Aborsi, Janin Disimpan Sepekan Dalam Mini Bar

272
Pesona Indonesia
Sidang sepasang kekasih pelaku abrosi. foto:Anggie/batampos
Sidang sepasang kekasih pelaku abrosi. foto:Anggie/batampos

batampos.co.id – Sepasang kekasih, Didik Darmadi dan Daissy Erlia Nathasia menjadi terdakwa dan ┬ádisidang atas kasus pembunuhan janin alias aborsi di Pengadilan Negeri (PN) Batam, Rabu (16/9) siang.

Persidangan yang beragendakan dakwaan dan mendengarkan keterangan saksi ini, dipimpin oleh Hakim Ketua Vera Yetti dan Hakim Anggota Syahrial dan Alfian, serta Jaksa Penuntut Umum (JPU) Nurhasaniati.

Dari dakwaan yang dibacakan JPU, kedua terdakwa telah melakukan tindakan yang melanggar hukum dengan cara menggugurkan kandungan dan kemudian janin yang berusia 4 bulan tersebut ditemukan pihak kepolisisan dalam mini bar kamar nomor 102 di Hotel New Future, Pelita pada Kamis (26/3) lalu.

Dakwaan tersebut diperkuat dengan keterangan saksi yang dihadirkan JPU yakni dua orang dari cleaning service hotel dan dua orang dari klinik tempat terdakwa Daissy melakukan aborsi.

Saksi dari hotel yang enggan disebutkan namanya ini menceritakan, awalnya terdakwa Daissy menginap di hotel dengan waktu yang cukup lama atau long stay, namun sudah semingguan terdakwa tidak ada datang-datang ke hotel sementara kamar belum checkout, jadi diperintahkan manajemen hotel untuk membuka kamar 102 agar dibersihkan.

“Sedang bersih-bersih, ada bau amis dari arah mini bar. Ketika mini bar dibuka ada toples yang berisi bungkusan kantong hitam, pas kami buka bungkusan tersebut terlihat ada kaki bayi yang terbalut kain. Karena takut, kami langsung menghubungi polisi dan polisilah yang membuka bungkusan itu, ternyata ada janin bayi,” papar saksi cleaning service.

Mereka juga mengaku, saat terdakwa belum check-in di kamar 102 tidak ada ditemukannya bungkusan yang mencurigakan tersebut, dan sesudah terdakwa tidak kembali ke hotel selama seminggu itu juga tidak ada tamu lain yang masuk ke kamar 102.

Selanjutnya, dari keterangan saksi klinik yaitu bidan dan asisten bidan mengatakan bahwa terdakwa datang ke kliniknya pada Jumat (27/2). Saat datang ke klinik, terdakwa merintih kesakitan. Asisten dan bidannya langsung menangani terdakwa dan saat diperiksa ternyata janin dalam kandungan Daissy sudah keluar sebagian sehingga janin tersebut harus segera ditarik semua.

“Bokongnya yang terlihat duluan, saya pun berusaha mengeluarkannya namun badan janinnya sudah terpisah dengan lehernya, terpaksa saya harus menggunakan alat untuk mengeluarkan kepalanya yang masih tertinggal,”ujar bidan.

Ia menambahkan, janin tersebut ternyata telah tidak bernyawa dalam kandungan sejak tiga hari sebelum terdakwa datang ke kliniknya. “Saya juga sempat tanya, apa sengaja digugurkan? jawab terdakwa ia karena belum menikah,” terang bidan.

“Atas perkara ini, terdakwa terancam dikenakan pasal berlapis,” tegas JPU Nurhasaniati seusai sidang.

Pasal tersebut yaitu pasal 80 ayat (3) dan (4) UU nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Jo pasal 56 ke 1 KUHP, pasal 75 ayat (2) Jo pasal 194 UU nomor 36 tahun 2009 Jo pasal 56 ke 1 KUHP tentang Kesehatan, dan pasal 346 KUHP Jo pasal 56 ke 1 KUHP.

Majelis Hakim kembali melanjutkan sidang perkara ini dalam pekan depan, Senin (21/9) dengan agenda pemeriksaan terdakwa. (cr15)

Respon Anda?

komentar