PLN, ATB, Dengar Jeritan Warga Botania

371
Pesona Indonesia
Ilustrasi: net
Ilustrasi: net

batampos.co.id – Warga di sekitar Botania, merasa gerah akibat
pemadaman air dan listrik bersamaan. Aktifitas warga menjadi
terganggu.

“Bagaimana saya mau berusaha dan berdagang. Kalau air dan
listrik matinya kompakan,” kata salah seorang pengusaha
Loundry di Botania, Syafliana, Rabu (16/9).

Ia mengatakan tak bisa menjalankan usahanya seperti biasa. Ia
juga mengeluhkan banyaknya pelanggannya yang lari. “Sudah
banyak pelanggan saya yang lari, karena baju mereka tak
selesai tepat waktu,” tuturnya.

Seharusnya, kata Syafliana, ada solusi konkret dari ATB dan
PLN mengatasi permasalahn ini. Pemerintah juga seharusnya
mengawasi kinerja dua perusahaan terkait kepentingan publik
ini agar tidak mati bersamaan.

“Kalau begini terus usaha loundry kami bisa tutup,” ujar
Syafliana.

Tak jauh beda dengan Doni, pengusaha warnet di daerah Botania.
Ia mengatakan seringnya lampu hidup mati komputer di warnetnya
cepat rusak. Omzetnya juga menurun. “Lemah omset akhir-akhir
ini,” ujarnya singkat.

Neng, salah satu warga perumahan Nadim Raya, menuturkan bahwa
dirinya harus berjaga malam. Sebab ia dan suaminya harus
mengisi semua bak dan ember-ember yang ada. Sebab bila tak
diisi, maka anak-anaknya tak bisa mandi. Sementara pagi-pagi
anak-anaknya harus ke sekolah.

Ia menyebutkan, biasanya air itu mulai mengalir di atas pukul
12.00. (ska/bpos)

Respon Anda?

komentar