Staf BNN Batam Bantah Terlibat Pemerasan

357
Pesona Indonesia
Win Anas, Staf BNN Kota Batam. Foto: Dalil Harahap
Win Anas, Staf BNN Kota Batam. Foto: Dalil Harahap

batampos.co.id – Staf Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Batam, Win Anas, yang disebut-sebut terlibat dalam kasus dugaan pemerasan terhadap tiga warga Kampung Aceh, membantah terlibat. Ia mengaku tidak mengenal Feri, pria yang diamankan warga karena mengaku anggota BNN lalu memeras warga, Senin (14/9) lalu.

Feri yang ternyata bukan anggota BNN itu hendak menangkap tiga warga Aceh bernama Asrat, Riski, dan Siregar. Kemudian ia memeras mereka masing-masing Rp 1 juta agar bisa dibebaskan.

Feri juga mengaku kenal dan menjadi teman baik Win Anas. Nama Anas diseret-seret untuk meyakini tiga warga Kampung Aceh tersebut. Tapi Anas sama sekali tidak kenal dengan Feri yang kini mendekam di penjara Polsekta Batuaji karena kasus pemerasan tersebut.

“Setelah saya dan dia (Feri, red) ketemu, kami tidak saling mengenal,” ujar Anas kepada wartawan di Mapolsek Batuaji kemarin (15/9).

Menurut Anas, agar bisa mengelabui Asrat cs yang saat itu Feri sempat menangkap Asrat cs di Kampung Aceh, kemudian dibawa ke kantor BNN Kota Batam di Botania.

“Tetapi hanya berada di depan kantor saja lalu berpura-pura menelpon agar pintu kantor segera dibuka. Tapi sebenarnya tidak ada,” ujar Anas.

Setelah dibawa ke kantor BNN Kota Batam, Feri kemudian melepas Asrat cs setelah ada kesepakatan akan membayar uang tebusan keesokan harinya, Senin (14/9). Asrat cs berjanji akan memberikan uang tebusan itu di Pasar Melayu, Sagulung, tepatnya di cucian mobil tempat Asrat bekerja.

Saat itu Feri agak memaksa agar Deni, majikan Asrat cs segera membayar tebusan tersebut. Saat itu warga yang berada di situ minta Feri menunjukan identitasnya sebagai anggota BNN. Karena tak bisa menunjukan identitas, Feri kemudian diamankan warga ke kantor polisi.

Kapolsek Batuaji, Kompol Andy Rahmansyah mengaku telah memanggil Anas kemudian mengkonfrontir keduanya. Ternyata Anas tidak mengenal Feri.

“Kasus ini tetap kita lanjuti, dengan kasus penipun dan pemerasan,” ujar Andy. (cr14/bpos)

Respon Anda?

komentar