40 Hektar Hutan Dam Tembesi Rusak Parah, BP Batam Cuek

373
Pesona Indonesia
Aktifitas tambang pasir ilegal di tepi dam Tembesi.  Foto: Alfian/batam pos
Aktifitas tambang pasir ilegal di tepi dam Tembesi. Foto: Alfian/batam pos

batampos.co.id – Kemarau panjang memang menjadi salah satu penyebab menurunnya debit air di semua dam di Batam. Namun, kehancuran hutan di Batam akibat pembangunan yang mengabaikan lingkungan, juga memberi andil.

Tak hanya itu, pengrusakan hutan di sekitar dam juga terang-terangan. Akibatnya, hutan yang berfungsi menyimpan air, mencegah laju air permukaan, mengrangi laju penguapan dan beragam fungsi lainnya, menjadi hilang.

Kondisi ini bisa dilihat di dam Tembesi. Dam yang digadang-gadang menjadi sumber air bersih terbesar kedua setelah Duriangkang. Dam yang juga menggantikan peran Dam Baloi yang dialihfungsikan menjadi kawasan komersil. Sedikinya 40 hektar hutan sekitar dam Tembesi ini rusak parah, akibat aktifitas penambangan pasir darat ilegal.

Kerusakan hutan dan lahan ini dibenarkan Kepala Bapedal Kota Batam, Dendi Purnomo. “Kami sudah beberapa kali melakukan penertiban. Tetapi di sini BP Batam yang berwenang atas lahan itu. Harusnya BP Batam pro aktif,” kata Dendi, Jumat (11/9).

Dendi juga mengakui penghancuran hutan di sekitar dam Tembesi dilakukan secara masif. Hutan dibabat, lalu pasirnya ditambang.

Yang lebih parah, bukit-bukit di sekitar daam hutannya juga dibabat lalu bukitnya dipotong. Hingga saat ini, aktifitas itu masih berlanjut tanpa ada tindakan.

“Padahal dam itu diproyeksikan memproduksi air bersih sekitar 600 liter per detik,” ujar Dendi.

Menurut Dendi, saat Bapedal melakukan penertiban kerap hanya menemukan alat di tempat. Diduga informasi bakal ada penertiban sudah bocor duluan.

“Makanya kita sangat minim menangkap pelakunya. Kalau pompa dan alat berat sudah banyak yang kita sita,” katanya.

Dalam dua tahun terakhir Bapedal sudah menyita 123 mesin pompa, 11 alat berat berupa escavator dan 21 dump truk. Tetapi alat-alat ini disita dari dua tempat yakni Nongsa dan Tembesi.

“Sebagai yang berwenang atas lahannya, kita berharap BP Batam terus melakukan patroli,” katanya.

Jurado Siburian, anggota komisi III DPRD Kota Batam menegaskan BP Batam jangan hanya tinggal diam melihat dam tembesi terancam oleh tambang pasir. Menurutnya, saat ini sudah hampir tidakĀ  ada hutan di sekitar dam. Padahal untuk dam keberadaan hutan sangat penting.

“Lihat saja ke sana sudah gundul. Pohon-pohon di sekitar dam sudah habis. BP Batam jangan membiarkan itu habis oleh penambang pasir,” katanya.

Menurutnya, kalau tidak dari sekarang dilakukan pemeliharaan dan penertiban, maka kondisinya akan semakin parah. Dan umurnya dikhawatirkan tidak akan berumur panjang.

“Apa pernah kita dengar ada BP Batam melakukan penertiban di sana. Yang pernah kita dengar adalah Bapedal. Kita harapkan tindakan tegas dari BP Batam,’ katanya.

Dari pantauan Batam Pos, setiap harinya puluhan truk pengangkut pasir lalu lalang ke kawasan hutan lindung tersebut. Bahkan satu truk bisa lima sampai enam kali sehari mengangkut pasir dari sana.

Dalam melakukan penambangan, air akan disemprotkan untuk mencuci tanah yang bercampur pasir. Tanahnya bahkan ada yang langsung mengalir terbawa air ke dam. Pendangkalan dam pun terjadi. “Yang punya kewenangan (BP Batam) saja tak peduli. Begini jadinya,” ujar Jurado. (ian/bpos/nur)

Respon Anda?

komentar