Wuih…, Tiap Bulan 3.000 Bayi Lahir di Batam

294
Pesona Indonesia
Ilustrasi: pixabay.com
Ilustrasi: pixabay.com

batampos.co.id – Upaya Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kota Batam di DPRD Kota Batam untuk mengajak ibu-ibu ber-KB memang tidak mudah. Pasalnya, rata-rata pasangan muda yang masih enggan ber-KB karena ingin memiliki momongan. Bahkan, banyak yang ingin memiliki momongan lebih dari dua.

Lihat saja angka kelahiran di Batam. Setiap bulannya rata-rata angka kelahiran di Batam 2.750 bayi. Itu data tahun 2012, sementara setiap tahunnya meningkat.

Sedikit ke belakang. Data kelahiran tahun 2010 saja hingga akhir tahun mencapai 25.905 bayi. Lalu naik sekitar 22,68 persen di tahun 2011 dengan jumlah kelahiran mencapai 31.779 bayi. Sementara tahun 2012 naik lagi 4,17 persen atau 33.105 bayi. Lalu Tahun 2013 di atas 35.000 bayi dan 2014 naik menembus angka di atas 37.000 bayi.

Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kota Batam Nurmadiyah mengatakan tingginya akangka kelahiran di Batam karena masih banyaknya warga yang tidak melakukan program Keluarga Berencana (KB). Padahal, menurut Nurmadiyah program KB akan berdampak langsung bagi kesejakteraan keluarga.

“Banyak yang kita lihat, penghasilan pas-pasan tetapi ada anaknya yang lebih dari empat orang. Bayangkan, dengan kehidupan seperti itu harus membiayai anak dengan jumlah banyak,” katanya.

Ia menghimbau kepada semua keluarga yang ada di Batam untuk ikut KB demi terciptanya keluarga yang berkualitas. Ia mengaku untuk melakukan KB tidak dipungut biaya sama sekali. Meski masih banyak yang belum, tetapi sudah banyak juga warga yang melakukan program KB.

Kepala Dinas kesehatan Kota Batam Candra Rizal membenarkan angka kelahiran bayi di Batam setiap tahunnya meningkat signifikan sehingga pertumbuhan penduduk Batam juga tinggi.

“Kalau angka kelahiran bayi memang tinggi. Tetapi untuk tahun 2015 ini saya belum tahu berapa, di akhir tahun nanti akan ketahuan,” katanya.

Tetapi ia menegaskan bahwa angka kelahiran hidup di Batam termasuk tinggi. Artinya sudah dilakukan pola penanganan modern sehingga angka kematian menurun.

“Sudah jarang yang meninggal saat melahirkan, kalaupun ada itu susah dijumpai,” katanya. (bpos/nur)

Respon Anda?

komentar