Aku Anak Yang Dibuang

984
Pesona Indonesia

abandoned-child

batampos.co.id – Entah apa salah dan dosaku. Belum genap sebulan aku dilahirkan di dunia ini, aku kemudian dicampakkan begitu saja seperti barang yang tidak diinginkan. Apa yang membuat kalian tega membuangku ayah? ibu? Aku ini bukan benda, aku manusia, aku darah dagingmu.

Salam kenal pembaca setia batam oh batam yang budiman. Panggil saja saya Dn, pria usia 25 tahun. Saya ingin menceritakan perjalanan hidup saya yang cukup memilukan.

Cerita ini bermula dari puluhan tahun yang silam, dimana terdapat dua insan yang dimabuk asmara di sebuah desa. Mereka adalah duo sejoli Mawar dan Jaka. Mawar merupakan gadis cantik berkulit putih, ia berasal dari keluarga pengusaha kaya. Sedangkan Jaka, pemuda gagah yang juga berasal dari kalangan terpandang di desa itu.

Mereka menjalin kasih secara diam-diam tanpa sepengetahuan keluarga masing-masing. Konon, kedua keluarga mereka saling membenci satu sama lain. Hubungan sepasang muda-mudi ini pun semakin menguat tanpa ada satu orang pun yang tahu. Cinta yang diikrarkan pun kemudian menjadi dalih untuk melakukan hubungan fisik yang terlarang.

Suatu hari gemparlah seisi desa ketika mengetahui Mawar tengah mengandung. Mereka bertanya-tanya siapa ayah dari anak yang ada di rahimnya. Didesak oleh orang tua, Mawar pun akhirnya mengaku bahwa dirinya sudah lama menjalin kasih dengan Jaka. Dan anak yang ia kandung adalah benih dari pemuda itu.

Keluarga Mawar berang saat mendengar pengakuan anak gadisnya yang telah ternodai itu. Terlebih sang ayah yang termasuk orang yang disegani seisi kampung. Malu karena arang sudah tercoreng di wajahnya, sang ayah kemudian mengusir Mawar dari rumahnya. Saat itu gadis malang itu sudah hamil 8 bulan.

Mawar mendatangi Jaka dan menceritakan apa yang menimpanya. Namun bukannya iba, pemuda itu justru berlagak tidak peduli dan mengatakan bahwa keluarganya sudah jelas tidak akan bisa menerima gadis dari keluarga yang mereka benci.

Tidak sanggup menerima kenyataan, Mawar yang tengah berbadan dua kemudian lari ke hutan. Dengan susah payah karena perutnya yang sudah membesar, ia pun kemudian sampai pada sebuah kuburan tua. Di sanalah akhirnya ia melahirkan seorang bayi laki-laki.

Disaat keadaannya yang susah payah itu, datanglah ibu mawar. Dengan kasih sayang, diajaknya putrinya itu untuk kembali ke rumah dan merawat anaknya. Demi melihat kondisi mawar setelah melahirkan, hati sang ayah pun melunak dan mengijinkannya kembali untuk kembali ke rumah mereka.

Namun sebulan setelah kejadian itu, akhirnya keluarga ini sudah tidak sanggup lagi menahan aib. Mereka menganggap bayi itu harus dibuang karena sumber petaka. Dengan terpaksa mawar mengikuti perintah orang tuanya untuk membuang anak itu.

Bayi itu kemudian ditaruh kedalam sebuah keranjang dan dituliskan sebuah surat wasiat. Keranjang itu pun dibawa ke kota. Tepatnya di sebuah komplek pertokoan yang penghuninya masih sepi, keluarga tersebut meletakkan keranjangnya dan pergi meninggalkannya begitu saja.

Pembaca yang budiman, bayi merah itu adalah saya. Saya lah anak yang dibuang itu. Beruntungnya, keranjang itu ditemukan oleh seorang abdi Tuhan dan memelihara saya dengan baik hingga besar. Saya dibawa ke Batam. Meskipun akhirnya saya hanya dijadikan tukang sapu di sebuah tempat ibadah, saya masih sangat bersyukur telah diberi kehidupan. Saya tidak mengenyam pendidikan formal seperti anak-anak lain, namun untuk sekedar baca tulis saya diajarkan oleh orang baik hati tersebut.

Pada usia 15 tahun, saya tumbuh jadi remaja yang pendiam. Akhirnya bapak tersebut menceritakan semua peristiwa yang ditulis disurat wasiat. Di kertas usang tersebut tertulis pula alamat dimana keluarga saya tinggal. Saya tidak dapat menahan air mata, karena selama ini saya diberitahu bahwa ayah ibu saya sudah meninggal. Setelah diceritakan yang sebenarnya, seketika rindu ini sangat membuncah ingin bertemu dengan wanita yang telah melahirkan saya.

Saya pun bertekad mengumpulkan uang untuk membiayai perjalanan ke sana. Saya pun belajar mengutak-atik komputer dan menghasilkan sedikit uang dari upah reparasinya. Setelah 6 bulan, akhirnya saya berhasil mengumpulkan uang sekitar 3 juta. Uang itu saya belikan untuk tiket pesawat.

Setelah sampai di bandara dan tanya sana-sini. Akhirnya saya mendapati alamat yang benar. Terlihat sebuah rumah besar di depan mata saya. Saya melihat seorang lelaki tua yang sangat terkejut mendengar nama dan pengakuan saya. Dari raut wajahnya, tersirat sebuah penyesalan dan rasa malu yang mendalam. Saya pun disambut baik oleh nenek, paman bibi, serta saudara lainnya. Namun sayang, saya tidak mendapati ibu saya di rumah ini.

Menurut cerita kakek, ibu kini berada di Singapura. Saya sangat kecewa mendengarnya. Akhirnya saya balik lagi ke Batam dan mengumpulkan uang untuk membuat paspor dan ongkos ke negeri Singa.

Tibalah saat yang ditunggu-tunggu. Saya tak bisa berhenti berfikir di kapal Ferry sembari bertanya-tanya, seperti apakah raut wajah ibu nanti. Tibalah saya di sebuah apartemen sesuai alamat yang diberi kakek. Jantungku makin tidak keruan saat mengetuk sebuah pintu.

Pintu terbuka lebar, tampaklah seorang wanita paroh baya sedang memegang gagang sapu. Tampaknya ia tengah menyapu rumah, di belakangnya ada 2 orang anak kecil. Saya pun menceritakan maksud kedatangan saya, bahwa saya mencari ibu saya.

Wanita itu tertegun. Dari sudut matanya terlihat butiran-butiran kristal. Berjatuhan satu persatu menetes ke bawah pipinya. Dengan terbata ia mengatakan bahwa ialah wanita yang saya cari. Saya pun seketika meraung menangis. Wanita itu memeluk saya. Wanita itulah ibu yang saya cari-cari selama ini.

Untuk berapa lamanya kami hanya bisa menangis. Sampai anak-anak kecil tersebut terganggu dengan kedatangan saya. Ibu pun menceritakan bahwa ia telah menikah lagi dan memiliki 2 orang anak. Saya pun diperkenalkan dengan suaminya.

Setelah menjumpainya, saya merasakan bahwa ibu masih sangat menyayangi saya. Namun, tentu saja saya tahu diri dan tidak ingin mengganggu kehidupan barunya. Sebulan kemudian saya pulang ke Batam dan melanjutkan hidup.

Kini saya sudah menikah dengan seorang gadis idaman. Kami mengontrak sebuah rumah, dan saya bekerja di sebuah kedai minuman ringan. Ibu sering mengunjungi kami sekali setahun. Hingga kini hubungan kami baik dan hidup tenang tanpa rasa benci dan dendam. (Diceritakan kembali oleh Fenny Ambaratih)

Respon Anda?

komentar