa sendirian dan tidak ada yang bisa menolongku dari keterpurukan ini. Selama ini aku berusaha diam dan tidak bercerita ke siapapun karena aku tidak mau membuka aib mereka.

Ingin sekali aku pulang ke rumah orang tua, namun hal itu sangat mustahil kulakukan. Pembaca Batam oh Batam, apa yang sebaiknya aku lakukan? (Diceritakan kembali oleh Fenny Ambaratih)

Respon Anda?

komentar