Indonesia Yakin Bisa Rebut Pengelolaan Udara Batam dan Natuna

270
Pesona Indonesia
ilustrasi
ilustrasi

batampos.co.id – AirNav terus menggesa modernisasi peralatan navigasi di bandara.

Moderinasi itu terkait keinginan Indonesia untuk mengatur lalulintas udara di langit Indonesia.

Direktur Services Development dan IT AirNav, New In Hartaty Manullang optimistis, Indonesia dapat mengambilalih kedaulatan udara di sekitar Kepulauan Natuna dan Batam yang selama ini dikuasai Singapura dan Malaysia, dalam waktu satu tahun.

“Jika dalam setahun ini memodernisasi peralatan bisa dapat rampung, maka kami optimistis bisa,” ujar Hartaty Manullang, Rabu (16/9).

Menurut Hartaty, kesiapan mengambilalih kedaulatan udara NKRI, menjadi langkah konkret AirNav mendukung road map transformasi BUMN dalam lima tahun yang sudah disusun Menteri Rini Soemarno. Apalagi sebelumnya Presiden Joko Widodo juga telah menargetkan, dalam tiga tahun ini Indonesia harus bisa merebut kembali kedaulatan udara di sekitar Kepulauan Natuna dan Batam.

Hartaty merupakan salah seorang dari tiga srikandi pakar dan praktisi navigasi nasional yang disiapkan menjadi motor penggerak untuk merebut kedaulatan udara sekitar Kepulauan Natuna yang selama ini dikenal sebagai Sektor ABC. Ketiganya menjadi motor pembentukan Kelompok Perencanaan Penerbangan Indonesia (KP3I).

Saat ini KP3I diketahui tengah merancang perumusan grand design master plan penerbangan nasional untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, mendukung aspek pertahanan dan keamanan negara.

Menurut Hartaty, target awal KP3I adalah menata penerbangan hingga menyentuh kawasan terpencil, sekaligus pengambil-alihan wilayah ruang udara sekitar Kepualauan Natuna.

“Pengambilalihan sektor ABC bukan sekadar aspek pelayanan, tapi juga martabat bangsa berdaulat. Karena itu lobi-lobi antarnegara juga perlu dilakukan agar bersamaan dengan penegakan kedaulatan,” ujarnya.

Sektor ABC meliputi,

  • A merupakan wilayah di bagian utara Singapura,
  • B daerah di sekitar Laut Cina Selatan dan
  • C meliputi bagian utara.

Saat ini pengelolaan tata ruang udara Sektor C (ketinggian di atas 24.500 kaki) dilakukan Singapura, sedangkan ketinggian di bawah 24.500 kaki, dikelola Malaysia. (gir/jpnn)

Respon Anda?

komentar