Suami Tidak Tahu Diri

1081
Pesona Indonesia

william-haefeli-lazy-i-ve-been-social-networking-my-ass-off-new-yorker-cartoon

batampos – Sudah jatuh tertimpa tangga. Mungkin itulah yang kurasakan saat ini. Bagaimana tidak, selama ini aku bekerja banting tulang untuk memenuhi kebutuhan keluarga, eh suamiku malah meraup semua penghasilan yang aku kirim tiap bulan untuk berfoya-foya. Tak sampai disitu ia juga selingkuh di belakangku hingga menghamili perempuan lain. Ohhh..Tuhan..

Salam kenal pembaca setia batam oh batam. Panggil saja saya DE, wanita usia 32 tahun. Aku seorang wanita karir. Aku ingin menceritakan perjalanan hidupku yang sangat miris.

Hidup cuma modal tampang aja. Mungkin ungkapan itu yang pantas untuk menggambarkan sosok suamiku ini. Sebut saja namanya BD. Perilakunya sungguh mengiris hati wanita manapun jika menjadi istrinya.

Pembaca yang budiman, semua ini bermula dari perkenalanku dengan BD di sebuah pub. Waktu itu aku dikenalkan oleh seorang teman. BD ternyata bekerja di pub itu. Wajahnya ganteng, dan tutur katanya sih sopan, namun dibalik itu dia adalah pria perayu ulung dan suka memikat hati wanita. Hal itu aku rasakan ketika sejak pertama kali berkenalan dengannya.

Entah kenapa, aku merasa terbuai oleh pujiannya. Kami pun cepat akrab dan saling bertukar kontak. Bila ada kesempatan, aku sering mengajak teman-temanku untuk nongkrong di pub tempat ia bekerja. Lama kelamaan, kami pun pacaran.

BD itu pria romantis. Itulah yang paling aku suka dengannya. Meskipun kharakterku adalah tipikal orang yang sangat serius, ia seolah bisa mencairkannya dengan kata-kata rayuan yang bernuansa humor.

Yah meskipun pacaran kami sering dibumbui oleh pertengkaran, semuanya berakhir bila BD sudah melancarkan rayuan mautnya. Aku pun pasrah dan memaafkan kesalahannya.

Beberapa tahun pacaran, kami pun bertekad untuk menjalin hubungan yang lebih serius, yakni menikah. Awalnya keluargaku melarangku menikah dengannya karena dia bekerja di sebuah pub. Namun aku berhasil membujuk orang tuaku.

Namun pernikahan itu tidak semudah yang aku bayangkan. Setelah beberapa bulan menikah, aku berhenti bekerja karena kontrakku habis. Otomatis semua pengeluaran kebutuhan rumah hanya bersumber dari gaji suamiku. Gajinya hanya cukup untuk makan dan bayar cicilan rumah saja. Benar pas-pasan.

Hal ini membuatku berfikir keras bagaimana bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari. Apalagi kabarnya pub tempat suamiku bekerja akan ditutup. Habis sudah nasib kami jika begitu.

Kebetulan salah satu rekanku dulu ada yang memberikan info bahwa ada lowongan pekerjaan yang cocok dengan kualifikasiku. Gaji dan insentifnya cukup besar dan menggiurkan. Namun lokasi kantornya ada di luar kota.

BD mendorongku untuk mengambil tawaran itu. Ia merasa tidak keberatan jika harus Long Distance Relationship atau LDR. Aku sendiri sebenarnya bimbang namun suamiku meyakinkanku dengan dalih memperbaiki ekonomi keluarga. Ironisnya, dia sendiri menggangur.

Akhirnya aku terpaksa berangkat ke luar kota dan hidup disana. Suamiku enggan ikut, katanya ia akan tetap melamar-lamar pekerjaan di kota ini. Lagian cicilan rumah juga belum lunas, dalihnya.

Walhasil, tiap bulan aku mengirimi suamiku uang. Uang itu untuk biaya hidupnya selama mencari pekerjaan, uang rokok, bensin, pulsa, hingga cicilan rumah. Alhamdulillah karirku pun semakin meningkat dan gajiku pun mulai naik.

Namun, suamiku tak kunjung mendapatkan pekerjaan. Hingga berbulan-bulan lamanya ia hanya mengandalkan uang bulanan saja dariku. Hingga suatu hari ia menyampaikan niatnya untuk minta dibelikan mobil. Katanya dengan memakai mobil, penampilannya bisa lebih meyakinkan untuk menjadi seorang marketing.

Aku pun mengalah, dan memintanya untuk mengurus cicilan mobil. Otomatis beban biaya yang aku tanggung tiap bulan menjadi lebih besar. Tapi tak apa-apa, pikirku kali itu. Setelah semuanya lunas, nanti aku bisa berhenti bekerja dan menikmati hasilnya.

Suatu hari aku sangat terhenyak karena mendapat inbox di Facebook dari seorang perempuan. Dia mengaku sedang hamil anak BD. Aku hampir tak percaya sampai wanita itu mengirimkan foto-fotonya bermesraan dengan BD.

Hatiku hancur melihatnya. Seketika aku pulang dan mendapati keadaan rumah benar-benar berantakan. Ada surat penyitaan di depan pagarnya.

Jadi selama ini suamiku tidak membayar cicilan rumah dan mobil hingga menunggak berbulan-bulan. Uang yang kukirim selama ini pastilah digunakannya untuk foya-foya dan main perempuan. Sementara diriku harus kerja siang malam untuk mencari uang.

Sungguh engkau keterlaluan, suamiku!! Saya doakan semoga Tuhan membuka pintu tobat untukmu. Aku sudah tidak sanggup lagi bertahan dan akan segera mengurus perceraian denganmu. Biarlah kau bertanggung jawab dengan perempuan yang kau hamili.

Para pembaca yang budiman, semoga kita bisa belajar dari kisah hidupku. Sebagai seorang kepala keluarga, suami itu harus dapat melindungi dan mengayomi serta menafkahi istrinya. Itu adalah kewajiban.(Diceritakan kembali oleh Fenny Ambaratih)

Respon Anda?

komentar