Operasi Senyap Penggerebekan Penjahat Tiongkok di Rumah Mewah di Batam

481
Pesona Indonesia

 

Pelaku Cyber Crime asal Tiongkok dan Taiwan diamankan di Mapolda Kepri. Foto: Cecep Mulyana
Pelaku Cyber Crime asal Tiongkok dan Taiwan diamankan di Mapolda Kepri. Foto: Cecep Mulyana

Penjahat dari Tiongkok menjadikan Batam sebagai salah satu tempat untuk melakukan kejahatan melalui dunia maya. Korbannya orang-orang Tiongkok yang bermasalah dengan hukum. Seperti apa aksi mereka hingga dibekuk?

AHMADI SULTAN, Batam

Matahari sudah mulai menggeliat. Sinarnya sudah garang pada pukul 10.00 WIB, Kamis, (25/6/2015)u. Namun suasana rumah berlantai dua di Perumahan Palm Spring Blok F/33, Batam Centre, tetap senyap. Tak seorang pun tampak di pekarangan rumah yang relatif luas. Pintu berwarna cokelat dan jendela kaca yang kusam berdebu tertutup rapat. Seperti rumah yang tak berpenghuni.

Tiba-tiba datang puluhan orang merengsek masuk ke pekarangan yang berpagar itu. Sebagian mengenakan seragam cokelat dan sebagian lagi mengenakan baju kasual. Mereka dari Kepolisian Daerah Kepulauan Riau, Brimob Polda Kepri, dan Polresta Barelang. Salah satu polisi mendekati pintu dan mengetuknya berulang-ulang. Namun tidak ada yang membuka pintu. Ia mengetuk lagi. Tak kunjung jua seseorang membuka pintu. Sebagian polisi yang berjumlah 20 orang berpencar. Ada yang ke belakang rumah. Di pendopo belakang mereka melihat jemuran pakaian wanita dan pria dewasa.

“Rumah itu seperti rumah hantu. Sepi dari luar,” ujar Direktur Reserse dan Kriminal Umum Polda Kepri Kombes Pol Adi Karya Tobing, Selasa (30/6/2015).

Dari pintu belakang, polisi mencoba masuk ke dalam rumah. Ternyata pintu tidak terkunci. Begitu pintu terbuka, polisi menyerbu masuk. Tampak puluhan laki-laki dan wanita yang sedang beraktivitas di ruang utama. Mereka duduk di kursi dan menghadap meja yang dilengkapi perangkat telepon, laptop, dan komputer. Menyadari polisi yang masuk, penghuni rumah sontak kaget. Aktivitas mereka hentikan.

Polisi menyebar ke ruang-ruang lainnya dan memeriksa isinya. Sebagian naik ke lantai dua dan menyisir ruang. Suasana pun berubah riuh. Puluhan penghuni rumah, 29 laki-laki dan 9 wanita, tampak ketakutan dan tegang. Polisi memerintahkan mereka untuk berkumpul tetapi tak satu pun yang mengerti. Mereka tak bisa bahasa Indonesia, bahkan bahasa Inggris. Mereka berbicara bahasa Mandarin. Tiba-tiba salah satunya memberi perlawanan dan bertingkah seperti orang gila. Tetapi akhirnya bisa ditenangkan.

“Sepertinya pura-pura gila. Setelah diamati, memang ada gangguan jiwa,” ujar Kepala Sub Direktorat III Ditreskrimum Polda Kepri, AKBP Feby Dapot Parlindungan Hutagalung.

Polisi lalu meminta kartu identitas. Mereka menunjukkan paspor negara Tiongkok dan Taiwan. Namun hanya 19 orang yang bisa memperlihatkan paspornya. Polisi menyita paspor mereka. Lalu berlanjut mengamankan perangkat laptop, komputer, dan telepon yang tersambung internet di ruang keluarga. Polisi menemukan alat yang biasa digunakan untuk melakukan cyber fraud (penipuan melalui dunia maya). Puluhan perangkat dan server internet juga ditemukan di ruangan bawah tanah di bawah pendopo belakang. Ruangan yang semula diperuntukan sebagai musalah oleh pemilik rumah.

Menurut Feby, ruang di lantai satu rumah sebagai pusat operasional. Sedangkan lantai dua untuk cadangan dan tempat tidur. Ranjang bertingkat berjejer dalam kamar di lantai dua. Dari rumah bercat krem itu mereka melakukan opersi senyap. Menipu dan memeras orang-orang bermasalah di negaranya.

“Mereka ini melakukan penipuan dan pemerasan melalui telepon dan internet,” ungkap Feby.

Mereka memilik daftar nama-nama orang bermasalah dengan pihak bank, korupsi atau kasus-kasus lainnya di negara asal mereka. Daftar nama ada yang tertulis di papan dalam aksara Tiongkok yang dipasang di dinding. Saat diinterogasi polisi, salah satu pelaku mengungkapkan ada kelompok lain yang beroperasi di Perumahan Crown Hill. Polisi mendapatkan alamat dan segera bergerak. Polisi mendatangi rumah yang berada di, blok E nomor 48-49.”Polresta Barelang yang tangani,” ucapnya.

Di rumah ini, polisi menemukan suasana yang sama. Sepi dari luar. Ketika masuk ke dalam rumah, polisi menemukan 20 orang yang terdiri dari 16 orang laki-laki dan empat orang perempuan. Mereka sedang beraktivitas. “Kegiatan mereka sama dengan di Palm Spring. Tapi mereka tidak saling kenal,” ujar Feby.

Warga negara asing (WNA) yang beraksi di dua lokasi itu kemudian disatukan. Mereka dikumpulkan di Palm Spring dan didata oleh polisi. Jumlahnya 58 orang. Sekitar pukul 14.30 wib, pihak imigrasi datang ke lokasi penggerebekan. Kepala Seksi Pengawasan dan Penindakan imigrasi (Wasdakim) Kelas I Khusus Batam Rafli menemui para WNA dalam rumah itu.”Kami tindak lanjuti terkait dokumen imigrasi setelah koordinasi dengan polisi,” ujar Rafli.

Hingga sore seluruh WNA asal Taiwan dan Tiongkok itu masih ditempatkan di rumah tersebut dan menunggu proses lebih lanjut. Bahkan mereka masih menginap di rumah mewah berlantai dua itu. Keesokan harinya mereka diserahkan ke Imigrasi Batam. Mereka menginap di ruang tahanan imigrasi sembari menunggu pemeriksaan.

Rumah tempat WNA Tiongkok dan Taiwan diamankan. Foto: Cecep/Batampos
Rumah tempat WNA Tiongkok dan Taiwan diamankan. Foto: Cecep/Batampos

Direskrimum Polda Kepri Kombes Pol Adi Karya Tobing mengatakan penggerebekan di Perumahan Palm Spring Batam Centre dilakukan setelah mendapat informasi dari masyarakat. Selama tiga hari mereka melakukan penyelidikan. Lalu datang menggerebek setelah pengintaian. Polisi menyertakan Ketua RT dan sekutiri setempat saat penggerebekan dan penangkapan.

Kasubdit III Ditreskrimum Polda Kepri, Feby menceritakan, setelah penangkapan warga asing itu, polisi menghubungi senior liassion officer atau perwakilan polisi Taiwan di Jakarta. Pemberitahuan itu langsung ditanggapi dengan mengiriman Kolonel Jaili, interpol Taiwan untuk menyelidiki kasus tersebut. Ternyata ada enam orang resedivis Taiwan dengan kasus yang sama. Mereka sebelumnya melakukan aksinya di negaranya dan berhasil menipu dan memeras korbannya.

“Enam orang resedivis ini ‘wanted person’ oleh kepolisian Taiwan karena kejahatan yang sama,” jelas Feby.

Pada pemeriksaan selanjutnya di imigrasi, para WNA tersebut dipastikan hanya melakukan pelanggaran izin tinggal. Berdasarkan UU No.6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian, pasal 122 tentang penyalahgunaan izin tinggal. Mereka masuk dan tinggal di Indonesia tidak sesuai peruntukannya. Sebab saat masuk melalui Jakarta mereka hanya memiliki visa untuk kunjungan wisata. Sementara aksi kejahatan penipuan dan pemerasan yang mereka lakukan tidak diproses di Indonesia karena target dan korbannya orang-orang di negara mereka. Bukan warga Indonesia.

Kepala Seksi Bidang Pengawasan dan Penindakan imigrasi (Wasdakim) Kelas I Khusus Batam Rafli menegaskan para pelaku hanya menjadikan Batam dan Indonesia sebagai tempat operasi aksi penipuan dan pemerasan. Seperti yang terjadi di kota lainnya yakni di Jakarta, Semarang, dan Bali.”Tidak ada laporan ada korban orang Indonesia,” ujar Rafli di ruang kerjanya, Kamis (2/7).

Menurut Rafli, para pelaku memilih Indonesia sebagai tempat operasi karena ingin menghilangkan jejak. Lalu ada kemudahan untuk masuk ke Indonesia. Selain dengan visa reguler, beberapa pelaku masuk dengan visa on arrival dan bebas visa sejak diberlakukannya bebas visa bagi warga negara Tiongkok. Visa ini berlaku 30 hari. Hal ini, lanjut Rafli, berdasarkan analisa saja. Sebab para pelaku tidak ada yang mengungkapkan alasannya memilih beroperasi di Indonesia.

Sementara menurut Kasubdit III Ditreskrimum Polda Kepri, Feby, para pelaku memilih beroperasi di Indonesia karena alasan nyaman. Pria berinisial Rb yang disebut punya peran sehingga para pelaku nyaman beroperasi di Batam. Tetapi Rb sudah lebih duluan kabur setelah mengetahui polisi menggerebek rumah di Palm Spring dan Crown Hill. “Orang Indonesia yang beri fasilitas ini sedang kami cari,” ujarnya.

Hingga sepekan, Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Kepri tidak menemukan bukti dalam kasus penipuan secara online. Tidak ada laporan korban di Indonesia sehingga kasusnya tidak bisa diproses lebih lanjut. Namun pelanggaran keimigrasian sudah jelas.

Setelah memastikan para pelaku hanya tersandung pelanggaran keimigirasian, Imigrasi Batam mendeportasi mereka secara bertahap. Pemulangan mereka dimulai Kamis (2/7). Tahap pertama sembilan orang, enam dari mereka adalah resedivis, diterbangkan dari Batam ke Jakarta pukul 18.00. Mereka dikawal empat petugas imigrasi sampai di Jakarta.

“Semuanya dikawal karena ada buronan. Yang (dipulangkan) lebih awal ini yang terindikasi buronan,” katanya.

Di Jakarta, sembilan orang ini dipisah-pisah lalu diterbangkan ke Taiwan dengan kawalan interpol Taiwan. Masing-masing dua orang berangkat pukul 21.00 dan pukul 00.00, kemudian lima orang berangkat keesokan harinya pukul 08.00.

“Mereka ini dipisah-pisah karena tiket dan tujuannya berbeda. Ada yang ke Tiongkok, ada yang ke Taiwan,” jelasnya.

Pemulangan berikutnya, Jumat (3/7), sebanyak 25 orang. Sebanyak 21 orang warga Taiwan dan sisanya warga negara Tiongkok. Mereka diberangkatkan dari Batam pukul 14.00 dengan kawalan 10 orang petugas Imigrasi sampai Jakarta. Kemudian berangkat dari Jakarta pukul 21.00 wib.

Sementara sisanya 24 orang lagi masih menunggu jadwal pemulangan. Sebab, 15 di antaranya tidak memiliki paspor lagi. Mereka harus menunggu kelengkapan dokumen dari negara mereka. Selama di ruang tahanan imigrasi, para pelaku tidak bisa dikunjungi. Pihak imigrasi juga tidak menyediakan makanan sehingga mereka yang harus memesan sendiri. Atau disediakan oleh pihak pemerintah mereka yang ada di Indonesia.

“Karena anggaran dari pemerintah memang tidak ada. Seperti halnya kalau TKI kita yang diamankan di negara lain, yang menyediakan ya dari negara kita,” ungkap Rafli.

Warga negara asing yang telah dideportasi, lanjut Rafli, tidak bisa lagi masuk ke Indonesia dalam jangka waktu tertentu. Bahkan bisa seumur hidup. Sebab mereka masuk daftar tangkal.

***

Peralatan elektronik yang digunakan para penjahat dunia maya. Foto: cecep mulyana/batampos
Peralatan elektronik yang digunakan para penjahat dunia maya. Foto: cecep mulyana/batampos

Kepala Sub Direktorat III Ditreskrim Polda Kepri Feby Dapot Parlindungan Hutagalung mengatakan dari hasil pemeriksaan, WNA Tiongkok dan Taiwan itu telah beroperasi sejak tiga bulan lalu di Palm Spring dan Crown Hill. Mereka melakukan penipuan dan pemerasan dengan modus bertindak sebagai polisi, badan pemberantasan korupsi, dan pihak bank. Mereka mengincar orang yang bermasalah dengan pihak pemberantasan korupsi, orang yang melakukan transaksi mencurigakan, dan orang yang bermasalah dengan bank.

Pria yang biasa disapa Feby ini mengungkapkan orang-orang asing itu beraksi dengan menggunakan telepon dan internet. Mereka menghubungi orang yang bermasalah di negaranya dengan menggunakan telepon melalui jaringan internet. “Mereka menggunakan voice over internet protocol (VoIP),” ujar Feby.

VoIP adalah teknologi yang memanfaatkan internet protocol untuk menyediakan komunikasi suara secara elektronis dan real-time. Jaringan data digital dengan gateway untuk VoIP memungkinkan berhubungan dengan PABX atau jaringan analog telepon biasa.

Menelepon dengan menggunakan VoIP banyak keuntungannya, diantaranya lebih murah dari tarif telepon biasa, karena jaringan IP bersifat global. Sehingga untuk hubungan internasional dapat ditekan hingga 70 persen. Selain itu, biaya maintenance dapat ditekan karena voice dan data network terpisah, sehingga IP Phone dapat ditambah, dipindah, dan diubah dengan mudah.

“Bisa bikin nomor sendiri, jadi mereka bisa memiliki nomor lokal Taiwan atau Tiongkok meski beraksi di Indonesia,” beber Feby.

Memang target korbannya kebanyakan orang-orang di Taiwan dan Tiongkok. Di papan daftar calon korban, lanjut Feby, tertulis nama-nama calon korban yang tinggal di sejumlah provinsi di Tiongkok dan Taiwan. Nama-nama calon korban diperoleh para pelaku dari seseorang di negara asal mereka. Datanya disimpan dalam flashdisk dan dikirim kepada mereka melalui perantara Rb. Fasilitator di Batam.

“Data-data yang ada di flashdisk itulah yang di-print kemudian diolah,” kata Feby.

Data itu sangat detil mengenai calon korbannya. Daftar nama-nama yang sudah di-print out berjumlah 2.146 nama. Namun mereka tidak sembarangan ‘mengolah’ targetnya. Calon korban atau target ditentukan oleh pihak yang berada di Taiwan ataupun Tiongkok. Mereka lalu menghubungi calon korban dan melakukan penipuan dan pemerasan.

“Mereka memintah bayaran untuk menyelesaikan kasus korban. Tapi itu hanya tipuan agar para korban mentransfer uang,” jelasnya.

Bila berhasil, mereka tidak langsung melakukan transaksi. Tetapi ada yang bertugas di negaranya untuk mengeksekusi. Dari hasil pemeriksaan, kata Feby lagi, para pelaku mengaku tidak pernah berhasil melakukan pemerasan dan penipuan. Tetapi dari hasil rekaman yang diperoleh polisi, diduga ada yang berhasil. Korban-korbannya semuanya di negara asal pelaku. “Tidak ada korban orang Indonesia,” tegasnya.

Selain itu, para pelaku melakukan penipuan dengan menawarkan produk kosmetik dan obat-obatan secara online. Calon korban yang berada di negara mereka diperdaya untuk membeli produk yang ditawarkan. Setelah uang ditransfer, produk yang ditawarkan tidak dikirim.

Melihat aksi dan jejaknya, Feby menilai aksi kejahatan mereka dikategorikan sindikat besar. Mereka beroperasi di perumahan elit dengan biaya sewa rumah yang relatif besar. Menggunakan perangkat internet yang bisa disetting sendiri. Profesional dan punya peran masing-masing. Ada yang bertugas sebagai bagian IT dan ‘telemarketing’. Namun tidak semuanya terbuka mengenai peran masing-masing.

“Mereka selalu menyalahkan Rb. Ya mereka menyalahkan Rb karena belum tertangkap saja,” katanya.

Meski telah berhasil membongkar dua kelompok cyber fraud, Feby mengindikasikan masih ada tempat lain di Batam yang menjadi ‘markas’ aksi serupa. “Perumahan elit menjadi sasaran untuk tempat operasional karena dinilai lebih aman,” tegasnya.

***

Sebagian pelaku cyber crime asal Tiongkok dan Taiwan wanita. Foto: cecep mulyana/batampos
Sebagian pelaku cyber crime asal Tiongkok dan Taiwan wanita. Foto: cecep mulyana/batampos

Para pelaku yang berjumlah 58 orang, sebagian besar berasal dari Taiwan. Mereka datang secara bertahap dan bergantian. Ada yang sudah pernah datang berkali-kali. Lama mereka tinggal di Batam berbeda-beda. Ada yang baru dua pekan. Mereka datang dari Tiongkok dan Taiwan melalui Jakarta sebagai turis. Kemudian melanjutkan perjalanan ke Batam.

Saat tiba di Batam melalui Bandara Hang Nadim, mereka langsung menuju rumah yang sudah disiapkan di Perumahan Palm Spring dan Crown Hill. Kedua perumahan tersebut, statusnya sewa. Kasubdit III Ditreskrim Polda Kepri AKBP Feby mengungkapkan rumah itu disediakan dan disewa atas nama seseorang berinisial Rb. Satu rumah disewa Rp 40 juta.

“Orang Indonesia ini yang cari dan sediakan fasilitas,” kata Feby saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa lalu.

Ketua RW 01 Kelurahan Tamanbaloi, Oyong mengatakan rumah itu disewa oleh perusahaan yang bernama PT Serimas Group. Namun tidak ada satupun penghuninya melapor kepada dirinya atau ke pihak perangkat kelurahan. “Sudah sekitar 3 bulan ini mereka menghuni rumah itu,” ucapnya.

Puluhan penghuni di dua rumah itu juga, tidak satu pun yang pernah berinteraksi dengan warga atau penghuni rumah yang ada di sebelah kiri dan kanan. Mereka sangat jarang menampakkan diri pada siang hari. Bahkan untuk sekadar keluar sejenak di teras dan halaman rumah.

Salah satu sekuriti Perumahan Palm Spring, Lazarus mengungkapjan kalaupun penghuninya keluar pada siang hari, mereka tidak pernah berbicara satu patah katapun. Begitu sampai di rumah, mereka langsung masuk dan menutup pintu rapat-rapat. “Mereka lebih sering keluar pada malam hari,” ungkapnya.

Kelompok yang tinggal di Perumahan Crown Hill juga demikian. Mereka tidak berinteraksi dan selalu menutup pintu rumah rapat-rapat. Salah satu sekuriti perumahan Crown Hill yang menutupi identitasnya mengatakan sejak tiga bulan lalu ada aktivitas di rumah blok E nomor 48-49. Laki-laki paruh baya ini mengungkapkan pertama kali ia melihat ada pengerjaan penyambungan kabel optik ke rumah yang ditempati orang asing.

“Penyambungan kabel optik itu sudah diketahui bos kami. Tapi yah hanya untuk kedua perumahan itu. Tidak ada lagi untuk perumahan lain,” ujarnya.

Penyambungan kabel optik itu diduga untuk memperkuat jaringan internet yang mendukung aksi kejahatan mereka. Namun demikian, polisi tidak menyelidiki lebih jauh tentang dugaan itu. Feby hanya menghimbau kepada operator atau pemberi saranan untuk hati-hati ketika ada seseorang yang meminta sambungan internet dengan kuota yang besar.

“Dengan kuota internet yang besar, bisa disalahgunakan untuk kejahatan penipuan atau judi online,” jelasnya.

Ia juga menghimbau pemilik rumah di kawasan elit untuk waspada. Terutama bagi perumahan elit yang penghuninya yang jarang berinteraksi dan tidak saling kenal. Sebab perumahan elit menjadi sasaran pelaku cyber crime untuk tempat beroperasi.”Ya tipikal-tipikalnya seperti itu,” katanya.

Kepala Seksi Bidang Pengawasan dan Penindakan imigrasi (Wasdakim) Kelas I Khusus Batam Rafli mengatakan WNA yang tinggal dan menetap dalam jangka waktu tertentu di Indonesia mesti dilaporkan ke imigrasi. Baik yang tinggal di hotel maupun di perumahan. Jika tinggal di hotel, pihak hotel wajib melaporkan tamunya. Sementara bagi warga asing yang tinggal di lingkungan perumahan perangkat RT/RW atau masyarakat hanya dihimbau untuk melaporkan ke imigrasi.

“Buat surat dan bawa fotokopi paspor tamunya,” jelas Rafli.

Menurutnya, pengawasan orang asing dimulai sejak masuk ke Indonesia. Pada saat di pintu pemeriksaan imigrasi, petugas imigrasi hanya memeriksa paspor dan visa. Pihak imigrasi tidak bisa langsung mencegah jika warga negara asing tersebut tidak masuk dalam daftar cegah dan tangkal. Begitu pun dengan 58 WNA Taiwan dan Tiongkok yang diamankan di Batam tidak langsung dicegah saat masuk ke Indonesia melalui Jakarta. Sebab, ketika masuk dengan visa kunjungan wisata mereka tidak ada dalam daftar tangkal. Mereka juga belum melakukan kegiatan atau tindakan kriminal.

“Setelah masuk barulah kita memantau. Kita juga butuh partisipasi masyarakat. Minimal melaporkan,” katanya.

Namun kehadiran 58 WNA Taiwan dan Tiongkok di Perumahan Palm Spring dan Crwonhill tidak pernah dilaporkan. Baik perangkat RT/RW maupun warga setempat. Padahal mereka biasanya keluar dan terlihat pada malam hari. “Tetangga masa tidak tahu,” ucapnya dengan nada heran.

Sejauh ini, lanjut Rafli, masyarakat memang belum terlalu patuh untuk melaporkan WNA asing yang tinggal di perumahan. Sementara pengelola hotel atau penginapan serta perusahaan yang mempekerjakan pekerja asing sudah banyak yang patuh.” Penginapan dan perusahaan sudah patuh 80 persen,” bebernya.

Setiap WNA atau perusahaan dan hotel punya kewajiban untuk melaporkan diri atau tamunya pada petugas Imigrasi. Bila tidak melaporkan, pelanggaran UU Keimigrasian ini dihukum dengan pidana penjara maksimal tiga bulan dan denda paling banyak Rp25 juta. (Majalah Batampos)

Respon Anda?

komentar