Air Mati Bergilir, Pengusaha Kecewa pada ATB Batam

500
Pesona Indonesia
Jadi Rajagukguk, Ketua Kadin Batam. Foto. dok Batampos
Jadi Rajagukguk, Ketua Kadin Batam. Foto. dok Batampos

.co.id – Pelayanan PT Adhya Tirta Batam (ATB) beberapa bulan terakhir ini tak hanya mengecewakan pelanggan rumah tangga, tapi juga pelanggan bisnis maupun usaha besar. Bahkan, sejumlah investor yang usahanya membutuhkan air bersih kini resah.

“Kita hanya ingin tahu apa sebenarnya permasalahannya dan meminta pertanggungjawaban dari ATB karena pengusaha dan investor resah,” kata Ketua Kamar Dagang Industri (Kadin) Kota Batam, Jadi Rajagukguk dalam diskusi terbuka dengan Badan Pengusahaan (BP) Batam dan ATB, kemarin (22/9) di kantor Kadin Batam.

Sayangnya perwakilan dari ATB tidak datang memenuhi undangan Kadin Batam. Sedangkan BP Batam diwakili oleh Direktur Pengelolaan Air dan Limbah BP Batam, Tato Wahyu.

Salah satu pengusaha yang resah adalah pemilik PT Mazda Motor Indonesia, dealer resmi Mazda Batam, Rusli. “Sudah tiga bulan kami berlangganan air dari luar karena air dari ATB tidak mengalir lagi,” kata Rusli yang juga merupakan Wakil Ketua Bidang Otomotif Kadin Batam.

Rusli sempat memperlihatkan video miliknya mengenai permasalahan ini. Di dalamnya terlihat pipa ATB yang sudah terlepas dari sambungannya beserta meteran air. Kemudian Rusli menghidupkan meteran dan yang keluar dari pipa tersebut bukanlah air tetapi angin.

“Air tak jalan, malah tagihan bertambah. Ketika jalan, tagihan air sekitar Rp 700 ribu sampai Rp 1 juta, setelah tak ada air, malah bengkak sampai Rp 3 juta,” kata Rusli.

Rusli juga mengatakan sudah menghubungi call centre ATB hanya untuk mendapatkan jawaban “tunggu saja hujan” dan “mungkin ada kebocoran pipa”. “Dalam tiga bulan ini tidak ada pegawai ATB yang datang untuk menangani komplain dari dealer Mazda,” ungkapnya.

Menanggapi hal itu, Jadi mempertanyakan bagaimana cara ATB melayani masyarakat dan juga mengenai kepastian hubungan kontrak kerjasama antara BP Batam dan ATB, karena sepertinya ATB bertindak sewenang-wenang sebagai perusahaan yang mendistribusikan air bersih.

Tato yang hadir dalam pernyataannya terlihat membela ATB Batam dengan mengatakan permasalahan sebenarnya berasal dari debit air yang banyak berkurang karena musim kemarau yang panjang.

“Debit air kita berasal dari hujan, dan BMKG mengatakan hujan baru akan terjadi pada Maret mendatang, sehingga masyarakat harus pintar behemat,” jelasnya.

Tato menambahkan tiap tahunnya pelanggan naik sekitar 10.000 sampai 15.000 sehingga kebutuhan air bersih meningkat dengan sendirinya.

Dalam perannya, BP Batam merupakan penyedia air baku yang menyuplai ke ATB dan ATB sebagai mitranya sejak 1995 mengelola air bersih dan mendistribusikannya kepada masyarakat.

“Saya hanya melihat ATB dan BP Batam gagal dalam menjalankan fungsinya. BP Batam dapat retribusi dari ATB, namun kebalikannya untuk ATB kepada masyarakat,” jelas Jadi.

Menanggapi hal itu, Tato mengaku saat ini memang tak ada pilihan lain selain menunggu datangnya hujan.”Sejumlah dam menyusut begitu juga dengan dam utama, dam Duriangkang,”ujarnya.

Saat ini, suplai air di Batam mencapai 3820 liter perdetik dengan kebutuhan masyarakat Batam mencapai 3200 liter sampai 3400 liter perdetik, menyisakan cadangan sekitar 420 liter perdetik.

Namun, suplai air tersebut dipasok dari dam utama di Duriangkang. Untuk daerah Sekupang, belum ada pipa interkoneksi langsung untuk mengalirkan air baku ke Sekupang sehingga terpaksa mengalami kebijakan rationing.”Kalau mau diadakan, terpaksa harus dibongkar dan makan banyak biaya, dan butuh waktu,” kata Tato.

Saat ini, suplai air dari dam Sei Harapan sangat kecil karena mengalami penyusutan sampai 3.5 meter dan tinggal menyisakan setengah meter lagi tampungan air.

Sedangkan dam Tembesi yang rencananya akan dioperasikan tahun ini ternyata belum berjalan sama sekali karena masih dalam tahap prastudi kelayakan, padahal anggaran sudah ada.”Airnya asin karena diambil dari laut dan belum bisa diolah,” jelas Tato.

Tato juga mengungkapkan saat ini BP Batam tengah berkoodinasi dengan perusahaan Korea membangun instalasi pengolahan air limbah menjadi ai

r bersih di Bengkong, namun tentu saja butuh waktu mewujudkannya.

Mendengar penjelasan tersebut, Jadi mengambil kesimpulan BP Batam juga harus bertanggung jawab karena membuat para pengusaha resah.

“Kami juga akan melayangkan somasi kepada ATB, menyurati menteri Rizal Ramli terkait permasalahan ini dan mencoba bantu cari pengganti ATB untuk kelola air Batam,” katanya.

Sedangkan pihak ATB yang dikonfirmasi Batam Pos lewat Humasnya, Enrique Moreno mengatakan sudah mengunjungi warga dan pengusaha dan menyampaikan kendala mereka.”Kami sudah membentuk tim fast force untuk sosialisasi mengenai hal ini, dan tinggal hubungi call centre 4676661,” katanya.

Enriqo mengakui kesulitan yang dialami ATB ini murni karena keadaan alam. Masyarakat juga harus mengerti kalau ATB tidak didesain kirim air dengan mobil tangki.”Kita mendesain pendistribusian air lewat pipa, jika ada kesalahan teknis baru kami gunakan mobil tangki,” jelas Enrique.

Lagipula mobil tangki yang ada pun terbatas, dan jika pengiriman datang saat malam atau besoknya, maka masyarakat harus mengerti dan bersabar. (leo/bpos)

Respon Anda?

komentar