Ini Solusi Halau Badai Pasir ala Lusi

431
Pesona Indonesia
Geonet yang telah dipasang di atas hamparan pasir. Foto: net
Geonet yang telah dipasang di atas hamparan pasir. Foto: net

batampos.co.id – Cuaca di Arab Saudi tidak menentu. Kadang sore turun hujan setelah panas terik, lalu langit tiba-tiba menjadi gelap dan angin bertiup kencang.

 Kondisi seperti itulah yang terjadi saat jatuhnya krane pada pukul 17.00 WIB, Jumat lalu di Masjidil Haram yang menewaskan ratusan jamaah, termasuk tujuh dari Indonesia.

Dua hari sebelum hujan badai yang menumbangkan crane di Masjidil Haram, Jeddah dan sekitarnya juga mengalami badai debu dan pasir yang menyebabkan jarak pandang dan sistem pernafasan terganggu.

Kondisi ini membawa keprihatinan Lusi Efrina Kiroyan, wanita asal Batam yang juga pengusaha arang berkualitas ekspor. Dalam postingan di facebook Lusi mencurahkan pengalamannya 2 tahun lalu, saat seminggu sebelum berangkat umroh. Ia di panggil oleh seorang pengusaha besar di Jakarta.

”Pengusaha itu ingin saya mengerjakan proyek geonet. Ia menjelaskan bahwa Cina membutuhkan banyak geonet untuk menutupi padang pasirnya sehingga jika badai pasir terjadi pasirnya tidak membahayakan masyarakat kota,”tulis Lusi yang juga pendiri Lembaga Sosial Cinderella from Indonesia Center yang bertempat di Batam ini.

Lusi Efrina Kiroyan. Foto: dok. lusi
Lusi Efrina Kiroyan. Foto: dok. lusi

Ketika melaksanakan umroh,Lusi memang melihat sendiri kondisi padang pasir di Arab. ”Dalam perjalanan 4 jam dari Makkah ke Madinah, saya lihat hanya padang pasir.Saya sempat mikir kalo terjadi badai pasir, bagaimana nasib para jemaah,” tulis Lusi lagi.

Kemudian Lusi menyampaikan masalah ini kepada pengusaha Singapura. Ia ingin menembus pasar Timur Tengah untuk memasarkan geonet. Tetapi mereka tidak percaya. ”Sekarang apa yang saya takutkan terjadi.Badai pasir terjadi di sana,”tulis Lusi.

Geonet, kata Lusi dibuat dari serabut kelapa. Ia memang belum memproduksinya. ”Dulu pernah dapat tawaran dari buyer untuk memasok geonet 200 ton per bulan. Tapi saya masih kesulitan bahan bakum,” kata Lusi lewat inbox.

Ia berencana membuka integrated coconut industry di Tanjung Jabung Timur, Jambi. Namun, Lusi mengaku masih terkendala masalah listrik.
Saat ini, kata Lusi lagi, pemain besar Geonet adalah Filipina dan India. ”Ini sebenernya bisa jadi peluang buat Indonesia.”tuturnya.Proses pembuatan geonet sebenarnya mudah, seperti membuat net yang digunakan untuk bukutangkis. Tapi jaring-jaringa rapat sehingga air masih bisa meresap dan jika terjadi badai pasir menempel pada net tersebut.

”Kita sangat bisa membuatnya. Tapi karena kebutuhannya besar biasanya  terkendali di bahan. Jika dipasok dari Batam saja, masih jauh dari kebutuhan. Apalagi sekarang kelapa utuh banyak ekspor bulat. Sehingga batok dan sabutnya berkurang di Indonesia,”kata Lusi yang berharap impiannya memproduksi geonet terwujud. (agn)

Respon Anda?

komentar