Besok Air Tak Mengalir, Butuh Air Call ATB di 0778-467111

364
Pesona Indonesia
Warga Tanjunguma memandikan anaknya, Sabtu (12/9). Air dari PT Adhya Tirta Batam (ATB), yang mengalir ke wilayah tersebut masih terus macet pada waktu-waktu tertentu sehingga untuk mencukupi kebutuhan terhadap air bersih, warga disana mengakui terpaksa menampung air di  malam hari. f, Iman Wachyudi/ Batam Pos
Warga Tanjunguma memandikan anaknya, Sabtu (12/9). Air dari PT Adhya Tirta Batam (ATB), yang mengalir ke wilayah tersebut masih terus macet pada waktu-waktu tertentu sehingga untuk mencukupi kebutuhan terhadap air bersih, warga disana mengakui terpaksa menampung air di malam hari. f, Iman Wachyudi/ Batam Pos

batampos.co.id  – PT Adhya Tirta Batam (ATB) menyediakan 15 truk tanki air untuk melayani pelanggan yang terdampak penggiliran di kawasan Sekupang, Tiban, dan Tanjunguma. Namun ATB tak menjamin mampu langsung melayani semua permintaan air.

“Mungkin antre, tapi kami pikir bisa terlayani karena satu mobil dalam sehari bisa melayani hingga lima trip pengiriman air,” kata Corporate Communication Manager PT ATB, Enriqo Moreno, Jumat (18/9).

Bagi warga yang membutuhkan air bersih, ia mempersilakan untuk menghubungi call center 0778-467111 untuk meminta kiriman air lewat tanki air. Namun layanan ini difokuskan pada pelanggan yang mengalami kendala air bersih akibat pemberlakuan penggiliran.

Pelanggan yang terkendala ada di kawasan Tanjungpinggir, Tanjungriau, Patam, Tiban, Baloi, dan Tanjunguma. Sebab, ATB memberlakukan pemadaman aliran air di kawasan tersebut pada setiap Kamis dan Minggu dan sudah dimulai pada Kamis (17/9) lalu.

Kebijakan ini merupakan sistem baru water rationing supply oleh ATB. Jika sebelumnya rationing dilakukan dengan mengurangi jumlah produksi air baku sekitar 30 persen, kini ATB mencoba cara lain dengan menggilir jadwal hidup dan mati proses poduksi air di instalasi pengolahan air (IPA) atau water treatment plant (WTP). Untuk tahap awal, ATB memberlakukan kebijakan ini untuk IPA Seiladi dan Seiharapan.

Enriqo mengakui, pola ini juga memiliki kelemahan. Di antaranya, bagi pelanggan yang tempat tinggalnya berada jauh dari WTP, diperkirakan tak akan langsung bisa menikmati aliran air usai mesin produksi dihidupkan lagi. Ia memperkirakan, pada beberapa wilayah terutama yang di hilir, akan merasakan dampak berupa kondisi mati air yang mungkin lebih lama, misalnya hingga satu hari.

Meski demikian, pihaknya meminta warga yang terdampak agar bersabar sembari menunggu proses pengerjaan peningkatan kapasitas aliran air ke daerah tersebut. “Program kami untuk menambah pipa terus berjalan, dan mungkin baru selesai sekitar dua minggu,” kata Enriqo.

Benar saja, pola baru penggiliran pasokan air ini menuai protes. Sebab, hingga Jumat (18/9) kemarin, sejumlah warga di kawasan Tiban dan sekitarnya tetap tak mendapatkan pasokan air bersih dari ATB.

Seperti yang dialami warga Tiban Kampung Atas, Idham yang mengaku air belum mengalir ke rumahnya hingga Jumat (18/9) petang.

“Ini kok malah dua hari air tak mengalir sama sekali, seperti ini kan menyusahkan kami,” ujar Idham, kemarin.

Menurut dia, pada pola rationing sebelumnya air tak mengalir ke wilayahnya hanya sekitar setengah hingga maksimal satu hari. Namun, saat ATB mengubah pola rationing dengan mematikan IPA setiap hari Kamis mulai pukul 00.00 dini hari dan dinyalakan lagi pada Jumat dini hari, air tak kunjung mengalir ke rumahnya yang memang berada di dataran tinggi.

“Jadi kami tidak memperkirakan, sehingga stok air pun kurang, mau mandi susah sekarang,” kata dia.

Karena itu, ia meminta pihak ATB agar meninjau ulang pola rationing yang diberlakukan tersebut. Pasalnya, ia khawatir jika mengikuti pola rationing yang baru, yakni mematikan IPA selama 24 jam penuh setiap hari Kamis dan Minggu, maka air tak mengalir ke wilayahnya selama empat hari dalam seminggu.

“Kamis dan Jumat mati, lalu misalnya Sabtu mengalir, Minggu dan Senin mati lagi, jadi dalam seminggu kami cuma dialiri air tiga kali,” urainya. (rna/bpos)

Respon Anda?

komentar