Keluargaku Sengsara Disebabkan Ayahku Penjudi

835
Pesona Indonesia

Businessman at Card Table

batampos.co.id – Judi sering diibaratkan sebagai racun dunia. Karena dampak yang ditimbulkan tidak hanya dari segi finansial saja, namun juga merambat ke dalam keharmonisan keluarga. Seperti kisahku yang memiliki ayah yang ketagihan dengan judi. Semua hancur, kami bangkrut, dan masa depanku serta saudara-saudaraku pun ikut musnah.

Pembaca Batam Oh Batam yang budiman. Perkenalkan aku seorang pria berusia 30-an tahun. Aku ingin menceritakan sekelumit kisah hidupku yang penuh liku.

Aku dibesarkan dalam sebuah keluarga yang harmonis di sebuah kota. Ayahku adalah seorang pengusaha di bidang properti yang sedang berkembang di masa itu. Awalnya hidup kami biasa saja, kami tinggal di sebuah rumah sederhana.

Usaha ayah makin lama semakin maju, hidup kami pun menjadi lebih berkecukupan. Dulu kata ibu, usaha ayah sedang maju-majunya karena orang ramai membeli rumah padanya. Ayahku memang tipe orang yang supel dan ramah, sehingga tak heran jika ia memiliki banyak rekanan.

Namun, lama-kelamaan ayah menjadi terlalu sibuk dengan dunianya sendiri. Ia hampir tidak memiliki waktu dengan kami. Alasannya pasti ada urusan dengan klien. Pulangnya juga suka hingga larut malam. Dari bau mulutnya, bisa dipastikan ayah telah menenggak minuman keras.

Ibu menjadi orang yang pertama mencium bau tidak beres pada ayah. Setelah ia selidiki ternyata ayah terlibat dalam permainan judi.

Uang hampir tidak jelas kemana perginya. Jika ditanya ayah tidak segan-segan memukuli ibu. Karena masih kecil, kami sebagai anak-anaknya hanya bisa diam melihat kedua orang tua kami bertengkar.

Karena hobi ayah yang suka menghambur-hamburkan uang. Kondisi keuangan kami mulai goyah. Ayah bahkan juga tidak sanggup membayar uang sekolah untuk pendidikan anak-anaknya.

Akhirnya, ibu terpaksa menjual satu persatu harta kami. Mobil sampai perhiasan pun akhirnya ludes. Namun ayah belum kunjung sadar dengan tabiatnya. Ia masih berfikir seandainya menang, semua bisa dibeli kembali.

Namun kekalahan demi kekalahan yang terus ia terima. Di saat-saat kami tidak punya apa-apa lagi datanglah beberapa rentenir datang ke rumah. Ternyata ayah meminjam uang dalam jumlah yang sangat banyak pada mereka.

Ibu tentu saja sangat syok dan meminta mereka datang jika ayah sudah pulang ke rumah. Akhirnya para rentenir itu pergi setelah ibu memohon-mohon minta keringanan waktu.

Sesampainya di rumah, ibu menceritakan dan memaki-maki ayah karena sudah meminjam uang pada rentenir. Bahkan bunganya saja kami tidak sanggup membayarnya.

Akhirnya ayah mengajak kami untuk pindah kota demi menghindari hutang-hutangnya itu. Karena tidak ada cara lain, kami sekeluarga pun pindah ke ibukota.

Disana kami memulai kehidupan dari bawah. Ibu terpaksa bekerja sebagai pembantu rumah tangga, meninggalkan anak-anaknya di rumah. Sedangkan ayah masih belum mendapatkan pekerjaan sehingga seringnya kerja serabutan.

Setelah lulus SMA, saya mulai bergaul dengan “anak-anak nakal” di kota. Saya pun terlibat dengan beberapa perkara pelanggaran hukum. Setelah dinyatakan bersalah karena mencuri motor, saya menjalani hukuman kurungan selama 18 bulan di Rutan.

Saya dikurung di sel bersama dengan delapan laki-laki lain. Beberapa lebih tua dari saya, beberapa lagi lebih muda. Kondisinya tidak buruk, tapi tidak ada yang bisa dilakukan. Para tahanan di dalam sel itu bercerita tentang apa yang telah mereka lakukan dan bagaimana mereka tertangkap. Ini seperti suatu kursus di bidang kejahatan.

Keluar dari rutan saya menjadi memiliki banyak teman sesama pelaku kriminal. Hidup saya pun makin berkecimpung di dunia kelam, mulai dari pengedar narkoba hingga mencetak uang palsu.

Namun suatu hari ada pengalaman yang membuat saya insaf. Waktu itu saya sedang dikejar-kejar polisi. Saat senjata ditodongkan ke kepala saya, saat itulah saya berdoa pada yang Diatas. Jika seandainya saya masih diberi kesempatan kedua, saya ingin bertobat.

Akhirnya, doa saya terkabul. Saya tidak jadi mendapatkan hukuman mati. Keluar dari rutan saya pun berjanji akan menempuh jalan yang lurus. Saya pun menjadi lebih dekat dengan Tuhan.

Keluargapun mulai memaafkan saya dan menerima saya kembali. Saya pun mulai dekat dengan ayah dan banyak belajar pengalaman bisnis dengannya.

Saya pun mulai mencari rejeki dengan cara yang halal. Awalnya saya bekerja pada sebuah rumah makan. Bekerja dari sana saya mengumpulkan modal usaha sedikit demi sedikit.

Berbekal dengan uang beberapa juta saja, sayapun mulai membuat warung kopi kecil-kecilan. Namun berkat dukungan dan doa orang tua, akhirnya usaha saya membuahkan hasil. Dari laba yang saya dapatkan saya gunakan lagi untuk modal usaha lain.

Kini saya telah memiliki rumah sendiri dari hasil usaha saya. Setidaknya saya bisa memiliki kekayaan dari hasil jerih payah sendiri dari sumber yang halal. Saya mengajak orang tua untuk tinggal bersama saya dan kami terus menata kehidupan lebih baik ke depannya. (Diceritakan kembali oleh Fenny Ambaratih)

Respon Anda?

komentar